
"Tunggu aku akan kesana!" ucap seorang laki-laki.
Aku yang panik dan ketakutan mendadak blank otaknya. Nggak tau dah tadi suara siapa, yang jelas sekarang lampu lift mendadak mati total.
"Aaaaaaargghhh!" aku pencetin tombol emergency terus-terusan sampai bosen.
Dan sialnya lagi, hapeku udah lowbat. Daya tinggal 2%, dengan situasi yang kayak gini aku udah pasrah aja.
"Toloooooongg, uhuuukk!" aku gedor-gedor pintu besi sialan ini.
"Uhuuuuukkk,"
Napas aing udah sesek, astaghfirllah.
"Aaaakkkkh!" aku mencoba ngebuka pakai tangan pintu yang tertutup rapat. Ya kali aja ada keajaiban, tau-tau aku punya tenaga super dan bisa ngebuka nih pintu pakai tangan sendiri.
Tapi itu hanyalah angan-angan belaka. Nyatanya pintu kamfret ini sangat susah buat dibuka. Bahkan bukan cuma hape yang lowbat, tapi aku juga udah mulai lemes nggak ada tenaga.
Brukkk!
Aku terjatuh, "Akkh!" aku pepeting punggung ke dinding besi yang dingin.
"Gimana kalau, nggak ada orang yang nolongin aku?" aku mulai pesimis, dengan keringat yang mengucur dari dahi.
"Apa aku bakal nyusulin Papa ke alam baka? kalau iya, gimana nanti mama dan Ravel? siapa yang bakal bantuin mama buat biayain sekolahnya tuh bocah?" ucapku dengan nafas terengah-engah.
"Gimana kalau aku ... hhh ... akh, gimana caranya keluar dari siniiih!" aku berusaha menggapai tombol tapi gagal. Tubuhku merosot dengan sendirinya seakan bener-bener nggak berdaya.
Aku ngerasa badanku makin lama makin lemes, mungkin karena kadar oksigen dalam ruang sempit ini yang semakin berkurang. Otakku pun jadi agak lemot dari biasanya. Dan samar-samar aku denger ada orang gedebag-gedebug di luar. Entahlah, yang jelas sekarang aku susah banget buat buka mata.
Braaaaaaakkkkk!!!!
Ada seseorang laki-laki dan beberapa orang yang ramai di depan pintu lift yang kini sudah terbuka.
Sedangkan mataku nggak bisa diajak kompromi, dia menutup dengan sendirinya.
"Revaaaaaaa!" teriak seorang laki-laki yang suaranya makin lama makin menghilang.
.
.
Di dihidungku yang menawan dan mempesona ini tercium aroma obat-obatan. Badanku kayaknya remek banget, pengen melek aja susah rasanya. Apa aku udah ada di surga? tapi di surga emang baunya begini ya dengan mulut yang kayaknya dipasangi semacam penutup yang menyuplai oksigen.
Lama-lama aku ngerasa kalau ada yang genggam tanganku, tapi siapa?
"Va..." suara itu memanggilku dengan lembut tapi terasa asing. Maksudnya suara ini biasanya nggak begini nadanya.
Dan pas aku buka mata...
__ADS_1
Ternyata bukan Ridho yang ada genggam tanganku, melainkan sosok orang yang biasanya sombong dan galaknya udah nggak tertolong, "Pak Karan?" lirihku.
"Reva? syukurlah akhirnya kamu sadar!" ucap pria itu.
Aku dengan segera melepas genggaman tangannya, dan mencari dimana keberadaan Ridho.
Aku yang mau turun dicegah sama adek sepupu, "Kamu mau kemana? kamu belum pulih..."
"Minggir..." kataku lirih sambil membuka masker oksigen yang terpasang menutupi hidung dan mulutku.
"Reva jangan melawan. Sekarang kamu diam karena saya mau panggilkan dokter!" ucapnya dengan tegas.
Sedangkan aku juga nggak bisa ngapa-ngapain. Tangan kiriku dipasang infus, dan sama sekali ggak berani main cabut. Takut darahku ngucur kemana-mana.
Pak Karan memencet tombol bantuan dan ya beberapa orang datang buat memeriksa keadaanku. Dia nanya pertanyaan dasar seperti nama, umur dan beberapa pertanyaan sepele lainnya.
