Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Akhirnya Sampai Juga


__ADS_3

"Sembarangan aja nih kalau ngatain orang!" aku ngomong lirih sambil masukin hape ke dalam tas.


Aku kueseeel pol habis dapet telepong dari si bos. Mood yang udah bagus sekarang ambruk lagi dalam waktu sekejap.


"Ehem!" Ridho berdehem, tapi aku nggak peduli.


Aku masih mending ngeliatin pemandangan di luar daripada ngeliatin pemandangan di kursi depan. Apalagi pas jalanan nggak rata, terus kepalanya si karet ngejedot jendela, dengan manisnya si Ridho ngebenerin kepalanya tuh karet nasi biar nggak megleng dan kejedot lagi.


Aku nggak ada niatan buat komen, nggak ada. Biarkan mungkin mereka lagi kasmaran.


"Eh, Dho..." suara serak Karla terdengar, dia bangun dari molor panjangnya.


"Sorry, itu kepala kamu kebentur jendela tadi," kata Ridho.


"Oh, kita udah sampe mana?" karet nanya sama Ridho.


"Emang punya dua mata nggak bisa menangkap suasana di luar apa gimana, sih? kan bisa liat tuh kita ada dimana, kan dia sering ngelewatin daerah ini pasti. Sok iye banget! Suwer salah besar aku ikut hari ini," dalam hati, aku udah ngedumel bae.


Ini udah makan waktu 4 jam perjalanan, tapi belum nyampe juga. Mana perut udah kruyuk-kruyuk, dari pagi belum makan sama sekali. Karla lagi glatakan di depan, nggak tau ngambil apaan.


"Va? roti..." Karla nyodorin roti sama air.


"Vaaaa?" karet nasi manggil lagi.


Dan sesuai prediksiku Ridho langsung nyamber, "Va, kamu kalau dipanggil dijawab, kek!"


"Thanks!" aku nyamber roti dan air mineral dan aku taruh di jok sampingku.


Aku yang udah nggak kuat nahan laper akhirnya harus nurunin gengsi supaya tetep bisa hidup. Aku buka roti dan mulai masukin ke dalam mulutku.


Dan sekarang bunyi kresak-kresek berisik banget, kayaknya si Karla buka makanan ringan, maybe sejenis keripik-keripikan.


"Mau, Dho?" dia nawarin Ridho.


"Boleh,"


Dan Ridho yang lagi nyetir langsung dijejelin keripik sama Karla.


"Uhukk," mendadak aku keselek. Aku langsung buka air biar ini roti nggak nyasar ke tempat yang lain.


"Kamu kenapa, Va?" Ridho nanya sambil mulutnya ngunyah makanan.


Aku males ngejawab. Aku terus aja minum, sampai rasanya perutku jadi kembung. Sekarang mending merem dan balik lagi nyumpel kuping pakai headset.


Dan setelah kurang lebih 6 jam perjalanan, kita udah sampai di pekarangan rumah Karla.

__ADS_1


Karla dan Ridho udah buka pintu. Seketika hawa dingi masuk ke dalam mobil, hawa sejuk yang udah jarang banget bisa aku nikmatin.


Ridho buka bagasi dan noyor kepalaku dari belakang, "Va, bangun! kita udah nyampe,"


"Iish, nggak usah noyor-noyor deh, aku nggak suka!"


Entahlah moodku rasanya jelek banget, daritadi aku tuh pengennya marah-marah mulu. Sekarang aku keluar dari mobil sambil nenteng tas jinjing. Aku juga ambil roti dan air yang tadi sempat aku cicipi.


"Ayo, Va ... Dho," Karla ngajak kita buat masuk ke dalam rumah yang udah dibuka.


Rumah ini bukan rumah-rumah pada umumnya, ini tuh kayak rumah panggung tapi dengan konsep modern gitu. Agak menonjol lah dibandingkan dengan rumah lain yang ada di kampung ini.


Aku jalan mengekor di belakang punggung lebar Ridho.


"Assalamualaikum," Ridho ngucap salam sebelum masuk.


"Biyung..." Karla manggil emaknya, dan seketika sosok emak Karla pun muncul dihadapan kami bertiga.


"Karla?" Biyungnya Karla terkejut melihat kedatangan anaknya yang lenjeh itu.


