
"Dho!" aku tatap Ridho, dan suara tadi memekik lagi.
Ridho ngangguk dikit dan narik aku. Aku kira dia bakal ngajak aku kabur dari rumah laknat ini. Tapi nggak, Ridho malah ngajak aku masuk, buat nyari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sana.
"Aaarrrrghhhh!" suara pekikan itu datang lagi dari seseorang yang tengah terbaring. Kedua pria beda usia yang tengah berdiri di samping ranjang itu, kompak menengok ke arah kami yang baru saja masuk.
"Lakukan sesuatu!" kata pak Reynold pada pak Karan.
"Lakukan apa? tidak ada yang bisa kita lakukan," ucap pak Karan enteng.
"Dia mungkin sedang memetik apa yang dia tanam selama ini," lanjut pak Karan tanpa empati sama sekali.
"Ada makhluk yang sedang menempel padanya," ucap Ridho tiba-tiba. Kami pun kompak menatap pria yang selalu menjadi penolongku.
"Maksudmu?" pak Karan menatap Ridho, sementara nenek Gayatri terus memekik dan bola matanya melihat ke atas.
"Di punggungnya itu, ada makhluk yang sedang menempel dan harus ada seseorang yang bisa mengusirnya," kata Ridho.
"Apa kau bisa membantu mengusir makhluk jahat itu?" tanya pak Reynold.
"Biar saja, Yah! dia juga yang membuat ibu merasakan sakit. Menurutku ini adalah karma atas semua perbuatan jahatnya selama ini. Kita tidak perlu buang waktu hanya untuk menolong wanita tua itu! lebih baik kita semua pulang. Kita hanya membuang waktu disini!" pak Karan hendak berbalik, namun pak Reynold mencegahnya.
"Asa..."
Pak Karan menoleh pada ayahnya, matanya menatap heran.
"Apa ayah bilang?"
"Asa. Kau tau, ibumu suka sekali memanggilmu dengan nama itu. Ibumu berharap kau akan menjadi tali harapan bagi semua orang. Dan ayah kira mendiang ibumu tak akan rela jika hati anaknya dipenuhi kebencian," kata pak Reynold.
"Tapi, Yah! dia-"
"Ayah tau, dan ayah paham itu. Awalnya ayah juga tidak ingin kemari," ucap pak Reynold, kali.ini dia memegang kedua bahu lebar anaknya.
"Dengarkan ayah, Asa. Biarkan tuhan yang menghukumnya. Jangan kotori hati kamu dengan membenci dia. Maafkan, dengan begitu hidup kamu juga akan tenang," kata pak Reynold yang kayaknya habis denger ceramah ustad begitu ya.
Serem banget aing liat nih mata nenek Gayatri melotot terus ngeliat ke atas kayak orang ketakutan. Kulitnya pucet nggak kayak biasanya.
__ADS_1
"Lakukan apa saja untuk menolong wanita tua itu!" kini pak Karan nengok ke Ridho.
"Saya tidak punya kekuatan yang bisa mengusir makhluk seperti ini, mungkin Bapak bisa memanggil seseorang yang lain yang biasa menangani hal seperti ini," kata Ridho.
"Haissh, merepotkan saja!" kata pak Karan.
Pak Karan duduk di salah satu sofa yang ada di kamar ini dan menghubungi seseorang. Begitu juga pak Reynold yang kayaknya udah pegel daritadi berdiri terus. Tinggal kita berdua nih, kagak ada yang nawarin buat duduk atau minimal glosoran gitu di lantai biar nggak pegel nih urat-urat syaraf.
"Kenapa bisa sampai begitu?" aku berbisik ke telinga kangmas, karena sejujurnya aing penasaran kenapa si nenek bisa ketempelan setan.
"Karena kongkalikong sama hantu," kata Ridho.
"Ishh, apaan sih, Dho..."
"Lah emang bener! emang kamu nggak ngeliat, sosok yang berada di dekat nenek pak Bos?" tanya Ridho.
Aku menggeleng. Sebenernya aku juga bingung, kenapa aku nggak bisa ngeliat sosok yang diliat sama Ridho. Jelas-jelas malam itu aku juga sempet kan diganggu sama makhluk beginian.
