
Baru juga dia dadah-dadah, aku secepat kilat lari dan menjulurkan tanganku di sela pintu besi yang belum tertutup dengan sempurna.
Dan ya karena sensornya masih bagus, pintu terbuka lagi ngasih aku kesempatan buat berbagi lift dengan Nadia. Dia sempet mau kabur, tapi gagal karena aku udah duluan teken tombol tutup pintu.
"Mau kemana, hah?" ucapku sambil naikin satu alis.
"Ya mau kerja lah, Va!" jawab Nadia.
"Boleh, tapi bayar dulu utang kamu!"
"Bulan depan aja gimana? pas gajian aku langsung transfer ke kamu, suwer deh!"
"Janji palsu! nggak pake bulan depan, aku maunya sekarang! sini duitnya!" aku tetep maksa.
"Kalau nggak aku sebar nih gosip kalau kamu itu sebenernyaaa..." ucapku lagi.
"Iya iya iya ih! kamu tuh, ya! ember banget sih! nih, niiiiih!" dia buka dompet yang adabdi tangannya dan ngeluarin duitnya.
Padahal aku juga cuma asal ngomong, eh ternyata beneran si Nadia ada sesuatu yang dia sembunyiin perkara kemewahan yang dia dapat itu sumbernya darimana.
Aku tersenyum saat lembaran merah ada di tanganku, "Nah gitu dong!" ucapku sambil ngitung.
"Eeitsss! tapi ini kurang selembar, sini 100 ribu lagi! jangan cem macem deh!" aku melotot ke Nadia.
Nadia kesel dan mulutnya mleyat mleyot sambil buka dompetnya lagi, "Niiiiih! selembar aja dikejar banget!" kata Nadia.
"Ini kalau kurang selembarnya nggak genap sejuta! gimana sih?" ucapku yang ngitung lagi duitnya.
"Dasar rentenir!" gumam Nadia.
"Aku bukan rentenir ya, Nad! itu mulut tolong dikondisikan ya! kamu utang sejuta dari 8 bulan yang lalu dan ini balikinnya sesuai jumlah yang kamu pinjem, jadi nggak usah ngadi-ngadi kamu ya!" aku sewot.
Setelah transaksi bayar utang selesai, pintu lift pun terbuka. Nadia keluar pas di lantai yang dia tuju dengan perasaan yang udah pasti dongkol.
"Hah, lumayan kan! buat jajan..." aku masukin duit ke dalam tas.
Ada untungnya juga aku dateng ke perusahaan ini, duit yang udah lama dipinjem akhirnya dibalikin juga.
Berhubung udah ada di dalam lift, sekalian aja aku pencet ke lantai yang menuju ke ruangan si bos galak.
"Kali aja ada di ruangannya..."
Hanya berselang beberapa menit akhirnya pintu besi terbuka. Aku cepat-cepat keluar dan berjalan menuju ruangan bos galak.
__ADS_1
"Mbaaak? pak Karan ada?" tanyaku pada mbak Indri yang kebetulan ketemu di lorong ruangan pak Karan.
"Eh, Rev-va ... a-pa kabar?" ucap mbak Indri yang pegangin perutnya.
"Mbak pak Karan ada?" tanyaku lagi.
"A-ada..."
"Mbak Indri lagi sakit?"
Preeeeettt!
Ada suara yang disertai bau yang nggak enak.
"A-aku lagi diare, Va! aku mau ke toilet dulu! terus aku mau pulang," ucap mbak Indri yang ngibrit ke toilet.
"Astaga, cantik-cantik kentutnya bau banget!" aku kibasin tangan di sekitar hidung.
Mungkin karena mulesnya nggak ketahan dia sampai lupa kalau aku ini bukan karyawan di perusahaan ini lagi. Dan dia harusnya kan nanya keperluanku apa gitu ketemu sama bosnya.
"Emang kalau perut lagi konslet, otak juga ikutan mesle. Tapi untunglah buat aku, jadi nggak perlu ditanyain macem-macem!" gumamku.
Aku berjalan menuju ruangan pak Karan.
Dan ketika tanganku udah pegang handle pintu, aku dengar pak Karan lagi ngomong sama seseorang. Aku pun mengurungkan niatku buat masuk, ya kali aja lagi ada tamu penting.
