Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Biar Aku Yang Simpan


__ADS_3

Makan tanpa ada rasa pedes, rasanya aneh. Ditambah Ridho yang kayaknya khusyu banget makannya.


"Aku minta..." aku nyomot aja kwetiaw ayam dari piring Ridho.


Kan, rasanya lebih enak. Aku nyomot untuk kedua kalinya dan mindahin punyaku sebagai gantinya.


Tapi Ridho nggak ada reaksi. Aiih kenapa lagi nih orang.


"Ada sesuatu yang mau aku tunjukin," ucapku pada Ridho.


"Ya," jawabnya singkat.


"Oh ya, itu tetnggaku namanya--"


"Barraq! dia udah nyebutin namanya tadi," serobot Ridho.


"Oh syukur kalau udah kenalan,"


Habis makan, aku suruh Ridho buat duduk di ruang tivi. Aku ambil bungkusan keris yang di bungkus kain.


Aku kembali dengan sesuatu yang ada di tanganku, "Aku bertamu ke unit Barraq karena ini..." ucapku sambil ngeliatin bungkusan yang ada di tanganku.


"Kain mori?" Ridho mengernyit.


"Apaan tuh kain Mori?" aku nggak mudeng.


"Kain yang dipakai buat mengkafani jenazah!" ucap Ridho.


"Darimana kamu dapat benda kayak gini? kamu main dukun?" tuduh Ridho.


"Masa sih?" sontak aku taruh diatas meja. Otak langsung kebayang kalau kain itu kain kaffan siapeee gitu. Tapi kan nggak kumel ya, bararti kan bukan kain kaffan dari jenazah yang udah di kubur kan. Eh, tapi nggak tau, ah. Aku jadi takut buat megangnya.


"Darimana kamu dapat barang seperti ini?" Ridho melihat isi yang ada di dalam kain


Ada keris kecil yang dilengkapi dengan penutup kerisnya yang juga kecil, jadi kayak ada slongsongnya gitu loh. Ridho juga ngebuka bungkusan satu lagi yang berisi tanah.


"Ini ada hubungannya dengan hantu yang ingin merasuk dalam badanku. Jadi sebenarnya, hantu itu nggak ada niat jahat sama aku. Dia kesini, datengin aku karena mau minta tolong,"

__ADS_1


"Minta tolong apaan?" Ridho mengernyit.


Dan aku pun menceritakan apa yang aku alami, dan asal.mula aku mendapatkan barang keramat ini. Ridho nyimak dengan sesekali kepalanya geleng-geleng nggak percaya. Ya emang siapapun yang denger pasti ya nggak habis pikir ada hantu yang gentayangan perkara belum sempet minta tanda tangan dan foto sama idolanya.


"Jadi, kamu ke unit Barraq buat ngambil barang ini?" Ridho sekali lagi memastikan.


"Iya, dan besok aku mau buang ini ke lautan. Aku bakal minta Arlin buat nyiapin kapal," ucapku yang ngeraih hape dan mulai kasih instruksi ke Arlin.


Sebagai asisten yang dapat diandalkan, Arlin mah sat set kerjaannya. Nggak pake lama, dia pasti siap kalau disuruh apa-apa.


"Jadi besok kamu bakal buang keris ini?" tanya Ridho.


"Ya karena itu satu-satunya cara supaya daya magis keris itu bisa hilang. Nggak mungkin juga aku nyimpen barang kayak ginian..." ucapku pada Ridho.


"Aku akan ikut," kata Ridho.


"Kamu kan harus kerja,"


"Nanti aku ijin dengan pak Bagas, yang jelas aku nggak akan biarin ku berada di tengah laut sendirian. Apalagi beberapa hari ini cuaca lagi ekstrim," Ridho nggak mau dibantah.


"Lain kali, jangan berhubungan dengan makhluk ghoib! apalagi mencoba membantu mereka buat ngelakuin sesuatu!" Ridho ngingetin.


"Jam berapa rencananya besok?" tanya Rido, dia ngebungkus keris itu lagi.


"Jam 8. Karena kalau jam 6, aku pasti belum melek!"


"Oke, aku akan kesini besok pagi," kata Ridho.


