Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Etan Nggak Beradab


__ADS_3

Karena udah males duluan ngeliat ada yang ngejogrog di deket meja rias, aku pun buka blazer dan tarik selimut sampai nutupin kepala. Katanya kalau kita lagi hamil kan harus liat yang bagus-bagus yang cantik-cantik, nah kalau tuh makhluk syaithonirrojim kan nggak ada bagus-bagusnya, nyeremin iya. Amit-amit anak aing mirip begituan, nehi ya!


"Sayang? kamu kenapa? dingin?" suara Ridho.


Dan ketika aku buka selimut, bukan wajah Ridho yang ada di depan mata, melainkan wajah si Etan yang nggak beradab. Muka penuh luka dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.


Seketika jurus tepok balok pun segera aku lancarkan, "Aaakhhh?!!"


BUGHHHHHHHH?!!!


Aku ambil guling dan pukul itu Etan. Tapi yang namanya makhluk ghoib ya, mana bisa kena pukul. Dia langsung ngelap lah ngilang, gone gitu aja. Kamfret emng.


"Ada apa, Va?" Ridho yang udah pakai pakaian santai keluar dari dalam ruang ganti.


"Kamu kenapa?" Ridho nanya lagi, sambil nangkup kedua pipiku.


"Hh ... hh ... nggak, nggak ada apa-apa," kataku bohong.


"Nggak mungkin, nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa," Ridho nggak percaya.


Akhirnya aku pun berkata jujur, "Yah, hhh ... aku cuma kaget aja tadi ada Kunti yang lagi viral di kompleks ini,"


"Nggak tau, kenapa dia deketin aku terus. Aku ngerasa nggak punya salah apa-apa juga," lanjutku yang masih ngos-ngosan.


"Kamu yang tenang, nanti malam kita adain pengajian di rumah," Ridho meluk aku, dia usap punggungku pelan.


"Sekarang, kamu istirahat, aku tungguin..." ucap Ridho yang ngerebahin aku lagi di tempat tidur.


"Aku disini, aku nggak akan kemana-mana, okey?" Ridho dengan tatapan lembutnya.


Aku coba merem lagi, sementara kangmas duduk di samping ranjang sambil terus ngebelai keningku, biar aku cepet tidur.


Sebenernya aku nggak bisa tidur, aku cuma meremin mata tapi pikiranku kemana-mana.


Apa karena aku lagi hamil, makanya nih si Kunti nengokin aing mulu.


Habis isya, rumah lumayan rame dengan beberapa orang yang dateng buat ngaji bareng-bareng, murid-muridnya ustadz yang dipanggil kangmas Ridho kesayangan.


Kita duduk bersila sambil gelaran karpet, lantunan ayat-ayat suci menggema di seantero ruangan. Adem rasanya. Kali ini aku cuma nyimak, duduk dengan tenang sambil berdoa semoga aja nggak ada gangguan lagi di rumah ini.


Setelah acara pengajian selesai, pak ustadz keliling rumah dan melihat-lihat keadaan sekitar.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak ada hal yang mencurigakan di rumah pak Ridho," ucap Ustadz Rohim.


"Lalu kenapa makhluk itu suka menampakkan diri, terutama di depan istri saya pak Ustadz? saya khawatir, karena istri saya kebetulan sedang hamil muda," kangmas sambil pegangin tanganku.


"Kemungkinan karena istri anda sedang mengandung, Pak. Jadi seperti punya daya magnet tersendiri, mengundang makhluk tersebut untuk mendekat," kata pak Rohim lagi.


Anehnya ketika pak Rohim keliling rumah, itu si Etan nggak muncul. Jadi gimana mau ngusirnya kalau si makhluk itu nggak ada. Jadilah, pak Rokhim dan rombongannya pulang di jam 10 malam setelah pengajian sudah selesai.


Ridho nyuruh aku naik duluan ke atas, tapi aku nggak mau. Aku mending duduk aja ngeliatin dia beres-beres sama mama dan dibantu pak Medi yang kebetulan lagi libur jaga pos.


"Terima kasih banyak loh, Pak. Sudah bantuin saya hari ini," ucap Ridho yang nyodorin amplop ke tangan pak Medi.


"Ndak usah, Mas Ridho. Saya ikhlas membantu," pak Medi menolak amplop putih yang ada ditangannya.


