Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Tas Yang Ketinggalan


__ADS_3

Paginya, aku kelimpungan nyari hape dan dompet. Aku baru inget kalau kemarin aku ninggalin tas gitu aja di mobil Ridho. Dan sekarang aku lagi glatakan nyari duit, buat ongkos naik taksi ke kantor. Miris banget, kan?


"Gara-gara si kutu kupret itu! aku jadi ngegembel kayak gini, nyari duit yang nyelip!" aku coba ngerogoh saku baju-bju yang belum masuk mesin cuci. Ya kali ada duit seratus ribu yang nyempil gitu kan. Dari Semalem aku apes banget. Udah diliatin penampakan, eh paginya malah riweuh kayak gini. Begonya aku nggak catet nomor Arlin atau siapapun yang bisa nolongin aku disaat genting. Ah, terlalu ceroboh.


"Alhamdulillah, celana pembawa berkah! thank yooouuuu!" aku serasa nemuin harta karun.


Ada duit dua ratus ribu, lumayan jadi penyelamat pagi ini. Aku cukup makan roti dan minum susu buat mengganjal perut yang udah nggak keroncongan lagi, tapi dangdutan, kosidahan, sampai udah acakadul musik apaan yang bunyi selain krak kruk nggak jelas.


Dulu susah payah aku buat bangun pagi ngejar buat nyetorin muka ke mesin absen. Sekarang karena aku yang punya tuh perusahaan, aku jadi santai terkesan males dan sering bangun siang. Nggak patut buat dicontoh ya. Aku nyadar kalau itu salah, tapi susah banget buat ngerubah itu.


Sekarang masih jam 8 pagi saat aku keluar dari unitku ini.


Dan ketika aku berbalik, aku berpapasan sama penghuni unit sebelah. Dia kayaknya baru pulang karena mukanya kek orang yang belum istirahat semaleman. Aku cuma lempar senyum seadanya.


"Mau berangkat kerja?" tanya cowok itu.


"Iya. Aku duluan, ya..." ucapku, sekedar sopan santun.


"Take care!" ucapnya sebelum masuk dan menutup pintu. Sungguh laki-laki yang irit ngomong.


Aku nerusin langkah buat jalan ke luar gedung apartemen ini. Aku sengaja nungguin di pinggir jalan, sambil longak-longok kali aja ada taksi yang lewat.


Pegel juga nih leher nengok ke satu arah mulu, udah gitu sekalinya ada taksi lewat dia nggak mau berhenti. Mungkin dia lagi bawa penumpang, "Aiiih, nggak mau berhentiii!" ucapku kesal.


"Mana kaki udah pegel!" aku pukul-pukul pelan nih paha.


Salah banget aku pakai heels kayak begindang, tapi nggak mungkin aku copot dan berdiri tanpa alas kaki dong.


Setelah berdiri hampir setengah jam, akhirnya ada juga tuh taksi yang berhenti ngerespon tanganku yang aku julurin ke depan.


"Jalan, Pak!" ucapku setelah masuk dan menutup pintu mobil. Aku pijit sendiri betis yang kerasa kenceng, otot-otot kaki tuh kayak tegang banget.


Untungnya aku pakai setelan celana panjang, jadi kalau terpaksanya nggak nemu taksi, ngojek pun jadi. Yang penting bisa nyampe ke kantor dengan selamat.


Sesampainya di kantor, aku langsung menuju ke ruanganku dengan muka yang bete abis.


"Selamat pagi, Nona..." ucap Arlin yang ngekorin aku masuk ke dalam ruangan dan nggak lupa buat nutup kembali pintunya.


"Udah sembuh kamu, Lin?" tanyaku.


"Ehm, uya. Lumayan..." jawab Arlin.


"Nona kemari naik taksi?" tanya Arlin.

__ADS_1


"Betul!" aku ngangguk setelah duduk di kursi panas milikku. Kursi kantor maksudnya ya. Ntar dikira aku anggota debus, pakai kursi panas segala.


"Maaf, Nona. Ini kunci mobil anda. Terima kasih sudah meminjamkannya..." Arlin menaruh kunci mobil di atas meja.


"It's okey, Lin. Yang penting sekarang kamu udah baik-baik aja, kan? nggak usah terlalu kaku begitu..." ucapku.


"Oh ya, Lin! hemmm, kamu punya nomornya pak Ridho?" tanyaku agak ragu. Tapi gimana pun tas dan hapeku harus balik juga hari ini.


"Pak Ridho...?"


