
Aku sempet tidur bentar, dan bangun saat adzan subuh berkumandang. Percayalah, hidupku setelah menikah lebih teratur daripada sebelumnya. Sebenernya aku juga pengen itu diajari ngaji sama kangmas, tapi apadaya badanku lagi lemes banget. Jadilah aku cuma tiduran sambil dengerin suara merdu dari bibir Ridho sampai akhirnya aku ketiduran lagi.
"Sayang? aku berangkat dulu, ya?" Ridho ngusap lembut pipiku.
"Emmh, berangkat?" aku melek dikit.
"Iya, berangkat kantor. Kamu kalau masih lemes mending nggak usah kerja dulu, nanti aku hubungin Arlin buat handle perusahaan, ya?" ucap Ridho.
"Aku berangkat, ada pertemuan penting siang ini," aku bangkit dan duduk ngumpulin nyawa dulu.
"Ya udah kalau kamu maunya kayak gitu, sekarang kamu mandi. Aku tungguin di bawah ya? nanti aku anterin,"
"Nggak usah, aku bisa nyetir sendiri. Nanti kamu telat berangkat yang ada dan si Bagas bakal nyap-nyap nggak jelas," kataku.
"Hahahah, udah biasa. Udah aku tungguin kamu, aku nggak mau kamu berangkat sendirian. Aku tunggu di bawah ya?" ucap Ridho yang menciumku sekilas.
Dia keluar dari kamar dan aku mulai mandi dan segera bersiap. Sebenernya badan lagi nggak enak, bukan yang mual pusing yang lumrahnya dialami ibu hamil, nggak. Aku cuma kerasa lemes dan nggak ada tenaga.
Karena insiden kehamilan ini, otomatis aku dan Ridho ngebatalin acara liburan. Karena kehamilanku yang masih sangat muda, beresiko untuk naik pesawat. Lagi pula, gimana mau liburan dengan badan yang lemes mirip kayak orang meriyang?
Tapi the power of make up emang luar binasah ya, muka pucet nan loyo sekarang keliatan lebih seger. Tinggal gimana aku ngatur mimik muka aja, biar nggak keliatan orang yang lagi nggak enak badan.
Aku turun ke bawah, dan ternyata mama udah masak lengkap dengan minuman panas yang udah tersaji di meja makan.
"Kamu ngantor hari ini, Sayang?" tanya mama.
"Iya, Mah. Ada meeting penting,"
"Sama orang?" tanya mama.
"Ya iyalah, Mah. Sama orang masa iya sama setan?" aku nyeletuk, sementara Ridho mah lagi asik minum kopi.
"Hussh, jangan ngomong kayak gitu. Kalau mereka merasa terpanggil gimana? dih, amit-amit," ucap mama.
"Ya udah, kamu sarapan dulu..." mama ngambilin aku nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi. Beuuh, si Ravel pasti iri kalau tau mama disini.
"Dho? kamu bisa nganterin Reva kan?" tanya mama.
__ADS_1
"Bisa, Mah. Emang Ridho sebgaja nungguin Reva, maksudnya biar berangkat bareng dan dia nggak usah nyetir mobil sendiri," sahut kangmas.
"Baguslah kalau begitu, sekarang kalian sarapan..." kata mama.
Sebelum pergi, kita berdua pamitan dulu sama mama.
"Reva sama mas Rido berangkat ya, Mah? assalamualaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam," sahut mama.
"Pulangnya jangan kesorean ya, Sayang?" suruh mama.
"Iya, Mah..."
.
.
Ridho nyetir mobilnya lebih hati-hati dari biasanya. Katanya menghindari guncangan, iya sesayang itu Ridho sama aku dan calon anak kita. Padahal aku tau, daritadi hapenya bunyi terus. Dan itu kalau nggak dari pak Bagas ya dari si Rimar.
"Iya, emang siapa yang nelfon?" tanya kangmas.
"Pas dicek nggak ada. Aneh, kan? aku juga baru ngeh nih pas tadi aku liat daftar riwayat panggilan telepon," aku nunjukin hape ke arah mas suami.
