
Pak Karan nggak peduli itu neneknya lagi jejeritan tidak manja.
"Ck, apa sih?" aku nanya karena itu mata ngeliat ke aku terus. Apa yang salah coba.
Sementara Ridho nggak ngelepasin genggaman tangannya, kayak yang takut akikah kenapa-kenapa. Uh utututututu, mas pacarku emang to twit. Kita abaikan saja jomblo ngenes yang ngeliatin kita bae ya, Dho.
Nah, Pak Karan sekarang jadi turun tangan, dia dorong jidatku berapa ke belakang biar badan aku nggak nemplok begitu sama Ridho.
"Iri bilang, Bos!" aku dalam hati. Setelah badanku berjarak dengan Ridho, barulah dia ngeliatin neneknya yang lagi-lagi memekik.
"Aaaarrrghhhhh," teriak nenek Gayatri. Dia mulai menarik sprei yang berwarna krem, jadilah itu sprei jadi awut-awutan. Pak Ridwan sedang mengerahkan seluruh kekuatannya buat nih ngusir setan yang nempel ama si nenek.
Sedangkan pak Karan malah sesekali berdecak. karena apa yang diperbuat neneknya. Nih orang nontonnya nyantai banget, nggak ada raut kasihan sedikitpun di wajahnya. Bener-bener batu nih orang. Ya emang sih, neneknya udah kebangetan jahatnya. Dan anak mana pun ngeluat ibunya dijahatin, pastilah marah.
"Va? jangan uget-uget kayak cacing, geli!" kata Ridho di tengah situasi horor di kamar ini.
"Siapa juga yang uget-uget? nemplok di punggung kamu aja nggak!" aku kesel dong di tuduh kayak cacing kepanasan. Orang aku cuma pegang tangan doang, emang sih tadi sempet nempel bentar, tapi kan sekarang udah nggak.
Aku ngeliat nenek Gayatri udah mulai tenang, tapi si Ridho kok malah gerak-gerak mulu.
"Vaaaa ... bukan tempatnya!" Ridho lagi-lagi bicara ngawur.
"Apaan sih, Dhoooooo!" aku udah kesel banget inih sodara-sodara.
Ridho nengok dong ke belakang ngedenger aku yang udah gregetan sama dia.
"Astaghfirllah! awas, Vaaaaaa!" Ridho tereak sambil mau narik badan aku. Aku ngah-ngoh, nggak ngerti.
Tapi belum sempat Ridho bawa aku ke pelaminan eh maksudnya ke pelukannya, tanganku dan Ridho keburu terlepas. Tiba-tiba badanku seperti ditarik dan melayang ke atas.
"Aaaaaaaaakhhhhhh!" aku ngejerit. Dan semua orang yang ada di ruangan ini nutupin mulutnya, mereka kayak ketakutan gitu.
"Revaaaaaaaaaaaa!" pak Karan netiakin namaku, dia mendongak ke atas.
Aku kayak de javu. Kejadian kayak gini pernah aku alamin sama pak Karan waktu ketemu hantu Belevia.
Sekarang badanku dipontang-panting di langit-langit kamar.
"Heh, pusing bego!" aku protes sama nih hantu nggak beradab, aku mencoba ngeraih tangan dia yang ada di punggungku, namun sia-sia. Tangan aing kagak nyampe.
"Lepasinnn! aing tambah pusing diputer-puter macam gasing begini, combro!" aku teriak dengan mataku yang udah berkunang-kunang.
Habis aku marahin, dia ngelepasin aku gitu aja. Sontoloyo emang! Nih badan terjun dengan posisi kepala di bawah.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa!"
__ADS_1
"Revaaaaaaaaaaa!" Ridho dan pak Karan menjerit saat melihat aku yang mau terjun bebas.
Aku udah pasrah nih, aku tutup mata. Kalau emang hari ini emang takdirku harus wassalam duluan sebelum nikah sama ayang.
"Aku nggak mau jadi hantu penasaraaaaaaaan!" aku tereak sekenceng mungkin.
Dan...
Ternyata...
Hap!
Aku ngerasa badanku ditangkap seseorang. Aku masih nggak berani buka mata, takut-takut aku ini hanya fatamorgana sedangkan aku udah ditransfer ke alam baka. Sumpeh demi apapun, aing takut dengan kenyataan yang ada. Ayang embeb, ternyata takdir kita hanya sampai disini. Hatiku miris.
"Haisshh, buka mata!" ucap seseorang yang galak.
"Turunin Reva, Pak!" kata Ridho.
