Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Saya Takut, Paaak!


__ADS_3

Aku melihat sekarang pukul setengah 3 pagi. Aku cuma tidur kurang dari setengah jam tapi mimpinya udah kemana-mana.


"Pak? apa kita nggak nerusin perjalanan? atau Bapak masih pusing?"


"Bensinnya sudah kritis," kata pak bos.


"Pantesan daritadi pak Karan kayak stres banget, ternyata bensinnya yang udah mau abis. Eh, what? gimana gimana, bensinnya abis?" aku kedip 5 kali abis itu aku nyerosol nyerudug ke tempat duduknya pak Karan.


"Pak? ini mah nggak akan sampai ke kota, Pak!" aku nunjuk ke speedometer di mobil pak Karan.


Aku puter badan liat pak Karan yang nggak bisa nyembunyiin muka frustasinya.


"Iya, kalau kehabisan ya kamu yang dorong. Walaupun mobil berehenti tapi kita pakai ac, dan itu kan ngabisin bahan bakar. Kalau tidak, mana mungkin kamu bisa tidur nyenyak sampai ngelindur kan,"


"Ya gimana nggak ngelindur, Pak! orang kita berhenti di jalanan kayak gini, mana serem..." aku balik lagi ke tempat duduk.


Pak bos tarik nafas sebelum nurunin rem tangan mobilnya, dan dia mulai menginjak pedal gas.


"Berdoa aja kita nemuin pom bensin di sekitar sini," kata pak bos.


Aku sih berharap iya, tapi kan ini kita juga nggak ngerti tuh pom bensin ada di mana, dan sejauh mana kita harus mencapai tempat itu.


"Pak..."


"Kenapa?" tanya pak bos.


"Bapak ingat rutenya?"


"Tidak, kan saya nyetir pakai maps. Dan sekarang sinyal hape hilang. Lagi pula ada kamu, kamu pasti hafal kan jalan pulang..." tanya pak bos enak banget.


"Saya? saya tidak hafal, Pak. Saya baru pertama kali juga ke rumah Karla. Di mobil saya tidak memperhatikan jalan, lagipula daya ingat saya juga lemah..."


"Astaga, kamu benar-benar tidak bisa diandalkan!"


Dan setelah 30 menit perjalanan, mendadak mobil kayak odong-odong, anjut-anjutan.


"Pak, ini mobilnya kenapa, Pak?" aku pegangan seatbelt.


"Shiiiiiiiiit!" pak bos memukul stir mobilnya.


Dan ciiiiiiit.


Mobil pun berhenti.


"Kok berhenti, Pak? kalau mau berhenti jangan di sini, Pak. Ini serem banget tempatnya," ucapku melihat kabut yang turun dan itu membuat jarak pandang kami terbatas.


"Turun," suruh pak bos.

__ADS_1


"Jangan, Pak. Jangan tinggalin saya disini, kok Bapak setega itu sih sama saya? saya janji nggak rewel, saya cantik dan saya diem," aku membuat gerakan mengunci bibir.


"Saya bilang turun!"


"Please, jangan lakukan itu, Pak! saya pulang naik apa? ini masih jam 3 pagi loh, Pak. Matahari aja belum nongol, udara di luar dingin berkabut. Kalau saya kedinginan terus sakit gimana, Pak? lagian ini mobil kan mau dinaikin berdua atau bersatu sama aja, Pak. Tidak ada pengaruhnya..." aku mengiba supaya nggak diturunin di tengah jalan.


"Memang tidak ada pengaruhnya kalau


mobil ini mau dinaikin berdua bertiga atau ber delapan sekalipun, tapi itu kalau mobilnya full bensin. Kalau sekarang bensinnya sudah habis, dan mobil ini tidak bisa bergerak karena tidak ada bahan bakar. Jadi lebih baik kamu turun begitu juga dengan saya, kita cari bantuan..." kata pak bos.


"Fiuh, syukurlah. Saya kira Bapak mau ninggalin saya disini sendirian, yang ada nanti saya digeroyok makhluk halus kan bisa berabe, Pak..." kataku yang seketika lega.


Pak bos mematikan mesin dan membuka pintu mobil dan brrrrr hawa dingin langsung menusuk kulit.


Aku pun keluar menghampiri pak bos yang sedang berdiri di samping mobilnya.


"Ssshhh, kita mau jalan kemana, Pak?" tanyaku sambil memeluk badanku sendiri.


