
Satu bulan kemudian...
Kehidupan rumah tangga kita alhamdulillah normal-normal aja. Di kantor juga udah pada tau lah kalau Ridho itu suami yang punya perusahaan tempat mereka bekerja. Dan ada kabar baik pula ternyata. Malam ini ada undangan acara pertunangan antara adek sepupu dengan seseorang yang memiliki level kekayaan yang sama dengan dia. Kalau nggak salah baca, nama tunangannya Kanaya.
Aku nggak begitu kepo darimana datangnya Kanaya, bisa membuat seorang Karan Perkasa akhirnya mau menjalin hubungan percintaan. Mungkin bisa jadi hubungan mereka hanya berlandaskan kepentingan bisnis. Tapi nggak usah suudzon begitulah ya, hidup kita aja udah ribet ngapain ngurusin idup orang lain. Tambah puyeng kepala aing yang ada.
"Udah siap?" tanya Ridho.
"Bentar, lagi nyari anting..." kataku yang bingung mau lilih yang mana.
"Lah, ini anting segambreng. Mau yang mana tinggal ambil, kan?" Ridho jongkok di sampingku yang duduk di kursi meja rias.
"Cowok mah nggak bgerti, ini anting banyak emang tapi kan harus dicocokin dong sama kalung dan cincinnya," kataku yang tiba-tiba aja sebel liat muka suami sendiri.
"Yang ini nih bagus," Ridho nyoba ngambil satu pasang anting.
"Nggak, nggak. Mana cocok sama warna gaun aku yang warnanya maroon?!!" kataku ngegas.
"Ya udah kamu milih sendiri, deh. Aku tunggu di bawah ya? acaranya jam 8, jangan sampai kita terlambat," kata Ridho yang tumben-tumbenan semangat berangkat ke acara pesta.
"Ya ya ya," aku cuma jawab sambil poles-poles muka dan cepetan masangin anting.
"Kok aku agak pusing, ya?" aku mijitin kepala.
"Tensiku pasti drop lagi nih, gara-gara ngurangin gula..." ucapku.
Ngeliat jam udah mepet, jadi aku nyamber tas dan buru-buru nyusulin kangmas di bawah.
"Ayo, kita udah telat niiih?!!" ucapku yang narik tangan kangmas.
"Pelan-pelan, Sayang. Kamu pakai hak tinggi, loh! nanti kamu bisa jatuh, Sayang..." kata Ridho memperingatkan.
"Iya iya, ya udah ayok..." jataku sambil narik tangan kangmas.
Malam ini acara pertunangan adek sepupu dilaksanain di sebuah hotel mewah, tapi hanya tamu undangan tertentu aja yang bisa masuk.
Mau masuk aja harus scan barcode, bener-bener nggak boleh ada penyusup yang dateng cuma buat makan gratisan.
"Hati-hati, Sayang..." kata Ridho yang lagi-lagi ngingetin.
"Iya, Mas..." kataku yang katanya Ridho mah selalu seksoy kedengeran di telinga.
Tamu yang hadir bener-bener nggak kaleng-kaleng. Please, Reva jiwa noraknya jangan keliatan disini. Makanannya udah pasti laziz, lezat abiess. Dam yang jelas nggak kayak nikahanku kayak waktu itu yang dihadiri para makhluk ghoib dari segala penjuru.
Iniah beneran orang yang lalu lalang, nggak ada tuh sejenis mbak Kun yang tau-tau dateng buat ikutan nyari jodoh. Semuanya clean.
"Selamat ya," ucapku pada adek sepupu.
"Hemm," dia cuma berdehem.
__ADS_1
"Selamat, pak Karan!" kata Ridho yang ikut menyalami pak Karan.
"Selamat, ya..." aku mencoba menyalami orang yang namanya Kanaya, tapi tanganku nggak di balas.
"Naya?!" panggil pak Karan yang melirik tunangannya yang kayaknya nggak suka dengan kedatanganku kesini.
"Hem, ya. Thanks," ucapnya
Astaga, dua orang ini sama aja ternyata. Aku nggak yakin deh hubungan mereka bakalan semudah itu.
"Selamat menikmati pestanya," kata pak Karan. Aku cuma bisa senyum aja. Ya abisnya gimana si tuan putri kagak welcome kan.
"Kalau begitu kami kesana dulu, Pak..." kata Ridho.
"Ya..." sahut pak Karan males.
