
Pak Karan jalan di sampingku. Jalan doang nggak ngomong apa-apa. Cuma kan aing yang bingung nanti ketemu sama Ridho. Secara mereka kan berantem mulu kayak kucing ama guk-guk.
Sengaja aku jalan dilambat-lambatin minimal biar aku bisa mikir aku harus gimana.
"Kenapa muka kamu?" tanya pak Karan.
"Muka saya? emang kenapa muka saya? cantik seperti biasanya, kok!" aku nyautin pertanyaan pak Karan.
Dia cuma narik satu sudut bibirnya ke atas.
"Gini-gini, dirimu juga kesengsem sama aing kan, Pak?" batinku
Walaupun jalan udah diperlambat tetep aja, cepet nyampe ke kontrakan yang baru.
"Lama banget kamu, Va!" ucap Ridho yang nengok ke arahku saat aku baru nyampe di teras.
Senyuman yang tadinya tergambar di wajah kangmas, mendadak pudar.
"Jadi kontrakanmu disini?" tanya Pak Karan, sambil masukin tangan ke kantong celananya sedangkan matanya menelisik bangunan yang ada di depannya. Aku jalan mendekati Ridho yang banjir keringet perkara abis angkut-angkut barang. Tampangnya yang kayak gini malah keliatan lakik banget.
"Mas yang ini mau taruh dimana?" tanya Bara yang nunjukin satu kontainer box lumayan gede.
"Itu nanti aja, Bar! bantuin Mbak Reva bawa belanjaan ke dalem, kasian kerepotan dia!" kata Ridho.
Bara pun nurut aja apa kata Ridho. Kayaknya mereka berdua makin akrab.
"Sini, Mbak belanjaannya..." ucap Bara yang mengambil dua keresek besar dari tanganku.
"Makasih ya, Bar..."
Bara masuk ke dalem. Sedangkan pak Karan melihat isi mobil pick up yang masih ada beberapa barang yang belum terangkut.
"Ada apa Bapak datang kemari?" tanya Ridho nggak basa-basi.
"Kenapa memangnya? tidak boleh?" ucap pak Karan.
"Saya hanya ingin memastikan sepupu saya tinggal dengan layak, karena bagaimanapun tante Ivanna sudah memintaku buat menjaganya," lanjut pak bos.
Ridho jelas kesel banget sama jawaban pak Karan. Aku cuma bisa pegang tangannya, minta dia supaya bisa sabar. Emang mantan bos kita ini kan kelakuannya rada-rada sengak begitu ya. Kita mah rakyat kecil, ususnya harus panjang begitu. Walaupun mulut rasanya mau ngeluarin kata-kata sekebon binatang.
"Maaf kita tidak bisa menjamu dengan baik, karena kita baru saja datang dan mau beres-beres!" kata Ridho.
"Ayo, Va. Kita lanjutin lagi..." kata Ridho nunjuk beberapa barang yang ringan yang bisa aku angkat.
__ADS_1
"Apa perlu bantuan? saya bisa suruh beberapa orang untuk membantu kamu, Reva!" ucap pak Karan.
"Tidak perlu, karena kami hampir saja selesai!" serobot Ridho.
"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik," ucap Pak Karan, tujuannya jelas buat aku.
Mantan bos kami pergi begitu saja dengan mengibaskan tangan di sekitar hidungnya. Hal itu membuat Ridho berdecak, sedangkan pak Karan semakin jauh dan nggak keliatan lagi.
Dada bidang Ridho yang naik turun seakan menyiratkan kalau dia lagi di puncak emosinya.
"Kamu ngasih tau dia?" tuduh Ridho.
"Dih, ngapain? nggak ada urusan ngasih tau dia juga, Dho..."
"Ya kali aja kamu nggak suka sama tempat ini dan pengen ngikut sama dia," Ridho kemudian berbalik, tapi aku cegah.
"Nggak ada pikiran aku kayak gitu ya! aku bukan cewek matre. Aku emang suka duit, tapi nggak semuanya aku ukur dengan duit, Dho!" jawabku jujur.
