Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Nguping


__ADS_3

Oke, ini si Karla tidurnya ngerusuh banget dah!


Bugh!


Aku terguling dari kasur gara-gara ketendang perempuan satu ini.


"Aaaawwhhhh!" jidatku kepentok lantai.


"Ya ampun perempuan model apaan tidur ngelindurnya kebangetan! vhangke banget nih si karet! sshhh, aduh pinggangku!" aku coba bangkit sambil gosok-gosok pinggang dengan tangan.


"Aku yakin nih dia sengaja banget, bikin aku terjungkal kayak tadi. Kalau nggak inget aku numpang di rumahnya udah aku jambak nih manusia ondel!" aku ngedumel dalam hati.


Aku berdiri dengan memegangi pinggang yang masih sakit. Dan buat ngademin hati dan otal, aku milih buat ke dapur. Mau ambil air dingin, kebetulan aku haus juga.


Dan baru aja aku nutup pintu kamar Karla dari luar, aku denger suara orang lagi ngomong.


"Kayak suaranya pak bos," gumamku.


"Tengah malem gini ngomong sama siapa dah?" aku kepo pake banget.


Aku berjalan mengendap-endap kayak maling dan sedikit banyak aku mulai mendengar percakapan si bos.


"Jangan sampai nenekku tau kalau aku sudah selamat, aku akan memberikan kejutan tersendiri untuknya. Dan aku ingin dia juga merasakan penderitaan ibuku. Aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang," kata pak bos.


"Kau mengerti?" lanjut pak bos.


"Mengerti, Tuan..."


"Lagipula tidak ada satu orang pun yang mengetahui kalau saya pergi untuk menjemput anda, saya pastikan semuanya terkendali..." ucap lawan bicara pak bos. Aku merapatkan badanku ke tembok, aku bukan lagi nguping, cuma kebetulan lewat dan denger pembicaraan pak bos.


"Apa ayahku..." ucap pak Karan menggantung.


"Beliau sudah pulang dan ada di rumah, beliau sangat kehilangan anda..."


Pak bos tertawa getir, "Tapi aku tidak yakin,"


"Benar, Tuan. Beliau pulang setelah mendengar hilangnya anda dari perusahaan selama sebulan terakhir, mau tidak mau beliau harus mengambil alih semuanya sebelum keadaan perusahaan semakin kacau," jelas pria yang aku yakini orang kepercayaan pak bos.


Dan aku semakin menempelkan telingaku ke tembok, karena suara pak bos makin lirih dan sekarang malah nggak kedengeran.


"Udah selesai ngupingnya?" ucap pak bos yang tiba-tiba ngeloyor pergi ngelewatin aku yang masih nempelin kuping ke tembok.


"Eh, P-pak Karan ... emh, s-saya..." ucapku gugup.


Dia berhenti dan berbalik, menatapku dengan tatapan mautnya. Dia berjalan perlahan tanpa melepaskan pandangannya dariku.


"Mampusssss! lagian ngapain pakai kepo segala sih, Revaaaa Revaaaa...!" aku mengumpat diriku sendiri.

__ADS_1


Dengan susah payah aku menelan salivaku, saat badan pak bos hanya berjarak satu jengkal dari badanku. Aku nunduk, nggak berani ngeliat.


Dia mengangkat daguku dengan dua jarinya, "Apa yang ingin kamu ketahui, hah?"


"T-tidak ada, Pak. S-saya cuma nggak sengaja, s-saya cuma mau mastiin yang ngomong beneran pak Karan, bukan setan..." aku menatap wajahnya dengan perasaan takut, aku belum pernah melihat dia semarah ini. Rahangnya yang tegas dan matanya yang tajam, membuat nyaliku makin menciut.


Aku bergetar ketakutan saat pak Karan memegang rahangku secara paksa dengan satu tangannya, dia mendekatkan wajahnya sampai hidung kami bersentuhan. Matanya bagaikan pedang yang menusuk penuh amarah.


Sedangkan tanganku berusaha melepaskan tangannya yang mulai menyakiti tulang rahangku, "Emmhh!"


Aku makin takut saat satu tangannya memegangi kepalaku agar tidak bergerak, wajah kami hampir tak berjarak.


Namun tiba-tiba, dia melepaskanku begitu saja, "Ssssshhhiiiiittttt!"