Aku dan Ridho pun berbaur dengan para tamu yang lain.
"Astaga, apa orang kaya semuanya kayak gitu ya, Mas?" tanyaku yang semakin luwes denfan kata 'mas'.
"Ya nggak juga. Pak Bagas nggak kayak gitu sih,"
"Masa sih?"
"Iya, orangnya malah rada sengklek. Yang tau banget si Rimar tuh," Ridho malah ngegosipin bosnya sendiri. Ridho ambilin aku minuman yang berasa dan berwarna. Sedangkan aku, kayaknya lagi nggak kepengen makan apa-apa.
Padahal kan makanan yang disediain macem-macem, dan pastinya menggiurkan. Tapi nggak tau, mau nyebtuh makanannya aja nggak kepengen.
"Makasih," aku ambil gelas yang Ridho kasih dan mulai menyeruputnya.
"Kamu pengen apa biar aku ambilin," lanjutnya.
"Nasi uduk ada?"
"Ya elah, ini acara tunangannya bos besar. Mana ada nasi uduk, kamu ini ada-ada aja sih..." Ridho malah ketawa.
"Kok malah diketawain, sih?" aku sewot.
"Nggak, nggak Sayang. Maaf, bukan maksud ngetawain,"
"Terus apa? itu jelas-helas ngeledekin aku kok, tau akh?! aku mau pulang," seketika moodku ancur, aku letakkan gelas dan pergi menuju pintu keluar.
"Yang, Sayang...?!!" seru Ridho ngejar aku.
Setttt, dia nangkep tanganku, "Jalannya pelan-pelan. Nanti kalau kamu jatuh gimana?" ucap Ridho dengan sabarnya. Padahal aku usah sewot-sewot nggak jelas.
Akhirnya kita berdua pulang. Nggak sempet makan apa-apa, cuma minum itu juga cuma satu tegukan.
.
__ADS_1
.
Di dalam mobil.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Ridho.
Aku diem aja.
"Nasi uduk?" tanya Ridho lagi.
"Ngledekin?" aku memicing.
"Yassalaaam, siapa juga yang ngledekiiin? aku cuma nanya, Sayangkuuuu Revaaaaa..." Ridho geleng-geleng kepala.
"Udah nggak pengen itu!"
"Terus pengennya apaaa? mumpung kita lagi di jalan nih, banyak resto juga yang masih buka," Ridho ngeliatin aku sesekali kemudian fokus lagi ke jalanan.
"Sate ayam?!!"
"Sate ayam?" Ridho naikin alisnya.
"Kenapaaaa?" mataku memicing lagi.
"Nggak kenapa-napa, Sayang! oke, sekarang kita nyari sate ayaaam," ucap Ridho.
Nggak tau deh, hari ini si Ridho menjelma jadi spesies makhluk yang paling menyebalkan yang pernah ada di bumi. Mungkin efek kerjaan yang banyak banget, sampe hari sabtu aja aku harus meeting di luar kantor. Makanya aku jadi stress banget, nggak ada waktu buat me time. Apalagi, minggunya Ridho suka keluar kota juga. Biasa ngurusin kesejahteraan hatinya pak Bagas. Dia kan punya gebetan dimana-mana yang suka minta dibeliin yang aneh-aneh. Jadilah Ridho yang harus bolak-balik tuh nganterin barang-barang pesenannya. Kesel juga sih sebenernya.
"Mau yang dimana satenya?" Ridho nanya.
"Terserah,"
"Nanti salah lagi," kata Ridho.
"Ya yabg biasa kita beli aja," ucapku.
"Siaaaap, Ndorrrroooo..." kata Ridho dengan kalimat andalannya.
Jadilah dengan pakaian yang glamour kayak begindang, kita makan di warung sate ayam madura di pinggir jalan. Rasanya enak, apalagi bumbu kacangnya bikin nagih.
"Kenapa nggak makan?" aku nanya Ridho yang daritadi nganggurin nasinya.
"Nggak, lagi nggak pengen..."
"Kok mukanya gitu?" alisku bertaut.
"Lagi nggak enak badan," ucap Ridho.
"Jadi ini nggak mau?" aku nunjuk nasi Ridho yang masih utuh.
__ADS_1
"Nggak, Sayang..." ucap Ridho yang daritadi cuma minum jeruk panas.
Tanpa babibu aku serobot aja nasi yang ada di piringnya kangmas, daripada mubadzir.