Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Hareudang


__ADS_3

Katanya sebentar, tapi sampai maghrib belum juga balik. Aku sih nunggunya di kamar, mondar mandir kayak setrikaan.


Baru juga mau keluar kamar, eh yang lagi dipikirin nongol juga dengan satu koper yang ada di tangannya.


"Dari mana aja? aku kira kamu diculik kalong wewe!" ucapku spontan.


"Aku? ngobrol di bawah sama Mama. Sekalian minta izin buat ngajak kamu ke rumahku, gimana pun kita udah nikah, dan kamu belum pernah ketemu sama ibuku..." kata Ridho.


Ya bener juga sih. Kita nikah tanpa hadirnya salah satu orangtua aja sebenrrnya udah nggak bener banget ya, durhaka lu jadi anak!


Lah iya kalau emaknya Ridho ngrestuin nah kalau nggak? masa iya aku jadi janda muda? Ih, amit-amiiiiit.


"Va....?" Ridho pegang pundakku.


"Eh, iya. Kenapa?"


"Setelah acara Ravel selesai, kita ke kampung halamanku. Aku mau kenalin kamu sama ibuku,"


"Iya, aku terserah kamu aja..." ucapku.


Ridho senyum sambil ngusap kepalaku, "Udha sholat maghrib?"


"U-dah..." aku kayak terhinotis sama senyumannya yang warbiiiazaah menawan sesuai namanya.


"Aku sholat dulu," Ridho nyosor pipiku dan ngeloyor ke kamar mandi buat ambil wudhu.


"Beeuuuh, mendadak gerah ya..." aku kibasin tangan dan keluar kamar.


Tapi baru aja aku mau jalan ke arah pintu tiba-tiba pintu balkon kebuka, dan angin mempermainkan tirai yang menjuntai panjang. Sekilas aku melihat wanita berkebaya lewat, kebaya yang persis dengan yang Ravel kenakan tadi pagi.


Sebelum Ridho keluar dari kamar mandi, buru-buru aku tutup lagi pintu balkon dan nutup tirainya.


"Ada apa?" tanya Ridho.


"Nggak ada apa-apa. Anginnya kenceng, jadi aku tutup tirainya, kayaknya mau ujan. Oh ya aku ambilin sajadahnya," kataku yang nfambil sajadah buat Ridho.


"Ini," aku kasihin alas buat sholat itu buat suamiku.


"Makasih, aku sholat dulu..." kata Ridho.


Ketika pria ini melakukan kewajibannya, pikiranku melayang sama sosok wanita berkebaya tadi. Siapa dia, dan kenapa tiba-tiba muncul di rumahku yang hampir nggak pernah ada gangguan makhluk halus.


Rasa penasaran itu segera aku tepis jauh-jauh. Karena nggak ada untungnya penasaran dengan para makhluk itu, aku yakin mereka sengaja mancing-mancing rasa penasaran kita, supaya mereka dinotice dan akhirnya bisa berinteraksi dengan kita.


"Va ... ngelamun?" tanya Ridho.


"Nggak, siapa yang ngelamun?" ucapku yang masih berdiri kayak patung. Ridho naruh sajadah yang udah dia lipet diatas kasur dan berjalan ke arahku.


"Jangan bohong," Ridho menarik pinggangku mendekat sedangkan tangan satunya mengusap lembut punggungku.


"A-aku nggak bohong, aku nggak ngelamun," kataku gugup saat mata kami bertemu.


"Kita turun ke bawah..." ucapku mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Buat ... buat apa ya? makan...?" aku nyari alesan.


"Nanti aja," kata Ridho.


"Sekarang aja..." kataku.


"Kenapa?" Ridho ngedeketin wajahnya, aku semakin doyong ke kebalakang hampir kayang.


"*H*aerudang, eh ... m-maksudnya disini agak panas, terus aku juga laper!"kataku, Ridho makin mengikis jarak.


"Ppfffh, laper? beneran?" Ridho nggak kuat nahan ketawanya.


"I-iya,"


"Ya udah..." kata Ridho.


"Ya udah?" aku malah bingung.


"Ya udah kita---" ucap Ridho menggantung.


"Kita...?" aku nggak bisa lepas dari tatapannya.


"Kita makan di bawah," ucap Ridho.


Dan ...


Cup....


"Ya udah, ayok. Makan..." Sekarang dia ngegandeng aku keluar kamar dan turun ke bawah.


Aku sedikit kecewa, eh.


Maksudnya, aku jadi lega gitu. Kan aku belum siap mental sebenernya buat yang aneh-aneh.


