
Vena membungkukkan badannya dan menoyor jidat Mona, "Aw, aw, aw ... rupanya kamu membawa serta satu personil lain?"
"Heh, jaga tanganmu!" aku mulai geram dengan sikap cewek yang please cakepan Mona kemana-mana. Nih cewek menang semok doang.
Vena berjalan mendekati Bara udah kayak uler yang meliuk-liuk kegatelan, "Bar, aku dibentak sama dia!" tunjuk Vena ke arahku.
"Biarin aja, Ven! anggap saja dia kaleng rombeng!" ucap Bara yang nggak ngeliat ke arahku.
Cih, lagaknya sengak banget si Bara. Pengen banget aku laburin tuh muka pakai lumpur sawah.
"Aku capek, Bar!" ucap Vena yang pegel karena pakai heels ketinggian.
Bara ambil satu kursi dan menyuruh Vena buat duduk, tapi nih perempuan ulet menolak, "Kursi itu terlalu keras buat aku, Sayang!"
Tangannya yang sok lentik itu mendoring Bara buat duduk di kursi, lalu dia edengan santainya duduk di pangkuan Bara.
"Nah, seperti ini lebih baik!" katanya manja, bikin aku pengen gumoh.
Please, ini kita disini cuma buat nontonin mereka mesra-mesraan apa gimana si? bikin emosi jiwa deh lama-lama.
Air mata Mona mungkin udah menguap dan kering tak bersisa, dia ngeliat Bara dengan tatapan sendunya.
"Udah capek nangisnya, iya?" tanya Vena.
"Ck ck ck, kasian! sshhh, itu tangan sama kaki pasti lecet ya? aku nggak kebayang sih perihnya!" kata Vena.
Bara nih kaya kebo yang dicucuk idungnya sama si Vena. Dia dijadiin alas kursi aja diem-diem bae.
"Udah mau sore, nih! kamu nikmatin dulu ya, gangguan-gangguan makhluk yang sengaja aku kirim kesini! hahahaha," kata Vena yang berdiri dan jalan ke arah Mona.
Srettttt!
Dia lepas lakban di mulut Mona, "Kamu, jangan belagu makanya! ehem, lumayan ntar malem kamu bisa liat banyak penampakan di dalam sini..."
"Bar, Baraaaaa! hiks ... jangan tinggalin aku disini, Bar! pleaseee..." Mona mengiba.
"Heh, Bara! kamu jangan macem-macem, ya?! kalau Ridho tau, kamu bisa dijadiin ikan pepes tau, nggak!" ancamku.
"Hahahahhahahaha, dia nggak bakal dengerin kalian. Dasar manusia bodoh!" Vena tertawa.
Aku yang dikatain bodoh pengen banget ngejambak giginya. Beraninya dia nyiksa aku dan Mona kayak gini.
Vena yang kini negakin badannya jalan ke arah Bara yang daritadi diem aja duduk ngeliatin kita berdua. Dengan nggak tau malunya, Vena meluk Bara dari belakang dan menyeringai ke arah Mona. Beneran ini orang kayaknya rada-rada nggak waras.
Mona yang hatinya udah ancur, mlengos nggak mau ngeliatin apa yang dilakuin Vena.
"Kenapa kamu buang muka kayak gitu, Mon? hemm...?" tanya Vena.
__ADS_1
"Heh, perempuan jahanam! maksud kamu apa sih ngelakuin kayak gini sama Mona? dan kamu Bara! Mbak nggak nyangka ya, kamu malah sekongkolan sama nih perempuan sikopet! Mbak kira kamu tuh cowok baik-baik, tapi nggak taunya kamu itu Breng-sek juga ya!” aku nggak tahan nggak belain calon adik iparku yang udah nyanyi lagu 'kumenangis' di dalam batinnya yang tercabik-cabik.
Vena tegakin badannya dan ngambil lakban dan gunting yang tergeletak di ruangan ini, dia datengin aku dengan tersenyum penuh arti.
"Kamu tau ini apa?" Vena mainin gunting di tangannya.
"Venaaa! urusan kamu itu sama aku! jangan sakiti mbak Reva, dia nggak tau apa-apa! arrgh," kata Mona berusaha bergerak.
"Oh, perempuan yang nggak laku ini namanya Reva?" ucap Vena dengan nada mengejek.
Sreeeeeett!
Dengan cepat dia nyobek lakban dan mengguntingnya, "Dia terlalu berisik, dan aku nggak suka!" kata Vena yang langsung nutup mulutku dengan lakban warna item.
"Ven, lepasin mbak Reva! hiks..."
"Ssshhhhh, jangan nangis. Hahahahah..." Vena melempar benda yang ada di tangannya dan...
Greeppp!
Tangannya yang kurang ajar itu, ngejambak rambut Mona, "Nggak usah ngatur! kamu sendiri yang bawa dia kesini, ngerti?"
