
"Gimana ya, Mon?" aku bingung harus jawab gimana.
"Kamu tanya mas kamu aja, Mon. Mbak nggak berani ngijinin..." lanjutku.
Ya kali aku ngijinin dia pergi, ntar kalau Ridho nanya gimana. Aku mau jawab apa coba. Menurutku mah anteng aja dulu di rumah, kita nggak tau apa yang lagi dilakuin sama Ridho
"Yah, cuma bentaran doang, Mbaaak!"
"Mau semenit kek dua menit, Mbak nggak berani ngijinin kamu, Mon. Mbak takut salah,' kataku. Kita nggak tau seberapa gencar si Vena ngincer Mona.
"Sebentaaaarr aja, Mbak. Kalau perlu mbak Reva ikut deh!" Mona masih mode ngebujuk.
"Ya ampun, Mon..."
"Ya ampun, Mbaaaakk! tolongin aku napa, Mbak..." ucap Mona.
"Ya udah, ya udah. Kalian mau ketemuannya dimana?"
"Dia udah share-loc nih!" ucap Mona, liatin hapenya.
Aku ngambil tas kecil dulu di kamar, ya kan nggak mungkin kita pergi tanpa bawa duit sepeser pun. Bisa lontang-lantung di jalan yang ada.
Pas ketemu Mona lagi di ruang tengah aku baru inget, kalau rumah ini kan banyak penjaganya. Dan otomatis kita nggak bisa sembarangan pergi dari sini tanpa seijin yang punya rumah, pak Karan maksudnya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Mona yang berdiri nyamperin aku.
"Kayaknya rencana kamu bakalan susah buat dilakuin deh, Mon!"
"Kenapa?" Mona menautkan dua alisnya.
"Disini penjaganya segambreng, Mon! bukan satu dua orang lagi. Bisa jadi lebih dari itu..."
"Terus?" Mona masih belum nyambung.
"Terus kita nggak bisa lah seenaknya keluar masuk rumah ini. Karena para penjaga itu nggak mungkin ngijinin juga..." jelasku.
"Terus gimana, dong?"
Aku duduk lagi di sofa, sambil pijit-pijit kepala yang puyeng ngadepin adik ipar yang ngebet banget pengen ketemu gebetannya. Nggak tau apa kita juga kangen ama pacar, tapi kan liat sikon juga. Ini di daerah mana juga aku nggak tau, semalem kan aku merem nggak memperhatikan jalanan.
"Mbaaaaaak!" Mona ngegoyangin badanku.
"Bentar, Mon! Mbak lagi mikir," aku makin pusing aja rasanya.
Tiba-tiba mbak Santi lewat.
"Non? Non Reva sakit?" tanya mbak Santi yang ngira aku sakit karena tanganku yang nggak berhenti mijitin kepala yang nyut-nyutan.
__ADS_1
"Oh, iya mbak. Dikit..."
"Emang mbak Reva sakit, Mbak?" Mona malah nanya.
"Mau saya buatkan teh panas?" tanya mbak Santi.
"Kalau bisa air jahe aja, Mbak. Jahenya digeprek terus di masak sama gula merah. Jangan terlalu manis ya..." kataku.
"Oh Non Reva lagi pengen jahe panas. Ya sebentar, saya buatkan..." kata mbak Santi.
Selepas mbak Santi pergi ke dapur, aku benerin posisi duduk.
"Emang muka Mbak keliatan pucet, Mon?" aku nanya Mona.
"Nggak sih," sahut Mona.
Aku ambil tisu dan ngelap liptint di bibir, "Kalau kayak gini agak pucet nggak?" tanyaku lagi.
"Mbak lagi kenapa, sih?"
"Udah jawab aja. Kamu ini mau dibantuin apa nggak, sih?" aku gemes banget sama Mona.
"Ya mau lah!"
"Ini lebih keliatan pucet apa nggak?" aku nengok ke Mona.
"Ya lumayan," jawab Mona.
Aku senserin punggungku di sofa, sambil pijitin kepala lagi.
"Emang pusing banget ya, Mbak?" tanya Mona.
"Banget;" jawablu penuh penekanan.