"Semuanya normal, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan" ucap dokter perempuan muda yang kayaknya salting ngadepin adek sepupu.
"Kalau begitu kau boleh pergi!" kata pak Karan.
"Hah?" si dokter ngah ngoh.
"Apa kau tidak dengar? saya bilang kau boleh pergi se-ka-rang!" ucap pak Karan penuh penekanan.
"Oh, emh, ya ... kalau begitu saya permisi," kata si dokter yang kemudian pergi meninggalkan aku dengan manusia kutub ini.
"Whaaaat, Moooonaa?" aku langsung terbangun dengan panik.
"Sudah jam berapa ini? aku udah ninggalin Mona terlalu lama!" aku celingukan mencari jam dinding.
"J-jam 5? 5 sore apa 5 pagi ini?" aku yang bingung mutusin buat turun dari tempat tidur. Ngeliat jendela dengan tirai terbuka dan nampak semburat senja di langit, sudah menjadi jawaban atas pertanyaanku tadi.
"Kamu mau kemana? kamu masih perlu istirahat!" pak Karan mencegahku.
Tapi aku takut kalau Ridho marah kalau aku ngilang selama beberapa jam.
"Aku cuma mau liat jendela!" kataku beralasan. Padahal aku mau kabur dari ruangan ini
"Buat apa?"
"Mau cari pemandangan yang enak buat diliat!" jawabku asal.
"Jangan macam-macam!" suara pak Karan ngegas kayak lagi di tanjakan.
Semakin dilarang aku jadi semakin kesal dan pengen ngelakuin. Aku cabut infus yang ada di tanganku dan turun dari ranjang.
"Hey, kau sudah gila, ya?" ucap pak Karan.
"Memang!"
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu lakukan, hah!" Pak Karan meraih tanganku, tapi aku segera mengigit punggung tangannya yang memegangiku.
"Aaaaerrggggghh!" dia memekik sambil memegangi tangannya yang habis ditancepin gigi-gigiku.
Tanpa aba-aba aku bergerak cepat menuju pintu.
"Heyyyyy, Revaaaaa!! tunggu!" pak Karan teriak
Sedangkan aku berlari dan keluar dari kamar tanpa memperdulikan mantan bos yang ikutan ngejar aku. Ngeliat lift, aku mendadak trauma.
"Hey, jangan lari!" teriak pak Karan lagi
Tapi aku nggak ada pilihan, aku masuk dan secepatnya tekan tombol tutup pintu. Beruntung aku udah ada di dalam sini sebelum pak Karan berhasil menangkapku.
Aku berkeringat, dan gemetar. Terjebak di dalam kotak kayak gini membuat aku sedikit takut.
Mata nggak berhenti mengawasi angka yang ada di lift ini, "Hhhh ... hhh..."
"Please jangan ngadat!" aku berdoa supaya ini lift nggak kumat-kumatan lagi.
Ting!
Akhirnya bunyi yang dinanti-nantikan terdengar juga. Aku dengan susah payah menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti di sebuah ruangan.
Ceklek!
"Monaaa..." aku ngeliat Mona sedang ditemani Bara.
"Astaga, Mbak Reva! Mbak Reva darimana saja, Mbak?" ucap Bara.
"Aku..."
"Bukannya kamu lagi dirawat?" ucap kangmas tiba-tiba muncul dari dalam toilet.
"Maaf aku nggak bisa nolongin," kata Ridho lagi sambil jalan ke arah sofa.
Sedangkan aku masih jadi patung di depan pintu.
"Nggak apa-apa, yang penting aku udah--"
"Diselametin pak Karan!" serobot Ridho.
Bara pun melihat kami secara bergantian sedangkan Mona lagi tidur.
Aku berjalan satu langkah demi satu langkah, aku yakin Ridho lagi salah paham. Tapi bukankah yang penting sekarang aku nggak kenapa-napa? Kenapa dia nggak peluk aku dan mensyukuri kalau aku masih hidup spai detik ini.
"Dho..." aku panggil dia pelan.
"Jangan disini, kita bicara di luar!" ucap Ridho yang berjalan melewati aku begitu aja.
__ADS_1