Dan nggak lama, ada seseorang yang datang. Dia memakai baju serba putih. Dam ekspresinya tak kalah kaget saat dipersilakan masuk ke dalam kamar.
"Tuan, ini Bapak Ridwan..." kata seseorang yang kayaknya yang emang disuruh pak Karan buat manggil siapaoun yang bisa ngusir makhluk halus. Tapi bukan mbak dukun ya sodarahhh-sodarahhhhh!
"Dhoooo!" aku otomatis bersembunyi dibelakang tubuh tegap kangmas.
"Tenang aja, ada aku..." kata Ridho nenangin.
Pak Karan yang tadinya duduk sekarang berdiri, dan menyambut uluran tangan pak Ridwan. Mereka belum sadar kalau nenek Gayatri nengok dengan raut wajah yang nyeremin.
Pak Ridwan yang mungkin udah ada feeling-feeling nggak enak pun akhirnya melihat ke arah ranjang tempat nenek Gayatri tiduran.
"Apakah saya boleh mendekat?" tanya pak Ridwan pada pak Reynold dan pak Karan.
"Silakan..." jawab pak Reynold, kalau anaknya mah kayaknya ngurusin ini juga udah ogah-ogahan gitu.
Pak Ridwan jalan mendekat, lalu dia berdiri persis di samping Ridho.
"Kamu bisa melihatnya?" tanya pak Ridwan ambigu. Ridho ngangguk.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." ucap Pak Ridwan pada nenek yang menatap pak Ridwan dengan tatapan tajam.
"Tempatmu bukan disini, kembalilah ke alammu yang sebenarnya..." kata pak Ridwan.
"Jika aku tidak bisa memilikinya nenek tua ini, maka aku meminta wanita itu untuk menggantikanya!" ada suara serak yang menggema di ruangan ini. Lagi-lagi aku cuma bisa mendengar tapi aku nggak bisa ngeliat bagaimana wujudnya yang sebenarnya.
"Jangan berharap, karena itu tidak akan pernah terjadi! kau mengerti?" ucap pak Ridwan.
Ridho yang berada di dekatku mulai waspada, dia menggenggam tangaku erat.
"Kenapa?" tanya pak Karan melihat ekspresi Ridho yang serius dan seolah menjadi tameng buat aku.
"Dia mau tukar tambah!" kata Ridho, pak Karan mengernyit heran.
"Maksudnya, makhluk itu meminta menukar Reva sebagai pengganti dari nenek anda, karena dia tidak ingin pergi dengan tangan kosong," jelas Ridho.
"Jangan bercanda, lebih baik bawa saja wanita itu. Tidak ada yang peduli " kata pak Karan.
Namun pak Reynold segera bicara pak pak Ridwan, kalau bagaimanapun dia harus bisa mengusir makhluk itu dari nenek Gayatri.
Pak Ridwan memulai membacakan ayat-ayat alqur'an. Dia seperti seseorang yang mengeluarkan tenaga dalamnya, dan membuat gerakan tangan memutar dengan tasbih yang terselip diantara jari jemarinya.
"Allahu Akbaaaaarrrr!" pak Ridwan mengusap punggung nenek Gayatri.
"Hooweekkkk!" nenek Gayatri mengeluarkan suara seperti orang yang muntah. Namun tak ada yang dikeluarkannya.
Tapi tidak dengan pak Ridwan, pria itu memegangi dadanya. Sepertinya dia sedang kesakitan.
"Astaghfirllah!" Ridho memekik.
"Kenapa, Dho?" tanyaku penasaran pasalnya, genggaman tangan Ridho lebih kuat dari sebelumnya.
"Makhluknya beranak pinak ternyata, Va..." ucap Ridho, nggak jelas.
"Anda baik-baik saja?" tanya pak Reynold pada pak Ridwan. Pria berbaju putih itu mengangguk dengan susah payah, tapi jelas dia sangat kesakitan.
Sedangkan pak Karan kayaknya masa bodo amat dengan apa yang sedang terjadi, dia malah melirik tajam ke arahku yang bersembunyi dan nempel di punggung Ridho.
__ADS_1
"Pak setannya disana bukan disini," aku nunjuk ke arah ranjang nenek Gayatri.
...----------------...