"Kamu itu kenapa sih, Ven? aku salah apa sama kamu?" ucap Mona.
"Kamu kenapa sih? aku salah apa sama kamu?" ucap Mona menya-menye niruin apa yang diucapin Mona.
"Hahahah, heh, kamu pikir Bara bakal nolongin kamu? nggak bakalan, Mona Sayang! karena dia ada di bawah kekuasaanku!" kata Vena.
"Dia itu punyaku, Mon! dia bakal nurutin apa yang aku mau!" ucap Vena.
Mona menggeleng.
"Kenapa? nggak percaya?" Vena ngelepasin rambut Mona gitu aja.
"Kamu itu wanita yang nggak tau diri! kamu itu sumber masalah, tau nggak?" Vena noyor kepala Mona.
"Aahhh, kamu masih inget nggak Mon? dengan laki-laki yang bernama Aldan?" tanya Mona.
"Aldan?" gumam Mona, dia berusaha amnggil ingatannya.
"DIA PERGI DARI RUMAH GARA-GARA KAMU! IBUKU KEHILANGAN ANAK LAKI-LAKINYA GARA-GARA PEREMPUAN NGGAK TAU DIRI KAYAK KAMU, MONAAAA!" bentak Vena.
Ekspresi Vena yang berubah-ubah begitu cepat, nakutin banget. Cewek-cewek model kayak gini yang bisa ngelakuin hal diluar batas tanpa rasa takut.
"Aku nggak tau itu, Venaaa!" ucap Mona.
"Aku heran kenapa juga dia suka perempuan aneh kayak kamu! perempuan yang nggak pernah nganggep dia ada!" kata Vena.
__ADS_1
"Tapi kita cuma..."
"Cuma apa, hah?" Vena menatap Mona dengan nyalang.
"Kamu cuma manfaatin kebaikan dia kan? buat beli barang-barang yang kamu suka?" tuduh Vena.
"Nggak, Ven! aku nggak pernah minta, beneran! aku malah balikin lagi apa yang dia udah kasih," jelas Mona.
Vena berjalan ke arah Bara, "Tutup mulutnya!"
Dan lagi Bara yang daritadi jadi patung pun, bergerak dan mengambil plester hitam yang udah berbentuk potongan di sakunya.
"Jangan, Bar!" Mona kembali memohon.
Tapi Bara nggak peduli, dia lakuin apa yang nenek sihir itu bilang. Bara menutup mulut Mona tanpa belas kasihan.
"Hemmmmmmppph!" Mona berusaha manggil Bara, usaha yang menurutku nggak ada gunanya.
Dan satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam dan sarung yang menyampir di pundaknya tiba-tiba aja dateng. Maap itu orang mau ngeronda apa gimana?
"Lakukan sekarang ki!" perintah Vena.
Dan ada satu orang lagi yang masuk ke ruangan ini buat naruh sesaji dan beberapa benda seperti dupa dan kemenyan yang udah dibakar.
"Maap itu dia pakai adat apa? kok dupa dicampur sama menyan? baunya bikin tenggorokan kering!" ucapku dalam hati.
Pria yang disebut 'Ki" oleh Vena itu, duduk bersila di bawah. Dia komat-kamit nggak jelas.
"Para arwah gentayangan, dimana pun kalian berada, datanglah kemariii!" seru pria tua itu.
Bara dan Vena cuma berdiri ngeliatin doang. Bara ekspresinya lempeng aja, sedabgkan Mona ngeliatin ke sekelilingnya.
"Panggil yang banyak buat mereka ketakutan!" ucap Vena.
Pria tua itu nggak ngejawab, dia hanya sibuk mit komat kamit dengan gerakan tangan yang absurd banget. Dia sibuk dan ribet sama cincin yang hampir ada di setiap jarinya yang bunyi berbenturan saat dia di gerakin ke sepuluh jarinya.
Dan setelah itu dia berdiri dan mebghpiri Vena dan Bara, "Mereka sudah perjalanan kesini. Petang nanti semua akan datang dan berkumpul disini,"
"Terima kasih, Ki Dhalu!" ucap Vena.
"Uangnya nanti saya transfer! sekarang Ki Dalu boleh pergi!" lanjut Vena.
"Tolong ditambah lagi, karena saya banyak mengeluarkan energi untuk ritual ini! dan bikin dia patuh sama kamu," Ki Dhalu nego harga. Dagunya nunjjuk ke arah Bara
"Ya ya ya, jangan khawatir!" Vena ngibasin tangannya nyuruh pria tua itu untuk pergi.
"Jadi Vena melakukan hal lain untuk mempengaruhi Bara? makanya dia berubah jadi sosok yang berbeda?" batinku bertanya-tanya.
__ADS_1