Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ada Yang Aneh


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju lift tangan kangmas setia mengisi sela-sela jariku. Tapi auranya agak beda nih, karena beberapa kali Ridho nengok ke sisi kiriku. Sedangkan posisi Ridho sekarang ada di sebelah kanan.


"Siang-siang Ridho nggak mungkin liat setan kan ya?" aku dalam hati.


Nggak ada lah setan siang bolong begini nongkrong di rumah sakit elit begini. Intinya Ridho nggak banyak ngomong sampai pintu lift tertutup.


"Kita pulang naik apa?" aku iseng nanya.


Ridho nggak jawab, kesambet nih orang. Please lah, aing capek belum apa-apa udah ada gangguan lagi dan lagi.


"Dhoooo..." aku sentuh pipinya.


"Eh, iya. Kenapa?"


"Kita pulang naik apa?" aku ngulang pertanyaan.


"Naik apa, ya?" Ridho malah balik nanya, sesangkan matanya tertuju pada tombol lift.


"Kamu kenapa sih, Dho? tombolnya kenapa diliatin terus?"


"Nggak ada apa-apa. Tombolnya bagus!" kata Ridho berusaha buat tersenyum.


Aku rasa ada hal yang disembunyiin Ridho, keliatan banget dia jawabnya asal ngejeplak aja. Dimana-mana tombol lift juga begitu bentukannya, nggak ada yang spesial. Kecuali tuh tombol terbuat dari berlian.


Nggak lama kita turun di lobby dan keluar dari lift. Ridho masih nggak ngelepasin tangan aikikah. Uh, pasti dia takut aku ngelirik cowok cakep.


"Duduk disini dulu, aku pesen taksi online!" perintah Ridho, dia nyuruh aku duduk di kursi besi tunggu di deket pintu keluar.


"Oh ya, mau mampir makan dulu? kamu kan belum makan dan ini udah siang," dia ngomong ke aku, tapi matanya tuh jelalatan kemana-mana. Aku auto nengok ke belakang. Kali aja ada ciwi-ciwi cantik yang kegatelan, ngegodain calon suami aing. Tapi nggak ada, maksudnya di belakang aku nggak ada yang mencurigakan. Cuma perasaan aja yang kurang nyaman gitu.


Bodo amat lah, pokoknya aing nggak mau bahas-bahas begituan. Segala hal yang berbau mistis aing udah nggak minat. Pengen hidup tenang, jadi aku nggak pengen nanya apa-apa tentang apa yang bikin Ridho kayak orang yang nggak fokus hari ini.


Oke, pulang dari rumah sakit aku putuskan buat makan di restoran khas makanan aceh. Cus markicus, kita berdua langsung pesen kendaraan buat menuju kesana. Buat aku sih nggak punya mobil nggak masyalah. Toh. sekarang ada aplikasi penyedia jasa layanan kendaraan beroda 4.


Jadi, aku sih fine-fine aja kalau kemana-mana sama kangmas pakai kendaraan kayak gini. Nah, lumayan kan dari dalam diri aing ada yang patut dibanggakan yaitu nggak mata duitan.


"Udah sampai, Mas!" ucap si supir taksi. Kita berdua turun setelah bayar tentunya.


Mulai turun dari taksi itulah, wajah Ridho yang semula kayak orang yang nggak nyaman mendadak rileks lagi.


"Masuk, yuk!" ajak Ridho.


Restorannya lumayan lagi rame karena kita dateng waktu jam makan siang. Tanpa babibubebo, kita pesen aja tuh ayam tangkap. Ayam yang ditangkep dadakan sebelum dimasak, canda!

__ADS_1


Kalau iya, yang ada kita makannya ntar 7 jam kemudian. Karena nungguin yang masak nguber ayamnya dulu yang kabur perkara ogah disulap jadi makanan.


"Kenapa? kayaknya sejak dari rumah sakit tuh kamu agak beda?" aku akhirnya nanya, karena penasaran.


"Kamu nggak ngerasa?"


"Elah, ditanya malah nanya balik? gimana sih?" aku sewot.


"Biasa ada yang ngikutin kita. Dia nebeng di taksi tadi, tepat duduk di samping supir..." kata Ridho.


