
Aku dan Ridho nggak jadi pulang naik bus tengah malam. Kita jadinya nyari orang yang namanya pak Sarmin. Bukan Sarimin ya, bukan. Awas loh jangan salah sebut, ntar yang punya nama bisa marah.
Setelah pada ngopi-ngopi dan ngisi perut dengan mendoan panas yang enak dan bikin nagih itu pun kita bareng-bareng pergi ke rumah pak Sarimin, eh pak Sarmin
Moon maap. Oh ya, kita pergi itu udah bayar makanan di warungnya mbak Luri ya. Semua dibayarin sama kangmas, termasuk yang dimakan atau diminum bang Muklis dan Perdi.
Betewe, ada yang nanya gimana nasib tiketnya yang bikin Muklis rela antri dan bikin gempor kaki? jawabannya ya cuma dikantongin sama Ridho, noh ada di saku belakangnya!
Aing sih pengennya ngelelang itu tiket, tapi kangmasku ini nggak sabaran pengen ketemu sama pak Sarimin, elah pak Sarmin! Ini mulut suka banget belibet. Balik lagi ya, aing pengennya tiket itu bisa dijual lagi, kan lumayan nggak mubadzir. Tapi mau gimana lagi, calon imam keluarga mintanya begonoh kan ya sudah kita turutin saja ya. Itung-itung latian lagi jadi istri yang sholekha.
"Dho, kamu yakin orang itu bisa bantu kita?" tanyaku, sambil bonceng dan meluk babang gantengku dari belakang.
"Ya yakin sih belum, Va! tapi liat dulu aja. Nggak mungkin kan kita nanya ke Neng Luri,"
"Apaaaaaa?? tadi bilang apaaaaaaaaaa?" aku setengah tereak.
"Astaghfirllah, panas Va ini kuping ditreakin!" protes Ridho.
"Lagian tadi cuma kesrimpet doang elaah. Jangan marah-marah mulu napa, Va! ntar cepet keriput!" lanjut Ridho.
"Dengerin aku dulu. Maksudku, masa iya kita nanyain ke mbak Luri. Kan nggak enak, ibarat kita kayak buka luka lama dia gitu, Va! bagaimanapun kejadian itu kan bagian terburuk dari hidupnya," Ridho ngecepres lagi.
"Vaaaaaaa?" Ridho manggil, karena daritadi aing diem-diem bae.
"Jangan ngambek ah, tambah jelek tau! lagian, kita kesini kan atas kemauan kamu, Va. Buat nolongin temen kamu, aku cuma bantu kamu buat ngejalanin misi kamu itu. Lagipula, daripada kamu minta bantu pak Karan, kan lebih aman sama aku, Va!" jelas Ridho.
"Iyaaaaa..." aku kencengin tautan tanganku di perut Ridho. Karena udara yang dingin banget walaupun aku udah pakai jaket, tetep aja anginnya kayak nembus ke kulit gitu.
Jadi sebenernya udah jelas, nenek Darmi mau bantu aku waktu tersesat di hutan itu mungkin karena permintaan Karla. Dan Karla mau mendesak neneknya mungkin karena bucinnya dia sama Ridho yang mohon Karla supaya mau bantuin aku keluar dari jeratan para demit. Ditambah lagi, dia belum tau kan kalau Ridho nggak ada perasaan apa-apa sama dia.
Dan setelah semua jelas, nenek Darmi mana mau bantuin aku. Tapi tuhan punya jalan lain, ternyata dengan perginya kita dari rumah bu Wati kita ditemukan juga dengan orang-orang baik macam bang Muklis dan bang Perdi. Aku berharap banget pak Sarmin bisa ngebantu mbak Sena keluar dari hutan terlarang itu.
Tanpa sadar motor yang kita naikin udah sampai di tempat tujuan. Bang Muklis dan bang Perdi udah turun dari motornya.
"Ini rumahnya, Bang?" tanya Ridho yang turun dari motor setelah mastiin aku udah napak tanah duluan. Dia ngegendong tasnya lagi di punggung.
"Iya, ini rumahnya!" jawab Bang muklis.
"Oh ya, kuncinya, Bang! takut lupa!" ucap Ridho seraya nyerahin kunci motor.
__ADS_1
"Oh ya, ini buat bang Muklis dan juga bang Perdi. Gimana baginya terserah," ucap Ridho yang ngasih lembaran-lembaran duit.