"Nggak baik menolak rezeki loh, Pak?!" ucap Ridho.


"Sebenernya ndak usah loh, Mas..." kata pak Medi. Kalau bapak-bapak lain pasti dipanggil 'Pak' sama satpam kompleks, yang emang keliatan udah bapak-bapak. Sedangkan kangmas katanya dinilai terlalu muda buat dipanggil Bapak.


"Terima saja, Pak..." ucapku pada pak Medi.


"Baiklah, terima kasih yo, Mas? Mbak? berhubung sudah beres semua, saya pamit pulang," kata pak Medi.


"Hati-hati, Pak..." ucap Ridho yang kemudian nutup pintu.


"Iya, Sabar Sayang..." sahut Ridho penuh kelembutan


"Pintu udah dikunci semua kan, Dho? kalau udah, mama juga mau naik ke atas, udah ngantuk banget ini..." ucap mama yang keliatan udah capeek banget.


"Udah dikunci semua kok, Mah. Aman..." jawab Ridho yang menghampiriku.


"Ya sudah, mama duluan ya. Udah nggak tahan ngantuknya. Oh ya, besok kamu istirahat di rumah saja, Reva. Mama lihat muka kamu lumayan pucet," kata mama sebelum pergi naik ke tangga.


"Iya, Maaah..." aku iyain aja, nggak ngebantah.


Setelah matiin beberapa lampu, kita semua naik ke atas.


Malam ini semuanya terasa aman. Nggak ada yang aneh-aneh juga di grup chat. Mereka pada tau kalau aku ngadain pengajian, sempet ada beberapa yang dateng tadi tapi ada juga yang absen karena lagi ada perlu dan lain sebagainya.


Aku merasa sedikit tenang malam ini, karena paling nggak kita ada usaha buat mengusir makhluk yang suka ngeganggu itu.


"Mas..." aku panggil Ridho, suasana kamar udah temaram.

__ADS_1


"Ya, kenapa, Sayang?" tanya Ridho yang udah siap-siap mau tidur.


"Mulai besok aku udah nggak ke kantor. Aku udah bilang ke Arlin buat mengurus pemindahan nama, aku mau balikin tuh perusahaan ke pak Karan..."


"Kalau itu keputusan kamu, aku sebagai suami cuma bisa mendukung, Sayang. Selesaikan secara baik-baik, ya?" pesan kangmas.


"Iya," aku tersenyum dan memeluk guling angetku.


.


.


.


Paginya aku bangun dengan lebih seger, karena semalem aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan apapun. Aku sempet ngeliat, kanas sholat malem-malem. Dam dia sempet niup ubun-ubunku segala. Nggak tau, mungkin kepalaku disebul biar setan-setan pada ngibrit jangan deket-deket.


"Mah, untuk sementara mama diaini dulu ya, Mah? sebelum Ridho bisa dapet orang yang bisa bantu-bantu disini, karena Ridho nggak mungkin kan jagain Reva 24 jam," ucap kangmas disela sarapan kita pagi ini.


"Iya, Mama disini dulu sampai kondisi Reva udah memungkinkan buat ditinggal," kata mama.


"Sebenernya aku nggak apa-apa kalau mama mau pulang, mau nengokin rumah..." ucapku nggak mau bikin orang khawatir.


"Kamu nggak usah pikirin itu dulu, orang hamil nggak boleh banyak pikiran..." kata mama.


"Ya udah, Ridho berangkat dulu, Mah. Soalnya ada meeting pagi-pagi sama bos," kata Ridho yang menyudahi acara sarapannya dan mencium tangan mama.


"Hati-hati, nggak usah ngebut!"


"Siap, Mah..." sahut Ridho.


Lalu dia mendekat ke kursiku, "Aku berangkat ya? baik-baik di rumah,"


"Ya Mas kamu juga..." kataku.


Ridho kemudian mengambil tas kerjanya dan pergi meninggalkan rumah. Nggak lama, suara ketan pintu dari luar.


"Siapa yang pagi-pagi bertamu?" aku bergumam.


Mama yang mau berdiri aku cegah, "Biar Reva aja, mama lanjutin makan aja..."


Aku bangkit dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Kreeeeet.


Setelah pintu dibuka ada satu sosok pria yang sangat nggak aku harapkan.


__ADS_2