Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Gagal Pergi


__ADS_3

Ridho sempet ngechat katanya mau nelpon, cuma si kang decor tiba-tiba dateng groyokan. Aku yang lagi diawasi mama ya nggak bisa berkutik.


Aku cuma bisa bales via chat, itu juga jawabnya dikit-dikit. Emak-emak emang paling suka kembang, nih contohnya mamaku. Ini rumah udah kaya kebon bunga, semuanya ornamennya kembang. Katanya sih biar dapet kesan sakralnya. Aku mah yang nggak ngerti cuma manggut-manggut aja, kasian juga ini si Dilan. Keluar duit banyak dia buat bikin kayak beginian.


Mungkin bisa juga tuh sambil dicemilin si Ravel, biar dia juga dapet aura-aura mistisnya. Ini mau nikah apa uka-uka? Au dah!


"Mas, yang disebelah sini jangan lupa kasih lagi bunganya," kataku sok nyuruh.


"Udah penuh, Mbak. Malah jelek nanti kesannyabejubel gitu," kata si masnya.


Ya aku sih biar mama denger aja aku lagi ngatur-ngatur, padahal mah mataku ke hape yang ada di tangan.


"Vaaa? kamu ngapain adek kamu?" tanya Mama.


"Ngapain? nggak ngapa-ngapain kok," aku sakuin hape di kantong.


"Ya itu si Ravel sampe blepotan tepung,"


"Kan emang syarat ketentuan berlaku, Mah! kalau dia mau ngelangkahin aku, ya dia harus bikinin aku klepon sama onde-onde, Mah!" aku bela diri.


"Kamu itu kalau ngerjain Ravel suka kelewatan. Nggak Ravel nggak kamu kan sama-sama nggak pernah nyentuh dapur. Mana tau dia bikin jajanan pasar kayak gitu," kata mama.


"Ya kan ada Mbak Rosma yang siap membantu, Mah! dia kan bentar lagi mau jadi istri, bisa lah bikin jajanan kayak gitu doang masa nggak sanggup?"


Padahal aku juga nggak tau gimana caranya. Orang bikin telur gulung aja ada pait-paitnya, apalagi bikin klepon.


Mama lagi riweuh ngatur-ngatur orang ini kesempatan aku buat kabur. Aku lari ke kamar buat ngambil dompet sama kunci mobil.


"Mumpung bisa keluar," ucapku sambil mengendap-endap kayak maling, jalan ke garasi.


"Mau kemana, Mbaaak?" tanya Ravel. Yang ngagetin.


"Mbak, mau beli sabun!" kataku asal.


"Sabun? sabun apa? sabun kucing? kan stock sebulan masih aman!" kata Ravel.


"Tuh aku udah bikinin pesenan, Mbak! onde dan klepon, ada di meja makan!" Ravel menatap aku dengan tatapan menelisik.


"Nanti aja, Mbak mau keluar bentar,"


"Nggak bisa! aku udah capek-capek bikin terus mbak Reva seenaknya main pergi aja, oohhh tidaaaakkk bisaaaa...." Ravel ngedorong aku supaya masuk lagi.


"Atau aku teriak nih? Maaaahhh?" Ravel tereak, buru-buru aku bekep mulutnya yang minim akhlak itu.


"Apa-apaan sih kamu, Vel?" aku lepasin bekepanku tadi.

__ADS_1


"Ya abisnya, aku udah capek-capek..."


"Lebay! kamu paling juga cuma aduk-aduk doang," aku ngedumel karena gagal mau kabur dan nemuin Ridho.


Harusnya kan Ravel lumayan buruh waktu lama buat bikin klepon. Tapi kok ini lumayan cepet dari perkiraanku.


"Ini kleponnya, dan yang ini onde-ondenya," ucap Ravel.


"Iya udah tau!" aku duduk di meja makan.


"Mau minum apa, Non?" tanya Mbak Rosma.


"Teh tawar anget aja," kataku, ya lumayan buat ngurangin konsumsi gula harian.


"Haiish, dibilang jangan panggil Nan Non Nan Non, masiih aja suka keceplosan gitu!"


"Iya Non, eh Mbak..." kata Mbak Rosma.


"Kamu makan dulu," ucapku nyodorin satu piring kecil berisi tiga butir klepon dengan taburan kelapa parut.