Pak bos nggak jawab, dia malah buka pintu mobil di bagian belakang. Dia mengambil jasnya dan melemparkannya padaku.


"Pakai," kata si bos dingin.


"Ish, main lempar aja. Dikira muka kita kayak keranjang baju apa, ya? tapi lumayanlah jadi anget pakai jas begini," aku ngomong cukup dalam hati aja, kalau keceplosan bisa ditinggal lagi aing dimari.


Pak Bos membuka bagasi mobilnya, dia pun mengambil satu jas warna navy di dalam kopernya. Rupanya dia juga ngerasa dingin. Dia menutup kembali bagasi dengan membawa dua senter dan satu kater yang kimi dia kantongin.


"Mau apa?"


"Ambil tas baju, Pak..."


"Buat apa?" tanya pak bos.


"Ya buat ganti baju kalau-kalau kita nemu rumah warga kan bisa sekalian numpang mandi," kataku.


"Nggak usah di bawa, kalau kamu mau ganti baju, ganti dulu saja di dalam mobil. Lagi pula akan sangat menyusahkan jika kamu memakai dress seperti itu," dia menunjuk dress-ku yang sudah kotor.


"Tapi..."


"Saya tidak akan melihat, saya akan berdiri membelakangi mobil. Masuklah," pak bos nunjuk mobilnya pakai dagu.


"Tapi janji, ya? jangan ngintip..." aku membuka mobil dan segera menutupnya. Aku membuka tas, mengganti pakaiannku dengan celana jeans dan atasan. Aku ingat kalau ada kantong yang isinya minuman dan makanan.


"Aku bawa aja kali, ya?" aku nyelempangin tas dan pakai jas punya pak bos yang udah pasti kedombrangan, aku nyamber kantong makanan yang ada di mobil.


Brukkk.


Aku buka pintu.

__ADS_1


"Sudah?" tanya pak bos


"Sudah," aku jawab sambil nutup pintu mobil.


Pak bos mengunci mobilnya sebelum kita pergi.


"Kalau begitu kita jalan sekarang..." kata pak bos yang cool banget.


Aku berjalan dibelakang pak Karan. Aku menutup badanku pakai jas punya pak bos, gila dinginnya itu loh sampe ke tulang-tulang.


"Paak..." aku manggil pak Karan, dan asap putih keluar dari mulutku saat aku ngomong. Sedingin itu gaes cuacanya.


"Ada apa?" tanya pak Karan tanpa menghentikan langkahnya.


"Masih jauh?" aku nanya sesuatu hal yang bodoh bin tolol.


"Mana saya tahu, saya juga kan tidak hafal daerah ini," ucap pak Karan.


"Pak, kayaknya masih belum ada tanda-tanda kehidupan, deh..." ucapku takut-takut.


"Apa kita nggak semakin tersesat, Pak?" aku ngomong lagi.


Dan pak bos pun menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


"Aaawh," aku yang matanya meleng nggak sengaja nabrak punggungnya pak Karan yang kokoh itu.


"Deuuh si Bapak main berhenti aja," aku ngusap jidat ku yang tambah nong-nong karena abis kejedot.


"Kalau kamu tahu jalannya, kamu yang jalan di depan," kata pak bos mempersilakan aku untuk jalan terebih dahulu.


"Takut. Bapak saja yang di depan, Bapak kan laki-laki,"


"Astaga, kamu itu lebih banyak ngomongnya darpada jalannya, kapan kita akan sampainya kalau begini?..." kata pak Karan yang sepertinya mumet dengerin aing nyerocos bae.


"Sabar Pak ini ujian..." aku tepokin punggung pak Karan.


"Ayo cepat jalan," perintah pak Karan yang super duper bossy.


"Tungguin, Paaaaaaaaak..." seketika aku teriak sambil nyusulin pak Karan yang udah nganclang duluan.


"Pak, kabutnya tebel banget ya, Pak..." aku gandeng tangan pak bos.


"Astaga Reva, kamu bisa jalan tanpa gandeng-gandengan seperti ini tidak?"


"Tidak bisa, Pak. Saya takut, Paaaaak..." aku mepet pak bos, sambil tangan satu gendal-gendol kantong yang isinya makanan.


"Dhoooo, kenapa kamu belum jemput aku sih, Dhoooo!" aku neriakin nama Ridho di dalam hati.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2