"Ya elah, Mbak Reva. Sewot aja daritadi. Ini kita nungguin mbak Santi selesai bikin jahe gitu? nggak kelamaan? mending kita kabur sekarang aja, Mbak!"
"Ya ampun Monaaaa. Ini juga lagi diusahain," aku makin grememet sama adeknya Ridho nih. Pengen banget nyumpel mulut Mona pakai cabe kriting.
Ditengah kegadungan kita berdua, mbak Santi datang dengan secangkir jahe panas. Baunya aja udah aromatik banget. Cuma actingku disini sedang diuji. Aku harus bikin mbak Santi percaya kalau aku lagi sakit.
"Silakan, Non..."
"Jangan panggil, Non! panggil Reva aja, kepala saya tambah sakit kalau dipanggil Nan Non Nan Non..." kataku sembari ngambil cangkir yang ada di depanku.
"Saya tidak berani, Non. Bisa-bisa saya dimarahi, Tuan..." kata mbak Santi.
"Tenang aja, ntar saya marahin balik!" kataku enteng, kayak berani aja ngadepin beruang kutub.
__ADS_1
Aku mulai menyeruput minuman jahe itu, "Aakkkh...". pas mau naro aku pura-pura lemes, tumpah lah itu minuman jahe yang aslinya aku doyan banget dan pengen lagi. Tapi gimana si Mona manyun-manyun bae pengen cepetan ketemu sama Bara.
"Non Reva tidak apa-apa?" tanya mbak Santi.
"Nggak apa-apa, Mbak. Akhhhhhh!" aku pegangin kepala.
"Kalau begitu biar saya telfon tuan, kalau Non Reva sedang sakit..." ucap mbak Santi.
"J-jangan, Mbakkk!" aku melarang mbak Santi melakukan itu.
Mona ih, bantuin napa. Dia kok diem aja, nggak ada sumbangsihnya dalam ngadalin orang-orang di rumah ini. Awas aja, kalau udah berhasil kabur, aku pites nih calon adik ipar.
"Jangan, Mbak!" kata Mona.
"Nanti saya aja yang bawa mbak saya ini ke rumah sakit. Kayaknya kepalanya butuh di rontgent, takut ada yang membahayakan!" lanjut Mona.
Deuuh, daritadi kek bantuinnya. Kalau kayak gini kan aku tonggal pura-pura lemes.
"Minta tolong kasih tau yang di depan aja, siapin mobil. Kita mau ke rumah sakit..." kata Mona.
Nah, sinyal otak Mona udah mulai lancar nih. Buktinya dia udah nyambung sama apa yang aku maksud.
"Sebentar, saya bilang dulu ke depan!" kata mbak Santi yang ninggalin kita gitu aja.
"Daritadi kek!" aku nyeletuk ke Mona.
"Ya maap, aku kan lagi buffering bentar tadi, Mbak!" kata Mona bela diri.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah laki orang bukan setan, terdengar semakim dekat.
"Mbak pura-pura lemes lagi, mbak!" kata Mona.
Aku pun nurut, aku pegang kepala sambil mengaduh kesakitan.
"Kita mau ke rumah sakit. Mbak saya mau periksa kepalanya..." kata Mona yang nyuruh aku berdiri. Tapi aku bersandar ke badan mungil Mona yang keliatan kewalahan nopang badan aku yang lebih gede dari dia.
"Biar kami bantu, Nona..." ucap pengawal yang mau memapahku.
Tapi Mona menepis tangan para pengawal itu, "Jangan sentuh mbakku! biar aku aja, kalian cukup antar kami ke rumah sakit!" kata Mkna galak.
Dan dengan adegan penuh drama, aku dan Mona keluar dari rumah ini dan masuk ke dalam salah satu mobil mewah milik pak Karan. Tujuan kita ke rumah sakit terdekat, yang sebenarnya cuma jadi alasan aja supaya bisa kekyar dari rumah itu dengan tanpa selundup menyelundup.
__ADS_1
Mona ngetik sesuatu di hapenya, mungkin dia lagi ngabarin Bara buat nentuin tempat ketemuan mereka. Dan aku harus siap-siap jadi kacang klitik, kacang atom atau kacang rebus.
"Bentar lagi kita nyampe, Mbak!" Mona berbisik di telingaku.