"Astaga, emang kenapa? orang enak kayak gini kok!" Rravel ngejejelin mulutnya dengan dua klepon sekaligus.


Setelah dirasa aman aku pun mengikuti Ravel, emang rasanya enak. Apa lagi dimakan anget-anget kayak gini.


Tapi waktu aku mau minum, "Pwwiiiiihh, Mbaaaaaak? ini kok tehnya aneehhhh!" aku protes sama Mbak Rosma.


"Tauk nih bikin orang kaget aja, untung aku nggak keselek nih klepon!" Ravel natap aku kesel.


"Mbaaak, aku kan minta teh tawar panas. Ini kenapa yang dateng rasanya aneh kayak gini?" aku tunjukin cangkir yang kebetulan warnanya biru gelap. Jadi warna airnya nggak begitu keliatan jelas, aku ngertinya ya teh biasa.


"Oh, itu ... apa ya," Mbak Rosma keliatan bingung.


"Ini apaan, Mbaaak? aku nggak pernah ngerasain minuman seaneh ini. Apa tehnya udah kadaluarsa apa gimana? coba cek expired date-nya," aku nyuruh mbak Rosma yang kliatannya gugup.


"Itu bukan teh, Non..."


"Kalau bukan teh terus apa?" tanyaku heran.


"Jamu, Non!" ucap Mbak Rosma


"Aku kan mintanya teh, Mbak. Bukan jamu..."


"Itu, tadi ibu yang nyuruh," sahut Mbak Rosma.


"Non Ravel juga disuruh minum," lanjutnya.

__ADS_1


"Aku nggak mau, ah! kalau nggak enak aku nggak mau," Ravel geleng-geleng kepala.


"Biar apa sihhh?" aku kepo.


"Biar sehat," sahut Mama.


"Lah, Reva nggak pernah min kayak ginian, Maah..."


"Mbak tolong buatin minum buat orang-orang di depan," suruh Mama.


"Baik, Bu..." Mbak Rosma yang langsung melaksanakan perintah.


Mama narik kursi dan duduk, sempet juga nyomot satu onde-onde yang isinya kacang yang dialusin, "Minum aja, kamu sama Ravel bakal capek banget, acaranya padet. Biar badannya nggak loyo, terus supayaaaa pas dirias nggak keringetan..." kata Mama.


"Kan dia yang mau jadi penganten, Mah!"


"Diih," Ravel naikin satu sudut bibirnya.


"Ravel emang jadi pengantennya, tapi emangnya kamu cuma mau pakai bedak bayi? nggak ditancap sana sini? kan jelek nanti kalau pas di bedakin, terus bedaknya luntur karena kamu keringetan," jelas Mama panjang kali lebar.


"Jadi sekarang, kalian minum!" kata Mama.


"Maaaaah..." aku sama Ravel kali ini kompak.


"Minum!" Mama ambil cangkir dan nyekokin aku sama Ravel minuman yang kayak teh warnanya merah tapi sumpeh, nggak banget rasanya.


Glekkkk!


Gleekkk!


Gleekkk!


"Nah, gitu kan pinter!" puji Mama. Setelah berhasil ngelakuin apa yang aku dan Ravel nggak suka.


"Mama mau ke kamar, capek! oh ya, Reva kamu jangan kemana-mana. Nanti ada orang salon yang bakal dateng, buat masage kamu sama Ravel. Mama tau kalian berdua pasti capek, biar pada fresh nggak lemes kayak kerupuk yang dikasih air," kata Mama yang kemudian pergi ninggalin aku sama Ravel di ruang makan.


"Kamu yang mau nikah aku yang ikutan apes minum kayak gituan!" aku ngelirik Ravel kesel.


"Kok aku? yang nyekokin juga Mama!" Adekku nggak mau disalahin.


"Terus di pijat-pijetnya mau dimana?" tanya Ravel.


"Yang jelas nggak diteras rumah!" jawabku yang juga ninggalin Ravel.


Aiih, kesel banget. Nggak bisa pergi karena pasti kalau aku ngilang pasti ketauan. Dan akhirnya aku cuma bisa balik ke kamar buat nelfon kangmas.

__ADS_1


"Halooowhhh?" ucapku saat pintu kamar udah dikunci.


__ADS_2