Ya orang mana sih yang nggak suka sama lembaran-lembaran dooooit yang bisa membeli barang bahkan kenyamanan yang kita inginkan. Tapi balik lagi, itu bukan tujuan utamaku. Nggak dipungkiri dulu iya, dulu banget aku sempat tuh berpikir kalau pak Karan ini tipe-tipe lakik yang dingin dan pengen banget ditaklukin, secara tampang oke dompet apalagi.
Tapi dari semua kejadian yang aku alami, ada satu hal yang nyantol di otakku yang emang encer kayak propesooor ini, kalau disetiap kesulitanku ada Ridho yang selalu direpotin.
Ridho mandangin aku cukup lama, mungkin dia mau nerawang kejujuranku lewat tatapan mata yang memikat hati ini.
"Tapi dia nggak memandang itu!"
"Terus? kenapa aku yang repot?" aku mulai agak kesel ini.
"Kalau kamu ngajakin ribut mulu, mending aku cabut aja udah! percuma aku disini kalau kamu aja nggak yakin..." aku gertak Ridho dengan ngeloyor pergi gitu aja.
Lah, kok aing nggak dikejar? mau nengok ke belakang tapi tengsin. Ihhhh, gimana sih!
Akhirnya aku tetep aja jalan ke depan, meskipun tanpa tujuan. Pokoknya aku mau ngademin pikiran dulu deh. Mungkin kita berdua butuh ruang dan waktu buat berpikir secara dewasa.
Matahari bergerak naik ke atas, daritadi aku nyetopin kendaraan tapi nggak ada yang mau berhenti.
"Maaf," ucap seseorang yang tiba-tiba ada di sampingku.
"Harusnya aku nggak bersikap kayak anak kecil!" ucapnya lagi.
Aku diem, jual mahal. Padahal kalaupun pergi juga mau pergi kemana. Ke hotel? duitnya sayang.
"Vaaaa..." panggil Ridho memelas.
__ADS_1
"Apa?" aku nengok dengan tatapan sinis.
"Kita pulang..." Dia ngeraih tanganku dan mengajak aku buat ngikutin kemana dia melangkah.
Sepanjang jalan kita cuma diem, tapi genggaman tangannya nggak pernah lepas. Aku cuma bisa ngelirik dengan ekor mata, sosok yang ada di sampingku ini.
"Aku yakin kok, kamu bakal usaha buat masa depan kita..." batinku.
Setelah lumayan gempor jalan akhirnya kita sampai juga di kontrakan.
"Ya ampun, Mas Ridho Mbak Reva! kalian darimana aja, sih?" Mona berkacak pinggang.
"Lagi ngukur jalan, Mon!" sahut Ridho.
"Belum beres juga, malah pergi pacaran!" Mona kesel.
"Jangan galak-galak, Mon! ntar si Bara malah kabur!" lirih Ridho, tapi masih kedengeran ditelingaku.
"Bar, bantuin angkatin box itu!" seru Ridho yang ngelanjutin ngangkutin sisa barang yang ada di mobil pick up.
Di dalem kita langsung tata aja, biar nggak dua kali kerja. Kalau di rumahnya pak Burhan kan udah ada barang-barang kayak kursi, sofa. Nah kalau ini masih kosongan kayak bakso. Cuma ada tivi, kulkas kecil sama tempat tidur dan meja makan minimalis.
Nggak masalah lah, yang penting bangunanya masih lumayan baru dan juga agak luas.
"Minum!" ucapku sambil ngasih minuman satu-satu buat tiga orang yang udah glosoran di lantai beralaskan karpet.
"Makasih, Mbak!" ucap Bara sopan.
Kalau Mona dan kangmasnya udah keburu dehidrasi, mereka langsung buka botol minuman tenggak begitu aja.
"Besok kita beli kompor! untuk hari ini kalian deliverry aja dulu," ucap Ridho.
"Deliverry selamanya aja gimana?" usulku.
"Itu namanya males!" sahut Ridho.
"Bukan males, kita kan membantu perekonomian negara dengan cara membeli dari para pengusaha UMKM, kalau bukan kita yang membantu siapa lagi?" ucapku ngeles.
"Mau ada kompor nggak ada kompor, buat mbak Reva mah nggak ngaruh, Mas! orang kompor cuma buat masak air sama mie instant doang!" Mona buka aib aing di depan gebetannya dan juga kangmasnya. Dasar adik ipar minim akhlak.
"
...----------------...
__ADS_1