Syukurlah, walaupun mukanya masih begitu. Tapi dia mau nemenin aku nyebrang lautan. Semoga aja masalah ini cepet selesai, dan aku bisa terlepas dari barang-barang yang mempunyai daya magnet jelek kayak gini.


Kita diem-dieman, aku terpaku sama jambulnya Ridho yang masih on point banget. Nggak ada kucel-kucelnya nih orang, beda ama dulu yang pulang kabtor aja udah kena asep knalpot kendaraan umum.


Kita berdua lagi duduk di sofa, ngadep tivi dengan lampu yang sengaja dipadamin. Aku bingung harus gimana. Apa aku masih harus menghukum dia lebih lama atau aku sudahi aja.


"Sudah jam 10 malam, kalau ngantuk kamu masuk aja," kata Ridho.


"Bentar lagi aku juga pulang, dan balik lagi kesini besok pagi," lanjutnya.

__ADS_1


Aslinya mah nggak rela ya dia pulang malam ini. Tapi gimana, mau nahan juga nggak berhak. Dibiarin pulang tapi masih pengen ditemenin, apalagi aku berdua sama keris keramat kayak gini. Ngeri-ngeri sedap. Kali aja dukunnya si Cherryl ngirim apaan gitu ke rumah aku kan berabe ya, nggak ada yang nolongin.


"Kira-kira aman nggam kalau keris ini bermalam disini?" tanyaku tiba-tiba.


"Aku nggak tau, semoga aja nggak!" ucap Ridho masih ketus.


Astaga, perasaan aku yang lagi ngehukum Ridho, lah kenapa jadi aku yang berasa lagi dihukum begini sih? nggak gini loh konsepnya.


"Ya udah, semiga aja nggak apa-apa..." ucapku ngeraih bungkusan kain mori itu yang udah dibungkus plastik sama Ridho.


Pas aku bangun, pergelangan tanganku dicekal laki-laki berjambul menawan ini.


"Biar aku yang simpen," ucap Ridho yang meraih bungkusan plastik di tanganku.


"Jangan, nanti kamu yang kesengsem sama Cherryl! biar aku aja yang simpen ini nggak apa-apa,"


"Kamu yakin?" Ridho naikin satu alisnya dia ikutan bangkit.


"Ya yakin nggak yakin..." ucapku sambil memandang apa yang aku pegang.


"Tapi ini hanya untuk beberapa jam ke depan kan? jadi kayaknya nggak masalah," ucapku sebelum masuk ke dalam kamar.


Nggak tau ini jam berapa, yang jelas daritadi tidurku lumayan nggak enak. Gelisah dan kayaknya gerah banget padahal ac di kamarku ini dingin banget loh.


"Haus..." aku ngerasa kalau butuh beberapa teguk air buat ngebasahin kerongkongan. Aku pun keluar kamar. Dan aku udah nggak nemuin Ridho disini.


"Mungkin udah pulang," batinku.


Aku duduk di meja makan sambil pegang gelas yang berisi air dingin. Setelah minum beberapa teguk, kayaknya masih ada yang kurang. Akhirnya aku pun ngisi perut dengan makan mie instant, ya kali aja perasaan nggak enak daritadi tuh karena aku kelaperan.


Satu mangkok mie instant dengan potongan cabe dan telor rebus udah dibabat habis. Sekarang mulut masih juga ngunyah buah melon yang dipotong-potong.


"Semuanya udah jelas, apa aku udahan aja marahnya sama Ridho?" aku ngomong lirih.


"Tapi, kayaknya terlalu gampangan banget kalau aku tau-tau maafin dia..."


Aku termenung sebentar, kejadian yang dialami Rania mungkin bisa jadi pelajaran. Kalau kita nggak boleh terlalu berlebihan menyukai seseorang. Sama-sama cinta kalau udah beda dunia juga bisa apa?

__ADS_1


Kayaknya setelah masalah ini semuanya teratasi, aku mau memperbaiki hubungan aku sama Ridho. Aku mau mencoba memulai lagi semuanya dari awal.


"Semoga aja semua sesuai dengan harapan," ucapku yang kemudian bangkit dan menuju kamar.


__ADS_2