Nafasnya terengah-engah, sedangkan aku hanya bisa menutup mulutku rapat-rapat agar suaraku tak terdengar orang-orang yang masih tertidur lelap malam ini. Mataku berkabut saat mendapat perlakuan kasar dari pria yang ada di depanku saat ini.


"Astaga, dia sepupuku! b-rengsek!" pak Karan meraup wajahnya, dan kini melihatku dengan tatapan yang berbeda.


"Maafkan aku dan pergilah tidur!" kata pak Karan yang meninggalkan aku begitu saja. Aku mendengar dia membuka pintu depan.


Bruk!


Suara pintu ditutup.


Dengan terburu- buru aku berjalan ke arah dapur untuk mengambil air.


Glek


3 tegukan air dingin cukup membuatku sedikit bisa lebih tenang. Aku menarik kursi dan duduk dengan sebuah gelas kosong yang masih aku pegang.


Aku menghapus air mata yang sempat menetes, semoga aja nggak ada yang denger kegaduhan tadi. Astaga, gara-gara sifat kepo ku aku hampir membangunkan singa yang sedang tidur. Aku meletakkan gelas diatas meja, dan kini menutup mataku dengan kedua tanganku.


"Huuufhhh, huuufhhhh..." aku coba atur nafas.


"Aku lupa kalau bagaimanapun posisiku itu tetap karyawan, sedangkan dia bosnya. Walaupun ternyata kami ada hubungan saudara tapi tindakanku tadi emang bener-bener kelewatan. Seharusnya aku nggak usah terlalu kepo sampai ikut dengerin pembicaraan dia dengan orang tadi," aku ngomong lirih.


Dan sekarang aku mendengar ada suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan ke arahku.


"Reva?" suara Ridho ngagetin aku.


"Eh, Dho..." ucapku yang buru-buru mengusap kedua mataku.


"Belum tidur?" tanya Ridho yang berdiri disampingku sambil ngelus puncak kepalaku.


"Aku udah tidur, cuma tadi kebangun haus pengen minum..." kataku.


"Oh, aku kira kamu nggak bisa tidur. Hoaaammh, ya udah aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Ridho yang masih kiyip-kiyip.

__ADS_1


Ceklek.


Bruk!


Aku denger pintu depan dibuka lalu ditutup. Aku yakin itu pak Karan yang masuk ke dalam rumah, kan kalau setan langsung nembus tembok tanpa harus repot-repot buka pintu segala.


Dan sekarang aku denger pak Karan buka pintu kamar tamu.


Aku bernafas lega, "Untung aja nggak jalan kesin, karena aku masih nggak enak setelah kejadian tadi..."


Ridho nongol dengan wajah yang udah seger, "Lah, masih duduk disini?" ucap Ridho.


"Laper apa gimana?" tanya Ridho sambil narik kursi dan duduk disampingku.


"Emh, iya lumayan..."


"Bikin mie instant mau nggak? aku bikinin, kebetulan aku juga laper banget," kata Ridho.


"Nggak apa-apa gitu? nggak enak sama bu Wati..."


"Bu Wati mah nyantai, dia udah bilang kok anggap di rumah sendiri," kata Ridho.


"Wajar sih ngomong gitu sama kamu, kan kamu calon mantunya," aku ngeledek Ridho.


"Beuuh, ngomongnyaaaaaa!" Ridho mencubit bibirku.


"Astaga, Ridho. Bibirku bisa jeding ini!"


"Mau bikin nggak? kalau nggak aku mau bikin satu aja," Ridho nawarin.


"Boleh deh," jawabku, lumayan juga ngeganjel perut yang udah mulai kosong.


Ridho bangkit dan mulai geratakan isi lemari di dapur.


"Kuah apa goreng?" tanya Ridho nunjukin mie instant yang ada di tangannya.


"Kuah," ucapku.


Manusia dengan rambut yang udah nggak keurus tapi level gantengnya malah makin naik setingkat dewa itu pun mulai memasak mie instant kuah. Nggak lama, akhirnya dua mangkok mie dengan potongan cabe rawit dan telor rebus pun tersaji di depan mataku.


"Nih, punya kamu..." kata Ridho.


"Makasih bestie..."


"Kok bestie sih? hubbie dong!" celetuk Ridho.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2