"Makasih, Mas!" ucap bang Muklis yang nggak ngitung berapa yang dikasih, dan mengamankan duit itu ke dalam kantongnya.
"Kita coba ketuk pintunya, Mas!" ajak bang Muklis.
kita berempat pun akhirnya nunggu di teras rumah yang lumayan sederhana itu. Jauh dari kata mewah pokoknya. Ya rumah-rumah biasa pada umumnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamaualaikum!" ucap bang Muklis.
Bang Muklis ini baek banget loh, dia nggak main ninggalin kita gitu aja. Tapi dia bener-bener mastiin sampai kita bisa ketemu sama pak Sarmin.
Tok!
Tok!
Tok!
"Lagi sholat kali, Bang! tunggu aja dulu," ucap bang Perdi yang duduk di kursi di teras, aku dan Ridho juga ngikutin. Abisnya pegel berdiri mulu.
"Oh iya, yah bisa jadi. Pinter kamu, Per!" ucap bang Muklis.
"Ya iyalah pinter! kalau nggak pinter mana mungkin aku bisa dapetin cintanya Maemunah kan dulu kira saingan berat, Lis!" ucap bang Perdi.
"Suka ungkit-ungkit masa lalu nih si Perdi! aku plintir bau tau rasa!" bang Muklis udah ngepalin tangannya.
"Selow, Lis! Selow, kita kan sohib!" Perdi minta berdamai.
Astaga, ini kang ojek ternyata mantan saingan dalam urusan percintaan. Tapi bisa akrab lagi kayak orang yang nggak punya masalah.
Dan sewaktu perdebatan tiada akhir itu terjadi pintu utama pun dibuka perlahan oleh pemiliknya.
Kriieeeet!
__ADS_1
"Waalaikusalam! Muklis...?" ucap seorang bapak- bapak sekitar berusia 60 tahun.
"Malem, Pak haji!"
"Ada ap, Lis? tumben malem-malem kemari? mau nanyain Luri lagi?" tebak pak Sarmin, dia masih pakai sarung dan juga baju koko.
"Heheheheh, untuk kali ini nggak pak haji. Saya kesini mengantar seseorang, katanya pengen ketemu sama pak haji,"
"Siapa, Lis?"
"Itu, pak haji orangnya..." ucap Muklis sembali menunjukku dan Ridho dengan jempolnya, sopan.
Pak Sarmin itu dikenal dengan sebutan pak haji, nggak tau asal usulnya gimana. Tapi daritadi bang Muklis nyebutnya begitu. Ya udah kita mah ikut aja ya.
Pak Sarmin menghampiri kita yang kini berdiri dan menjabat tangan pak Sarmin secara bergantian.
"Malam pak haji," ucap Ridho.
"Malam," sahut pak Sarmin setengah bingung, menatap kami bergantian.
"Maaf, mas sama mbak mencari saya ada apa, ya? karena sepertinya saya tidak mengenal kalian..." kata pak Sarmin.
Ya jelaslah nggak kenal, kan kita dari negeri antah berantah yang tiba-tiba aja ada dimari, Pak.
"Ah ya, perkenalkan saya Ridho dan ini Reva..." ucap Ridho.
"Kami datang kemari ingin silaturahmi sekaligus ada hal penting yang ingin kami tanyakan..." lanjut Ridho agak ngerem omongannya ya.
Melihat gelagat Ridho yang kayaknya pengen bicara lebih privacy, membuat bang Muklis dan bang Perdi memutuskan buat pamit.
"Biar ngobrolnya lebih enak, kami pamit dulu pak haji..." ucap bang Muklis yang peka banget ama situasi kayak beginian.
"Pamit pak haji..." bang Perdi ikut-ikutan.
"Mari, Mas ... Mbak..." ucap bang Muklis pada kami, aku dan Ridho kompak ngangguk.
"Makasih, bang Muklis. Bang Perdi..." ucap Ridho.
Dan setelah kedua tukang ojek itu meninggalkan kami, pak Sarmin menanyai kami kembali.
__ADS_1
"Jadi ... nak Ridho dan Reva kemari ada keperluan apa, ya?" tanya pak Sarmin yang aku yakin udah penasaran banget karena didatengin tamu tak dikenal.
...----------------...