"Terus, dia masih ngikutin kita sampai kesini?" aku waspada.


"Nggak ada. Dia kebawa taksi tadi..." ucap Ridho.


"Syukurlah!"


"Dari rumah sakit dia berusaha buat berkomunikasi dengan kita. Tapi aku pura-pura nggak denger, soalnya aku males kalau harus berurusan dengan makhluk pengganggu kayak gitu..." jawab Ridho.


"Tapi aku nggak ngeliat," ucapku bego.


"Ya jelaslah. Kan dimata kamu cuma ada aku, Sayang!" ucap Ridho yang nowel dagu lancip aing.


"Dih! tapi beneran kau nggak ngeliat. Cuma perasaan aja yang nggak enak,"


"Preet lah!"


Kayak gini mau jadi suami istri. Hadeuh, meni rame pisan nanti rumah masa depan kita.


Makanan datang, kita makan dengan khidmat. Sesekali Ridho ngelirik ke salah satu arah. Dia cuma geleng-geleng kepala.


"Kenapa tuh kepala, tengkleng apa gimana?" aku nanya setelah nyeruput es markisa yang sueeger.


Aku sih udah selese makan, tinggal ngabisin minuman yang ada di gelas.


"Nggak apa-apa, cuma ada yang lagi diikutin bocil..." kata Ridho.


"Yang mana sih?" aku kepo.


"Ada di meja paling ujung sebelah sana. Kayaknya dia tertarik sama anaknya yang masih balita, soalnya daritadi si hantu becandain anak itu mulu..." ucap Ridho.


"Uda ah, pulang aja yuk! dimana-mana nggak ada yang aman!" ucapku sambil beranjak.


"Lah gimana sih, tadi nanya tapi giliran dijawab malah sewot! dasar wanita!"

__ADS_1


"Mau kemana?" Ridho narik tanganku.


"Kita bayar dulu, baru pergi! ntar kita ditreakin yang punya lagi!" kata Ridho yang manggil salah satu pelayan buat minta bill.


Kita pulang ke kontrakan menjelang sore. Mona belum balik, biasalah anak gadis suka ngelayab sama temen-temennya.


"Aku tinggal, ya?" kata Ridho yang nyelipin rambut di belakang telinga aku. Berasa kek adegan film jadul.


"Jangan tinggalkan aku rhomaaa!" ucapku lebay.


"Mulai deh, lebay!" Ridho nyjbit hidungku yang udah dari orok udah mancung.


"Kalau ada apa-apa telpon aja!" kata Ridho.


"Ntar kamu dateng kesini kalau aku butuh bantuan?" tanyaku.


"Nggak, nanti aku suruh bu Yanti yang dateng kesini!" ucap Tidho nyebutin salah satu pemilik warung kelontkng deket kontrakan.


"Duuurjanaaaahhhh kamu, Dho!"


"Dha dho dha do, emang doremifasolasido? Sayang gitu sekali-kali!" protes kangmas


"Iya deh, Ayang! ntar aku telpon kalau aku butuh sesuatu," ucapku malu-malu. Ridho narik dua sudut bibirnya ke atas. Beuuh gantengnya bikin jedagjedug, deh.


"Ya udah aku pulang, ya?" kata Ridho yang dijawab anggukan sama aku.


Badan tegap itu berbalik, berjalan dengan coolnya keluar dari area kontrakan. Dan tinggalah aku di rumah ini sendirian.


Pintu sengaja aku tutup dan dikunci, terus aku masuk ke kamar buat mandi, ganti baju dan rebahan.


Sore-sore gini enaknya tuh ngemil sambil nonton drakor. Cuma kurang seru karena nggak ada Mona. Biasanya kita bisa mewek bareng kalau nonton bareng, lah ini jadi kurang seru karena nggak ada temen buat ngomenin setiap adegan yang menguras emosi.


"Mona nggak balik-balik, padahal udah mau maghrib!" aku mulai kesepian.


Tok!


Tok!


Tok!


Ada suara pintu yang diketuk.


"Baru juga juga diomongin. Udah nongol aja anaknya, panjang umur dia!" ucapku semangat buat bangkit dan berjalan menuju pintu depan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2