"Biar saja. Biar dia tau kalau oranglain bisa mencelakainya dan pacarnya itu sebenarnya tidak bisa melakukan apa-apa!" ucap pak Karan yang membuat aku mematung di tempat.
"Maksudnya apa? maksudnya apa pak Karan ngomong kayak gitu?" aku dalam hati.
"Sejauh ini lakukan perintahku, setidaknya itu akan membuat dia mau tinggal di rumah yang sudah aku sediakan," kata pak Karan.
Darahku mendidih mendengar apa yang terucap dari mulut pak Karan.
"Apa dia orang dibalik semua kejadian ini?" ucapku dalam hati.
"Licik sekali anda tuan Karan Perkasa!" suaraku menggema dalam hati. Aku berbalik dan segera membuka pintu tanpa permisi.
"Nona, Reva?" ucap Arjun kaget melihat kedatanganku.
Sedangkan pak Karan tak menampilkan ekspresi apapun, mungkin sama terkejut bahkan terkejang, tapi mungkin dia sangat lihai menyembunyikan itu semua.
"Kau boleh keluar, Arjun!" perintah sang bos.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Permisi..." Arjun segera bangkut dan pergi meninggalkan aku dan pak Karan di ruangan ini.
"Masuklah dan tutup pintunya!" kata pak Karan.
Aku melangkah dan mengikuti apa yang disuruhnya, namun jangan ditanya dalam hati aku menyumpah serapahi dia yang tengah duduk di sofa single dengan gaya angkuhnya.
"Duduk!" kata pak Karan.
Aku cuma naikin satu sudut bibirku ke atas, "Kadang baik, kadang angkuh dan kadang menyebalkan!" aku masih aja bergumam dalam hati.
"Bagaimana? suka dengan keadaan rumah yang kamu sewa itu? jika ada barang yang kurang sesuai, katakan saja. Biar saya suruh Arjun untuk menggantinya," kata pak Karan yang aku tau dia lagi main bureng tentang apa yang sudah terjadi dengan rumah kontrakanku yang baru.
"Apa dia sengaja melakukan ini supaya aku mau pindah? karena siapa lagi yang tau rencana kita mau nangkep orang yang bersliweran tengah malam kalau bukan pak Karan? nggak mungkin Mona yang ngelakuin ini kan? karena itu lebih nggak masuk akal..." aku menatapnya sambil ngomong dengan diriku sendiri.
"Hey, jangan melamun!" kata pak Karan menyadarkan aku dari semua analisa yang mampir di otak.
"Ada yang tidak kamu suka? katakan saja biar Arjun yang mengurusnya," ucap pak Karan lagi, perasaan daritadi dia ngoceh mulu sedangkan aku ngomong satu kalimat aja belum.
"Nggak perlu ada yang diganti..." ucapku.
"Baguslah kalau kamu suka,"
"Tapi aku ingin mengembalikan semuanya!" kataku dengan tegas.
"Maksudnya? apa yang dikembalikan?" pak Karan nanya dengan ngelipet tangannya di depan dada.
"Semuanya barang-barang yang anda kirim itu, Tuan!" kataku.
"Kamu kenapa? sakit?" Dia mencoba memegang keningku tapi aku tepis.
"Saya sudah dengar semuanya," ucapku dengan mata menahan amarah.
"Saya rasa bos sombong seperti anda, bisa menggunakan cara apapun untuk membodohi orang miskin seperti saya!"
Pak Karan mengernyit, "Siapa membodohi siapa?"
"Saya dengar pembicaraan anda barusan dengan Arjun, Tuan! Ternyata anda orang dibalik teror di rumah yang kami sewa..." aku menggeleng nggak percaya dengan orang yang masih setiap dengan sikap angkuhnya.
"Sepertinya kamu salah--"
"Ya, saya salah mempercayai anda!" aku berdiri dan mencoba untuk pergi.
"Tunggu! duduklah dulu, kita bicarakan semuanya dengan pikiran yang tenang..." kata pak Karan yang juga berdiri dan mencekal lenganku.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dibicarakan karena semuanya sudah sangat jelas!" aku menghempaskan tangan adek sepupu kemudian melenggang meninggalkan ruangan itu dengan perasaan kecewa