Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Mas Atau Mbak Kun?


__ADS_3

"Shiiiiiiit!" wanita itu mengumpat. Wanita yang berdandan seperti syaithonirrojim.


Sedangkan Mona udah ketakutan, tapi satu hal yang aku yakini kalau yang di hadapanku ini bukan setan 100%.


Dia yang menjelma sebagai wanita dengan rambut panjang terurai dan gaun putih yang menjuntai pun berniat buat kabur.


"Eeeeeeiiiittttsss! mau kemana kamuuuuu, hah!" aku jambak rambutnya, tapi ternyata rambut itu malah terlepas dari kepalanya.


"Rambut palsu?" aku buang rambut panjang yang hampir gimbal itu dengan jijik.


"Akkkh!" dia shock dan pegangin kepalanya sendiri, "Sialan!"


Aku yang udah menyadari kalau orang ini orang jahil yang sengaja menakuti Mona pun nggak tinggal diam.


"Mau kemana kamu, hah?" aku mendekat padanya.


Dia yang ngeliat aku pegang selang infus pun langsung menendang perutku.


Buuughh!!!


Dan mencabut paksa infus yang menancap di punggung tangan aing.


Aku jatuh, "Akkkh, sakit begooo!" aku memekik kesakitan memegangi perutku.


Wanita jadi-jadian itu melewatiku dan mencoba kabur tapi aku nggak hilang akal. Aku tarik bajunya yang kedodoran itu dan dia pun tersungkur sama seperti aku. Dia mencoba berdiri tapi aku tarik lagi bajunya, dia pun terjatuh untuk yang kedua kalinya bestie.


Sedangkan Mona menjerit histeris, "Aaaaaaarrghhhhhh!"


Aku nggak peduliin Mona yang jejeritan, aku tarik paksa dia yang kini menjerit kesakitan karena aku tarik kenceng ke belakang, "Aaakkkkkh!"


Dengan cepat aku kunci tangannya ke belakang dia tertidur dengan posisi telungkup, "Siapa kamu, hah? berani-beraninya gangguin adekku, Mona!"


Sengaja aku tahan dia dengan kedua kakiku yang mengapit badannya yang kini susah bergerak.


"JAWABBBBB! KAMU SIAPA, HAH?" teriakku aambil ngejambak rambutnya ke belakang, darah mengucur dari punggung tanganku yang terluka karena selang infus yang dicabut secara paksa.


"Arrrghhhh, hhh ... hhhh..." Mona malah ngejerit meringkuk ketakutan.


"Jangan takut, Mon! dia ini manusia yang pura-pura jadi SETAN!"


Aku tekan pipinya ke lantai, "Jangan macam-macam kamu ya! aku nggak bakal tinggal diam jika ada yang mengusik keluargaku!"


"Revaaaaaa? Revaaa kamu sedang apa?" tanya Ridho yang kaget melihat aku yang sedang menahan seseorang di lantai.


"Tanyanya nanti aja, sini bantuin!" ucapku yang sebenernya udah kewalahan nahan badan ini orang.


Ridho pun segera mengambil alih apa yang dipegang aku daritadi.

__ADS_1


"Bangun!" aku nyuruh makhluk jadi-jadian itu berdiri.


Aku bergerak ke lemari pakaian dan mengambil satu baju kemeja punyaku.


"Iket tangannya pakai ini!" aku kasih ke Ridho. Aku masih mengabaikan Mona yang masih ketakutan liat itu makhluk yang sengaja mau nakut-nakutin dia.


Setelah Ridho selesai mengikat tangan tuh orang ke belakang, barulah aku menghampiri Mona.


"Ssshhh, nggak apa-apa, Mon! itu setan bohong-bohongan!" aku peluk calon adik ipar.


Ridho mulai mencecar orang itu dengan berbagai pertanyaan.


"Kamu siapa, hem? kenapa kamu meneror adikku?" tanya Ridho. Tapi wanita ini masih nggak mau ngomong.


"Oke, nggak mau ngaku! kita panggil security supaya kamu diseret ke kantor polisi! lumayan lah kamu bisa banyak teman dan makan minum gratis disana!" ancam Ridho.


"J-jangan!" dia mulai bersuara tapi kok suaranya lakik ya. Apa dia punya keahlian dalam mengubah suara?


Atau bisa jadi dia sengaja nelen sound card, biar suaranya biar diatur sesuka hati, gitu?


"Kok suaranya jadi cowok, Dho?" ucapku.


"Lah emang tadinya?" Ridho mnegerutkan keningnya.


"Cewek, dia ketawa kayak kunti gitu. Liat aja kostumnya!" aku nunjukin rambut panjang yang tergeletak di lantai dan juga pakaian yang dipakai tuh orang.


