Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Tenggelam


__ADS_3

"Revaaa?" Ridho manggil lagi.


"Eh, gimana, Dho?"


"Ngapain di luar sendirian? jangan bilang bilang kamu mau nyemplung ke air terjun itu?" tanya Ridho.


"Aku ngeliat ada orang yang berenang sampai sana, Dho!" aku nunjuk air terjun yang deres banget.


"Orang? siapa? nggak ada orang, udah lebih baik kita balik ke tenda," kata Ridho.


Ya elah si Ridho nggak percayaan banget sih jadi orang. Jelas-jelas aky liat mbak Sena berenang sampai ujung air terjun itu.


"Jangan-jangan Mbak Sena juga tersesat di hutan ini?" batin ku meronta-ronta.


"Va? kok malah ngelamun, sih?" Ridho menyelipkan jari di sela-sela rambutku.


Aku cuma menggeleng sambil melihat ke arah air terjun yang sepertinya sangat dalam, gimana aku bisa ke sana sementara aku nggak bisa berenang. Aku mendadak lemes dan harapan buat secepatnya kembali ke alam nyata kayaknya cuma diangan-angan. Aku nangis.


"Loh, malah nangis sih? kamu kenapa, Va? apa yang kamu pikirin?" tanya Ridho, aku cuma menggeleng.


"Apa yang kamu sembunyiin dari aku, Va?" tanya Ridho lagi.


"Nggak ada, Dho ... hiks,"


"Masa sih? tapi air mata kamu nggak bisa bohong, ada sesuatu yang kamu khawatirin? iya?" Ridho masih aja nanya.


"Aku cuma takut, nggak bisa keluar dari hutan ini, aku takut kita semua akan terjebak selamanya disini? di hutan terlaris ini!"


"Terlarang, Va..." ralat Ridho.


"Iya, terlarang, Dho. Aku pengen pulang, aku pengen balik ke alam kita, Dho. Aku nggak mau disini," kataku sambil sesenggukan.


Dan tiba-tiba aja Ridho membungkam mulutku dengan sentuhan yang nggak aku prediksi sebelumnya. Aku cuma bisa ngeliat mata dia, sementara bibirku ditabrak sesuatu yang kenyel mirip jelly. Baru kali ini aku pengen waktu berhenti sejenak minimal satu jam ke depan.


Ridho menarik dan membawaku lebih dekat dengannya, sampai akhirnya.


Sreeeeeeeeet.


Srreeeeeeeeet.


Sreeeeeeeeet.


Ada sebuah sayatan melayang di lenganku, "Aaawwwwkkh!" aku memekik.


Ridho segera menjarak tubuh kami saat mencari sosok lain menyerangku secara tiba-tiba.


"Aaaakhhh!" aku memegang baju di lenganku yang robek.


"Reva, kamu terluka!" Ridho panik, dia melihat ke sekeliling.

__ADS_1


"Siapa kamu?" teriak Ridho.


"Aaaarrgkkk!" darah keluar dari lenganku ini.


"Hahahahhaahhahahaaha, kau pikir kau akan dengan mudah mengembalikan cincin itu, hah?" satu sosok kemudian muncul menarikku ke atas.


"Revaaaaaaa!" pekik Ridho yang panik saat melihatku sudah diatas dengan leher yang dicengkeram satu sosok yang kami temui di hutan ini.


"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannyaaaaaa!" ucap makhluk tadi yang kemudian melepaskan aku begitu aja.


Dan.


Byuuuurrrr!


Aku tercebur di dalam air yang lumayan dalam. Aku gelagapan, dan di dalam air aku melihat sosok menyeramkan itu mencengkram dan menarikku keluar.


"Uhuuuukkkn, uhukk!" aku terbatuk saat aku berhasil menghirup oksigen.


"Hey brengsek, lepaskan Reva!" kata Ridho.


Dan suara kegaduhan kita membuat pak Karan dan Karan pun berlari ke luar tenda.


"Revaaaaa!" pak Karan teriak saat melihat aku ada di udara dengan makhluk ini.


Sedangkan Karla tiba-tiba saja badannya bergetar dan pingsan.


Please Dho jangan kasih Karla napas buatan, pakai cara lain aja buat nyadarin tuh orang. Guyur pakai air kek, atau apa kek. Aku melirik ke arah Ridho, sementara pak Karan berlari sampai menerjang air.