Dan di bawah ternyata udah ada calon penganten yang terpaksa ijabnya dipending besok, siapa lagi kalau bukan Ravel.


"Gandeng teroooos!" kata Ravel yang baru muncul dari arah taman belakang.


"Takut ilang, Vel!" kata Ridho nyautin ajah.


"Kamu ngapain magrib-maghrib ke taman belakang? semedi?"


"Nggak, cuma ngeliatin orang pada benerin dekorasi. Soalnya kan aku minta besok kembangnya jangan yang kayak kemarin. Aku minta nuansanya yang lebih ceria, biar besok bisa lancar ijabnya," kata Ravel yang kemudian jalan ke arah ruang makan.


"Bukan masalah nuansanya, tapi si Dilannya! pastiin dia udah hafal nama lengkap kamu!" celetuk Ridho, Ravel otomatis nengok sambil mleyotin bibirnya kesel.


Aku sikut perutnya kangmas, "Aaawwhhh!" Ridho memekik.


"Nggak usah dengerin. Si Dilan pasti semaleman ini komat kamit hafalin nama kamu, tenang aja, Vel!" kataku yang dorong Ravel buat lanjutin jalannya.


Kita duduk di ruang makan, Ravel nggak nyentuh nasi ataupun lauknya.

__ADS_1


"Mbak, tolong panggilin Mama. Kita semua udah kumpul mau makan gitu," ucapku pada Mbak Rosma.


"Baik, Non..." mbak Rosma langsung melaksanakan perintahku.


Aku liat ada kentang rebus di meja makan. Dan Ravel nyomotin gitu.


"Kamu nggak makan nasi?" aku nanya sambil ngambilin nasi buat kangmas.


"Mutih,"


"Apaan tuh?" aku heran.


"Iiishhh, disuruh mutih sama pakdhe


Nggak boleh makan sembarangan, katanya ijab kemarin gagal karena ada yang ganggu," ucap Ravel.


"Ijab kemarin gagal karena Dilannya lagi sakit, Adeeeeeekkkkkkk! bukan gara-gara gangguan syaithonirrojiiiim" ucapku gemes.


"Ya udah sih, kenapa Mbak yang marah? Nggak tau aku pokoknya aku disuruh mutih, titik!" kata Ravel.


"Lagian liat tuh piring, itu suaminya mau nguli apa gimana? dikasih lauk nggak, nasi doang segede gunung salak!" lanjut Ravel.


Aku yang ngeliat piring Ridho udah penuh pun cuma bisa nyengir, "Kebanyakan ya?"


"Tinggal dibagi dua aja sama kamu," kata Ridho.


"Rame banget kayak pasar," kata Mama yang tiba-tiba muncul.


Aku ambilin lauk, tapi Ridho geleng kepala. Katanya dia ambil sendiri aja. Beuh, bener-bener suami yang mandiri.


"Itu si Ravel kenapa makan cuma kayak gitu, Mah? apa nanti nggak lemes buat acara besok?" aku masih kepo.


"Dia lagi puasa mutih, harusnya sih dari kemarin-kemarin..." ucap mama yang kemudian duduk.


"Harus banget?"


"Ya gitu. Biar pas acara manglingi..." ucap mama.


"Bukan biar nggak diganggu setan?" aku ngomong sambil ngelirik adekku yang makan antara niat nggak niat.


"Bukan, itu cuma adat aja. Dilakuin syukur nggak juga ya udah nggak masalah..." ucap mama.


"Sudah, sudah ... kita semya makan dengan tenang dan jangan ada keributan. Kasian Ridho ntar dia puyeng denger kamu sama Ravel cekcok mulu!" ucap mama.


Dan kita pun menikmati makan malam sebagaimana mestinya. Setelah perut kenyang, aku ngajak Ridho buat ke area taman belakang yang ada kolam renangnya. Disana masih banyak orang yang sibuk mengganti semua tatanan dekorasi.


"Emang si Ravel paling jago ngabisin duit," ucapku sambil duduk di kursi.


"Nggak apa-apa, aku yang nyuruh kok!" kata Ridho.


"Maksudnya?"


"Ya aku yang nawarin Ravel. Kalau mau ganti dekor, biar suasananya beda nggak apa-apa. Nanti aku yang tanggung biayanya..." ucap Ridho.

__ADS_1


"Nggak mungkin kan kemarin kita nikah ditanggung sama Dilan? aku juga punya harga diri sebagai laki-laki..." lanjutnya.


__ADS_2