"Nih, suaranya dari sini, nih!" Ridho nunjukin sebuah rekaman suara dari hape yang diputer suara mbak kun.


"Simpen aja, Dho! biar jadi barang bukti!" ucapku pada kangmas.


Kalau kayak gini emang otak aku tokcer, sat set sat set langsung peka apa yang harus dilakuin.


Sedangkan Mona masih meluk aku, dia kayaknya emang takut banget liat penampakan ini manusia. Emang aku akuin dandanannya mirip banget sama setan asli.


"Dho? ambil air pakai kain, terus kamu bersihin make up tebel tuh orang. Biar kita tau wajah aslinya! sekalian kakinya diiket juga, biar nggak bisa kabur" usulku.


"Bener juga kamu, Va!" kata Ridho. Dia langsung ngiket kaki si mas-mas yang menjelma jadi mbak kun dengan sarung bantal guling yang sengaja aku lepasin dan aku kasihin ke Ridho.


Dia korbanin satu kaos pendek punya Mona yang ada di tas buat dia basahin pakai air dan ngelap tuh muka manusia nggak beradab. Bisa jadi gangguan yang kita alami di kontrakan itu ya salah satunya ulah orang ini.


"Aaarhhh!" orang itu memekik.


Ya iyalah, lha wong kangmas Ridho ngelapnya udah kayak lagi ngelap kompor. Baru juga diusek-usek mukanya udah kesakitan, nih perut aku yang dia tendang apa nggak lebih sakit. Beraninya sama perempuan, dasar cangcarimen.


"Diem nggak!" Ridho kayaknya udah dendam kesumat, dia nggak pakai koma-koma tuh ngegosok muka cowok ini.


"Aahhh! kamu tuh pake make up apa pakai cet tembok sih! susah amat!" ucap Ridho yang kesel karena kerjaannya nggak kelar-kelar.

__ADS_1


"Itu harusnya pakai make up remover, Dho! tapi berhubung nggak ada, udah gosokin lagi aja terus!" ucapku sambil tetep meluk Mona.


"Nggak apa-apa Mon, itu tuh orang bukan setan!" ucapku pada Mona.


Emang manusia kadang lebih nyeremin daripada setan. Kalau orang tuh ada istilahnya 'kesetanan' tapi setan tuh nggak ada istilah 'keorangan', iya kan? Sampai sini aja udah jelas manusia bisa ngelakuin tindakan melebihi setan.


Dan setelah ngegosok dengan penuh dedikasi dan perjuangan, akhirnya muka si kunti jadi-jadian pun alhirnya terpampang nyata.


Ridho segera ngeluarin hapenya, dia jepret tuh muka si pembuat onar dan nyamperin kita yang lagi ada di tempat tidur, ninggalin si kunti itu uget-uget nggak jelas.


"Kamu kenal orang ini, Va?" tanya Ridho ke aku.


Aku perhatikan dengan jelas, "Nggak sih, aku nggak kenal, Dho!"


Ridho dengan hati-hati mengarahkan hapenya ke Mona, "Mon, liat baik-baik. Kamu kenal nggak sama orang ini?"


Saat Mona melihat ke layar hape kangmas, matanya membulat. Kayaknya dia terkejut dengan apa yang dilihatnya di benda pipih itu.


"Kamu kenal, Mon?" tanya Ridho.


Mona ngangguk, "Aris, d-dia temen Bara!" ucap Mona.


"Temennya Bara? maksudnya?" aku natap kangmas.


"Jadi dia satu kampus sama kamu?" tanya Ridho, dan Mona ngangguk lagi.


"Wah nggak bener ini!" Ridho nyamperin tuh orang.


"Banguuun!" Ridho tarik paksa orang itu buat duduk di sofa dengan tangan dan kaki yang diikat.


"Apa tujuan kamu untuk meneror Mona dengan cara seperti ini? cepat katakan!" tanya Ridho dengan emosi yang udah meluap, meluber sampai mbleber.


Orang itu nggak berani ngejawab, perasaan sebelum ketangkep dia dengan santainya cosplay jadi hantu. Giliran sekarang dia malah kicep.


"Kamu punya masalah apa dengan Mona, hah? kalau kamu masih diam, aku akan seret kamu ke kantor polisi malam ini juga!" Ridho jambak rambut laki-laki yang dikenali dengan nama Aris.


"J-jangan! aku c-cuma disuruh!" ucapnya.


"Katakan, siapa orang itu?" tanya Ridho.


"Ehm, d-dia..."


"CEPAT KATAKAN! JANGAN BERTELE-TELE!" Ridho membentak orang itu.


"V-Venaaaa!" ucap pria itu terbata-bata.


"Vena? kayak pernah denger nama itu..." gumamku.

__ADS_1


__ADS_2