"Turunkan dia, kau penunggu cincin batu merah! cincin itu milik ibuku, jadi urusanmu bukanlah dengan dia, melainkan denganku!" kata pak Karan lagi nego.


Kupret emang si Karla, aku lagi kejepit kayak gini kok ya dia sempet-sempetnya pingsan.


"Hahahahhahaha," suara makhluk itu melengking memecah keheningan malam ini.


"Mereka pikir mereka bisa menyelamatkanmu? takdirmu ada bersamaku!" kata sosok itu seraya menggoreskan satu kuku panjangnya di wajahku.


Byuuuurrrr!


Dan lagi-lagi, dia membawaku masuk ke dalam air, fix ini hantu dendam kesumat sama aing. A


"Aarrrrglllll," aku berusaha melepaskan tangannya dari leherku, dan saat ini aku bisa melihat bagaimana wajahnya yang terlihat sangat menakutkan.


"Hahahahahahah," di dalem air aku bisa mendengar suaranya yang melengking tajam.


"Aaarrrgrllllll!" aku masih berontak. Aku menggeleng, kaki ku menendang air. Aku udah nggak tahan, pasokan oksigenku makin menipis.


Dan sepersekian detik aku melihat Ridho ikut menyelam dan muncul dibelakang sosok itu, sementara aku merasa dadaku sangat sesak dan sakit bahkan aku ngerasa kalau aku udah meminum banyak air.


Aku melihat Ridho menarik makhluk itu menjauh dariku sebelum aku tenggelam lebih jauh. Dan tiba-tiba aja ada tangan yang menarik badanku ke atas dan aku bisa muncul ke permukaan.

__ADS_1


"Shhiiit! dia menghilang sebelum aku jadikan dia abu!" aku mendengar Ridho memukul air.


Sementara sekarang badanku melayang, digendong seseorang. Dan dia meletakkanku diatas tanah.


"Uuhuuuukkk, woooekk," aku memuntahkan air saat perutku ditekan.


"Ya, keluarkan seperti itu!"


"Uuhuuuk, woekk, uhukk..." air keluar lagi dari mulutku.


"Hhhh ... syukurlah!" Ridho mencoba menyangga badanku.


"Lebih baik kita kembali ke tenda," kata Pak Karan yang menarikku supaya berdiri.


"Reva biar sama saya, kamu urus Karla!" kata pak Karan.


"Tapi, Pak!" Ridho mencekal tangan pak Karan.


"Kalian kan dekat, jadi tidak masalah kan?" pak Karan udah ngangkat badan aku menuju tenda.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya pak Karan. Aku cuma bisa menggeleng lemas, dan sekarang pikiranku tertuju sama Ridho dan Karla.


Pak Karan naruh aku di deket api unggun yang apinya hampir padam. Dan nggak lama muncul Ridho yang mapah Karla. Ya elah si Karla baru juga ngeliat kayak gitu sekali aja udah pingsan, cemen banget dia.


"Kalian tunggu disini, aku akan cari kayu lagi," kata Ridho.


"Senter!" pak Karan melempar senter pada Ridho.


"Hati-hati," ucapku lirih, dan sekarang Ridho ninggalin aku bersama dengan pak Karan dan juga Karla yang malah nggak berguna.


"Kamu terluka?" pak Karan meluhat bajuku yang robek.


"Aaawkkh!" aku memekik saat melihat ada banyak luka di lenganku.


"Tunggu, aku akan ambil kotak obat!" kata pak Karan yang masuk ke dalam tenda. Baju kita berdua basah kuyup kecuali Karla yang kering kerontang.


Nggak lama pak Karan datang membawa sesuatu di tangannya.


"Tahan, ya!" pak Karan mulai mengoles luka ku dengan obat.


"Aaawkhhh! perih!" aku menjauhkan tangan pak Karan dari tanganku.


"Maaf, tapi kamu tahan sedikit lagi," kata pak Karan yang mulai mengobati luka di lenganku. Dan sekarang dia mengikat lenganku ini dengan kain kasa.


Dengan cekatan pak bos sudah menyelesaikan balutannya.


"Hey, Karla. Apa tidak ada petunjuk lain dari nenekmu?" tanya pak Karan pada Karla.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2