"Kenapa ya, mereka selaku ngejar-ngejar aku terus? kenapa nggak kamu aja gitu,"
"Ya nggak tau, Sayang. Mungkin aura kamu yang bikin mereka tertarik, karena kamu pernah pakai cincin terkutuk milik ibunya pak Karan," ucap Ridho.
"Ya walaupun mata batin kamu udah ditutup, tapi kan nggak bisa seratus persen. Itu juga udah lumayan kan? nggak semua makhluk nampak di mata kamu? cuma mereka yang punya energi yang kuat yang bisa menampakkan dirinya," lanjut Ridho.
"Perasaan di rumah nggak pernah ada, dan baru kali ini aja ada teror hantu kayak gini, Mas..."
"Nanti aku panggil ustadz ya? kalau perlu nanti kita gelar acara pengajian, supaya rumah kita lebih adem dan dijauhkan dari makhluk-makhluk ghoib kayak gitu," ucap Ridho.
Dan setelah beberapa puluh menit berkendara, akhirnya sampai juga di perusahaanku. Aku udah bilang kalau aku bisa naik ke ruanganku sendiri, tapi nggak. Ridho tetep maksa buat nganterin. Dia takut aku tau-tau pingsan di dalem lift atau gimana.
"Udah, ya? udah sampai di ruangan juga, nih..."
__ADS_1
"Aku bakalan pergi kalau kamu udah duduk di kursi kamu, Sayang..." Ridho maksa.
Ya tau perhatian tapi nggak gitu-gitu amat kali ya. Kesannya aku lagi sakit parah tau nggak.
"Jangan lupa nanti makan siang, dan kalau mau meeting di luar kamu harus sama Arlin. Nanti aku pesen ke Arlin supaya jagain kamu," kata Ridho.
"Iya iya mas suamiiiiiii, udah sana kamu ngantor. Pak Bagas pasti udah mencak-mencak di kantor," kataku.
"Selama ada Rimar, pak Bagas pasti aman. Tenang aja, Sayang. Ya udah aku pergi ya? nanti sore aku jemput lagi," ucap Ridho yang nggak pernah absen buat kecup keningku sebelum pergi.
Setelah kangmas udah keluar dari ruangan, aku baru tuh ngerasa kalau badanku rasanya nggak enak banget. Kalau bukan karena ada pertemuan penting, aku juga pengennya rebahan aja di kamar.
Dan pas aku iseng ngerogoh saku blazer, ada gunting lipet yang tau-tau ada di dalam sini.
"Gunting? pasti ini kerjaan mama nih," aku inget banget pas berangkat kerja, aku sempet meluk mama. Dan mungkin saat itu, mama naruh gunting ini di dalam saku blazerku.
"Kan aku udah bilang nggakau pake kayak ginian,"
Tiba-tiba aja Arlin masuk tanpa ngetok pintu, "Maaf Nona, pak Dera minta jadwal pertemuannya dimajukan. Kita punya waktu 20 menit lagi untuk bertemu di tempat yang sudah dijanjikan," ucap Arlin tergesa-gesa.
Aku yang ngeliat Arlin ngos-ngosan, ngantongin lagi tuh gunting di saku, "Ya udah kita berangkat sekarang. Pakai mobil kamu, saya nggak bawa mobil hari ini," ucapku.
Dan Arlin dengan sigap bantu aku yang mau berdiri, "Hati-hati, Nona..."
"Aku baik-baik aja, Lin..." ucapku.
"Ah, ya tapi kata Tuan, Nona sedang tidak begitu sehat, jadi saya disuruh untuk menjaga Nona dengan sebaik-baiknya," sahut Arlin.
"Tapi aku bisa jalan sendiri, Lin. Beneran deh," aku lepasin tabgan Arlin dan berjalan dengan nenteng tasku sendiri.
Kita berdua keluar dari perusahaan lebih awal, kita nggak mau kalau pak Dera sampai nunggu lama. Denger-denger dia orangnya ontime dan nggak suka sama orang yang suka ngaret.
"Lin, nyetirnya ngebut dikit napa," perintahku.
"Tapi, Nona---"
"Lakukan saja, Lin apa yang aku bilang," ucapku nggak mau dibantah.
__ADS_1