"Hah? gimana? Pak? jadi aing belum mati gitu?" aku buka mata dikit-dikit, dan ya benar aku sekarang ada di gendongan si galak dari gua hantu. Aku mengerjap beberapa kali.
"Pak, turunin Reva!" kata Ridho gregetan.
"Dia saja belum sadar! kamu tidak lihat? mukanya saja seperti orang linglung!" ucap pak Karan yang malah berdebat sama Ridho.
Aku menurunkan diri sendiri dari tangan kekar adek sepupu, walaupun kepalaku masih kliyengan.
Sementara pak Ridwan, dia mengucapkan sesuatu yang membuat hantu itu memekik dan akhirnya berubah menjadi asap.
"Aaaaaaaarrrhhghhhh!" itu suara yang terakhir terdengar.
"Akkhhh!" pak Ridwan memegangi dadanya lagi, dia sampai terjatuh. Mungkin energinya banyak terkuras melawan syaithonirrojim.
"Pak Ridwan!" pekik Pak Reynold.
"Asaaa! cepat kemari!" kata pak Reynold yang melihat pak Ridwan berdarah. Sementara nenek Gayatri sudah tenang, namun matanya begitu sayu.
"Reva jadi urusan saya, lebih baik Bapak membantu pak Ridwan. Sepertinya dia butuh pertolongan!" kata Ridho.
"Kalau begitu kamu saja! Reva kakak sepupu saya, jadi saya yang akan mengurusnya kali ini..." pak Karan tanpa aba-aba manggul aku di pundaknya.
Aku cuma bisa manggil Ridho lirih, " Dhoooo..."
Kepalaku sakit, dan yang lebih nggak enak ya punggungku ini. Padahal aku cuma disentuh, tapi tulang-tulangku berasa ngilu semua. Aku ngeliat Ridho ngejar aku yang entah mau dibawa kemana sama manusia yang tumben-tumbenan ngakuin aku sebagai kakaknya. Tapi kayaknya dia dicegah beberapa orang yang berjas hitam.
"Revaaaaaaaaaaa!" Ridho teriak karena melihatku semakin menjauh.
__ADS_1
"Heh, turunin aku. Kepalaku kliyengan! Aku mau pulang sama Ridho!" aku mulai berontak.
"Diem!"
Dia bawa aku keluar dari bangunan rumah megah ini. Dan masukin aku ke dalam mobil. Dia menutup pi tu dan berjalan memutar buat duduk di kursi kemudi.
Kesempatan mobil belum dikunci, aku pun ngebuka pintu dan keluar dengan susah payah.
"Kenapa keluar, masuk ke dalam! kita ke rumah sakit!" kata pak Karan yang nyamperin aku lagi.
"Saya tuh nggak kenapa-napa, lagian peduli amat Bapak sama saya?" aku ngomong udah mulai nggak aturan. Mataku mencari sosok Ridho.
Adek sepupu mepetin badanku ke body mobil. Dia natap aku dengan jarak yang cukup dekat.
"Bapak kesambet, ya?" aku mendorong sedikit badannya.
"Iya!"
"Hah? ya udah kalau gitu Bapak harus di ruqyah secepatnya!" aku berusaha keluar, tapi kedua tangan pak Karan melangin jalanku.
"Kamu yang harus di ruqyah!"
"Lha kok saya? Bapak yang kesambet kok saya yang di ruqyah? ngaco!" aku gelengin kepala, eh malah tambah puyeng.
"Ya pokoknya kamu!" pak Karan nempelin telunjuknya di keningku.
"Aih, nggak jelas!" aku makin nggak ngerti.
"Kamu yang tidak jelas!"
Tuh kan kata-kataku dibalik-balikin begini. Bikin kesel.
"Karena kamu tanpa izin dan dengan seenaknya jalan-jalan di pikiran saya!" kata pak Karan.
"Nggak ngerti, Bapak nggak makin ngawur!" aku berusaha pergi, tapi lagi-lagi nggak bisa.
"Ya memang! itu juga semua karena status kita yang ternyata saudara, mengerti?" pak Karan menatapku serius.
"Ya saya juga nggak minta apa-apa dari Bapak! walaupun kita saudara, saya juga nggak ngerepotin Bapak! malah Bapak yang sering nyusahin saya! bawa-bawa saya ke hutan, ketemu setan---"
Dan cap cip cup belandar kuncup!
Pak Karan nempelin bibirnya di keningku agak lama, lalu dia bawa aku kepelukannya.
"Seandainya kita bukan saudara..." katanya lirih, sedangkan aku masih shock hanya bisa pasrah dengan keadaan.
__ADS_1
...----------------...