"Biyung, kenalin temen Karla ... ini Ridho, dan ini Reva," ucap Karla. Biyung yang semula tersenyum pada Ridho mendadak tegang saat melihat ke arahku, "Astagfirllah!"


"Ada apa? Biyung?" Karla memegang lengan atas ibunya.


Tanpa menjawab pertanyaan Karla, wanita itu mendekat ke arahku, "Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?" tanya wanita itu padaku.


"Emh," aku nggak bisa berkata-kata.


"Ya sudah, kalau kamu belum ingin bercerita. Oh ya, lebih baik kalian istirahat dulu, Biyung akan siapkan makanan," wanita ini menepuk pundakku, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ridho dan Karla.


"Ayo, Va. Kamu istirahat di kamar aku..." Karla ngajak aku masuk ke kamarnya.


Sedangkan Ridho diantar ke kamar lain sama Biyungnya Karla


"Kenapa dia bisa melihat bekas tangan sedangkan aku nggak bisa lihat? tapi emang bener, aku habis dicengkram makhluk ghoib," ucapku dalam hati setelahbmasuk ke dalam kamar Karla yang girly abis.


"Aku keluar bentar, ya? kamu tiduran dulu aja..." kata Karla sebelum nutup pintu. Aku yang udah capek banget pun langsung terbang ke kasur empuk punya Karla.


Dan lagi enak-enaknya tiduran, hape ku bunyi. Aku yang udah pewe males banget buat bangun dan ngambil tuh barang dari dalam tas.


Bukan hanya sekali berdering tapi berkali-kali, sampai aku mau nggak mau harus angkat dan nyemprot orang yang daritadi nelponin mulu, "Halooooooo!"


"Heh, beraninya kamu ngebentak saya!" dan suara pria galak-galak serigala pun menyapa pendengaranku yang masih sangat baik ini.


"Eh, Pak Karan..." aku langsung panik, "Maaf, saya kira telfon dari asuransi,"

__ADS_1


"Berapa lama kamu menjelajah hutan?" tanya pak bos.


"Saya bukan lagi menjelajah hutan, Pak! waktu bapak telfon tuh saya memang lagi ngelewatin kawasan hutan. Dan kalau pastinya saya balik kapan, kalau saya nggak tau, Pak. Saya nggak bisa mastiin, soalnya disini saya cuma jadi penumpang gelap, Pak..." jelasku panjang lebar.


"Memangnya kamu kesana sama siapa?" pak bos mancing nih.


"Ridho sama Karla. Kita lagi di kampungnya Karla, liburan tipis-tipis, Pak!" aku asal jawab aja.


"Nggak mungkin kalian bolos kerja hari senin, kan?"


"Ya mungkin sampai hari minggu, Pak. Memangnya sepenting itu Bapak harus ketemu saya?" aku nempelin hape di kuping sambil jalan ke kasur lagi, dan rebahan.


"Ya penting karena saya penasaran dengan makna dari kain ini,"


"Atau Bapak sudah menemukan hobi baru?" aku malah nanya ngelantur dan out dari topik pembicaraan.


"Maksud kamu?"


"Ya Bapak sekarang punya hobi baru, 'ngegangguin hidup saya', gitu" aku asal ngejeplak aja, sedangkan mata udah ngantuk banget.


"Kamu share aja lokasinya, nanti saya jemput kamu. Kamu bisa liburan nanti, saya kasih jatah libur lagi..." pak bos nego sama aku.


"Hari senin harga naik, Pak!"


"Aaaiish! kamu itu ngomong apa, sih?" pak bos sewot, aku cuma bisa ngikik sendiri.


"Hahahah, astaga selera humor Bapak sangat buruk," aku malah ngeledekin pak bos yang nggak nyambung sama banyolan aku.


"Ya karena ini bukan waktunya bercanda, Reva!"


"Ya ampun, bercanda aja harus dikasih jadwal khusus ya, Pak? baiklah baiklah," ucapku.


"Reva...?"


"Dalem, Pak..." aku jawab sambil merem terus melek, rasanya udah nggak kuat buka mata lama-lama.


"Apa cincin itu masih disimpan teman kamu itu?"


"Temen saya yang mana, Pak?" aku udah nggak fokeus.


"Maksud saya Ridho! apa cincin itu masih ada sama dia?" pak bos emosi bukan main.


"Nggak..."


"Jadi, kalian menghilangkan cincin ibu saya!" pak bos ngebentak bikin aku buka mata seketika.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2