
Kita tuh jadi orang teraneh yang pernah naik motor tau, nggak? Bayangin aja Ridho cuma pakai kaos dan helm cembung warna putih, sedangkan aku pakai helm full face-nya Ridho. Aneh banget, tapi ya mau gimana lagi? Daripada aku pakai helm ya onoh! Aku sih, Ogah.
"Dingin?" tanya Ridho waktu berhentiin motornya pas lampu merah.
"Lumayan,"
"Bentar lagi nyampe, kok..." kata Ridho, sebelum nancepin gasnya lagi
Sekarang udah jam 12 lewat, udara makin dingin dan suasana makin sepi. Nggak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang, jadi Ridho bisa tancap gas lebih kenceng dari biasanya.
Dan setelah naik motor sekian puluh menit akhirnya aku sampai juga di kontrakan. Aku turun dari motor.
Aku lepasin helm yang bikin leher jenjang akikah ini pegel dan aku kasih tuh ke Ridho, "Nih..." aku ngomong agak canggung. Ridho nyangkolin helmnya di kaca spion.
Aku lepasin jaket yang tadi ngebungkus badanku dan aku kasih ke pemilik aslinya, "Makasih udah jemput,"
Dia langsung pakai lagi tuh jaket, "Besok, jam 7 harus udah siap, ya? bawa baju ganti seperlunya aja," Ridho ngingetin.
Seketika moodku anjlok, "Iya, sebelum tidur aku siapin baju,"
"Nggak apa-apa kamu pakai cincin itu lagi? ntar jerit-jerit lagi ngeliat setan, awas jangan sampai jalan sambil kayang kalau ada yang nongol," sindir Ridho. Ucapannya itu menandakan otak Ridho udah beres, udah balik lagi kayak biasanya.
"Ya kan ada kamu..." aku ngomong lirih.
"Ya udah, aku masuk dulu. Sampe ketemu besok," aku langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Ridho baru pergi setelah aku udah bener-bener mengunci pintu.
"Semoga malem ini aku bisa tidur dengan tenang..." aku langsung pergi ke kamar.
Dan Mona ternyata udah molor, dia nggak tau kalau aku udah pulang. Mona tuh kalau tidur kebo banget, mungkin kalau ada getaran bumi sekalipun si Mona nggak bakalan bangun. Percaya, deh!
Aku yang udah mengalami kejadian di luar nalar malam ini pun memutuskan buat ngebersihin badan. Aku lepas cincin dan aku taruh di dalam tas.
Sebenernya kan mandi malem itu kurang baik buat kesehatan, ya? tapi kan tadi aku habis ketemu setan, jadi lebih baik aku mandi aja. Biar nggak ada yang nempel di aku.
Oh, yes! Diriku yang udah seger ini lagi gosok kepala pakai handuk. Tapi nggak tau kenapa, aku taruh handuk dan malah meraih mukena milik Ramona yang bertengger di hanger yang dicangkol di handle lemari.
Aku coba pakai, dan menghadap ke kaca. Tapi tiba-tiba aku melihat asap putih yang melintas di belakangku, "Astaghfirllah!"
"Hhh ... hhh..." aku langsung menengok ke belakang, tapi nggak ada apa-apa. Aku hanya melihat Mona yang lagi tidur menyamping.
"Emang banyak godaannya kali ya kalau mau memulai sesuatu yang baik?" aku bergumam sambil terus mengawasi kamar lewat pantulan cermin.
__ADS_1
Aku pakai bawahan mukena dan aku mulai menggelar sajadah, hal yang udah lama nggak aku lakuin.
Mendadak aku jadi inget kalau mama suka teriak nyuruh ibadah. Tapi aku mbelot terus, ngeles terus dan seharusnya aku nggak kayak gini. Harusnya aku nggak marah sama tuhan dengan apa yang udah terjadi di dalam kehidupanku dan mama.
Aku lupa kalau setiap orang punya rasa getirnya masing-masing. Aku lupa kalau, kita butuh jatuh butuh terluka untuk menjadi seseorang yang tangguh dan lebih dewasa.
"Bismillah," satu kalimat meluncur dari mulutku.
"Betewe ini aku mau sholat apaan, ya?" seketika aku merasa jadi orang terbego di dunia.
"Nggak apa-apa lah. Sekarang kenalan dulu sama mukenannya, sambil terus belajar..." aku menyemangati diriku sendiri.
Aku melepas lagi apa yang sekarang masih aku pakai, dan melipat kembali alat sholat itu.
Aku teringat pada sebuah benda yang berbentuk lingkaran yang membuat hidupku nggak tenang akhir-akhir ini. Aku membuka tas dan aku mengambil cincin batu merah.
Tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh, "Kok ada warna hitam?" aku memperhatikan warna batu yang terlihat berbeda.
Seketika aku melihat lingkaran dalam cincin itu dan melihat ukiran nama ilena. Di sudut batu berbentuk oval itu seperti ternoda warna hitam, tapi setelah aku gosok, warna itu nggak bisa dihapus.
"Aneh!" aku meletakkan lagi cincin itu ke dalam tas.
Dan aku beralih ke tempat tidur. Aku merasa sangat lelah hari ini, waktu udah menunjukkan 2 dini hari. Masih ada waktu buat merem sebentar.
"Va? kamu udah siap?"
"Siapa nih?" aku masih rada ngelantur, nggak ngeh juga siapa yang nelpon jam segini.
"Ridho, Va! Ridhooooooooo..." Ridho ngomong dipanjang-panjangin.
"Ya, kenapa, Dho? aku masih ngantuk, nelponnya 2 jam an lagi, ya?"
"2 jam pala lu peyang? ini udah setengah 7, mau jam berapa kita berangkatnya? pokoknya jam 7 kamu udah harus siap, nih bentar lagi aku ke kontrakan," Ridho langsung nutup telfon. Sedangkan sekarang aku baru inget kalau hari ini mau ke kampungnya si karet nasi pun langsung loncat dari tempat tidur.
"Ya ampuun! kok aku bisa lupa!" aku heboh sendiri nyari anduk.
Anduk udah ketemu, sekarang aku langsung pergi ke kamar mandi, tapi pintunya nggak bisa di buka, mungkin di dalam lagi ada Mona.
"Moooon? buka, Mooon!" aku gedor-gedor dari luar.
"Iya bentar, Mbak. Lagi shampoaaannn!" Mona teriak dari dalem.
__ADS_1
"Mooon ... gantian dulu, Mooooon!" aku teriak lagi.
Aku udah kayak setrikaan mondar mandir, dan seketika aku nepuk jidat, "Astaghfirllah, Aku belum siapin baju!"
Aku lari ke lemari dan ngambilin 3 pasang baju berserta jeroannya. Aku masukin ke tas jinjing yang ukuranya kecil. Saat semuanya udah beres, aku balik lagi gedor pintu kamar mandi. Sumpeh, ini Mona kalau mandi tuh lama banget, bisa angrem 1 sampai dua jam dia di dalam.
"Mooon? cepetan dong, Mooon!" aku gedorin pintu.
Dan tiba-tiba,
Ceklek!
"Mbak teriakan mulu kenapa, sih?" Mona keluar dari kamar mandi dengan rambut yang digulung anduk warna kuning.
"Mbak udah telat, Mon. Sorry, ya? ntar kamu masuk lagi aja, mau sejam dua jam bebas!"
Aku nggak ada waktu buat mandi selayaknya manusia, yang penting gigi disikat dan badan kena sabun. Udah selesai.
Aku keluar dari kamar mandi cuma 5 menit. Si Mona malah melongo, liat aku yang udah seger tapi rambut masih kering, plus udah pakai baju juga.
"Mbak? cepet amat mandinya?" Mona geleng-geleng kepala.
"Terpaksa, Mon! daripada kangmas mu merong-mering karena nunggu Mbak kelamaan, kan!" aku ngomong sambil nyisir dan mulai tancap bedak sekilo.
"Mmmuach," aku monyongin bibir pas udah ngolesin gegincuan.
Aku masukin tuh alat-alat lenongan kayak bedak dan gincu ke dalam pouch dan aku masukin ke dalam tas jinjing biar nggak repot.
Dan si Ridho kamfret pun nelpon lagi, aku langsung jawab, "Iya, aku udah siap! ini juga mau keluar," aku matiin telfon dan aku masukin hape ke tas selempang yang super trendi.
"Mon, Mbak berangkat dulu, ya?" kataku pada Mona yang lagi nempelin masker serum ke muka nya.
"Iya, Mbak! hati-hati," kata Mona.
Aku pun keluar rumah buat nemuin si kutu kupret. Dan aku melihat sebuah mobil terparkir di halaman kontrakan.
"Masuk, Va!" kata Ridho yang ngelongokin kepalanya dari kaca mobil yang terbuka.
"Mobil siapa yang dia pake?" ucapku dalam hati. Aku pun membuka pintu mobil bagian depan, samping kursi kemudi.
Setelah pintu mobil dibuka...
__ADS_1
"Sorry, kamu duduk dibelakang ya, Va!" dan ternyata si karet nasi udah ngejogrog duluan di samping Ridho.
...----------------...