"Oh iya, ada..." lanjut Arlin.


"Sekarang kamu telfon dia, bilang kalau tasku ketinggalan di jok mobilnya " kataku.


"Tas punya Nona? di jok mobil pak Ridho? jadi, kemarin anda diantar pak Ridho?" Arlin nampak terkejyuuut.


"Ya begitulah! cepat lakukan. Hapeku dan dompetku ada di dalam tas itu!" kataku pada Arlin.


"Baik, Nona..." kata Arlin si penurut.


Dia segera mengeluarkan hape yang ada di sakunya. Dia mulai menelfon nomor Ridho.


Aku yang duduk di kursi kerjaku memandang Arlin dengan penasaran. Karena daritadi, kayaknya dia belum juga tersambung dengan Ridho.


"Terus hubungi!"


Arlin pum menurut, dia terus nempelin tuh hape di kupingnya sampai terdengar jawaban dari Ridho.


"Selamat pagi, saya Arlin. Saya asistennya Nona Reva...." ucap Arlin sambil memandang ke arahku.


Aku melambaikan tangan, menyuruh Arlin supaya mendekat lalu aku kode supaya dia me-laudspeaker hapenya. Arlin mengangguk.


"Ya, bagaimana? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ridho.


"Begini, pak Ridho. Sepertinya tas milik Nona Reva tertinggal di mobil anda..." kata Arlin.


"Oh, ya. Benar! nanti saya antarkan..." ucap Ridho.


Aku langaung menyilangkan kedua lenganku, dan menggeleng. Aku mengkode Arlin supaya, Arlin yang akan datang untuk mengambil tas dan hapeku. Arlin yang mengerti manggut-manggut.


"Hem, sepertinya itu terlalu merepotkan anda, Pak Ridho. Begini saja, kalau misalkan saya saja yang ambil kesana bagaimana, Pak? posisi anda sekarang dimana?" tanya Arlin.


"Ehm, bagaimana ya? jujur saja, jadwal saya hari ini sangat padat. Saya akan antarkan tas itu, ketika saya agak senggang. Maaf, tapi saya harus menemui seseorang yang penting pagi ini..." kata Ridho beralasan.

__ADS_1


"Oh, begitu, ya? baiklah, kabari saja jika anda sudah mau menuju kemari, Pak..." kata Arlin.


"Oke,"


"Kalau begitu, terima kasih. Maaf mengganggu waktu anda..." ucap Arlin yang kemudian memutus sambungan telepon itu.


Begitu Arlin mengantongi hapenya lagi, aku langsung aja nyamber, protes dengan jawaban Arlin tadi.


"Haaiish! kenapa kamu bilang begitu, Lin? aku kan butuh tas itu sekarang, Lin! harusnya kamu paksa tanya dia lagi dimana, terus kamu ambil tasku itu!" ucapku kesal.


"Maaf, Nona..."


"Ya sudahlah, kembali ke tempatmu.Aku akan memeriksa semua dokumen ini..." kataku sambil menunjuk setumpuk pekerjaan yang siap diteliti.


"Permisi, Nona..." Arlin pun keluar dan menutup pintu ruanganku.


"Aaarrghh! sialan emang si Ridho! aku tau dia pasti sengaja banget tuh jawab kayak gitu!" aku marah-marah sendiri.


Dan baru saja aku bil satu dokumen tiba-tiba telepon di mejaku berbunyi.


"Ya, haloooo!" ucapku judes.


"Hey, kamu kenapa Reva pagi-pagi sudah melengking seperti itu...?!" tanya seseorang yang memberiku perusahaan ini.


"Ehm," aku benerin posisi duduk sebelum menjawab.


"Ehm, aku cuma kelepasan aja. Maklum masih pagi, terlalu bersemangat!" aku ngeles.


"Hapemu aulit sekali dihubungi," ucap Karan.


"Oh, hape? eehm, ketinggalan di apart. Aku tadi berangkat buru-buru, jadi ketinggalan deh..." aku bohong lagi.


"Aku kira kenapa. Semuanya baik-baik saja kan?"


"Ya, begitulah..." sahutku.


"Sepertinya, aku masih memerlukan beberapa waktu beberapa hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaan disini. Kabari saja jika ada sesuatu yang kamu inginkan. Aku akan menyuruh asistenku untuk membelikannya disini..."


"Ya, nanti aku kabari..." ucapku.


"Baiklah, jaga dirimu!" kata adek sepupu sebelum menutup telepon.


Aku meletakkan kembali gagang telepon setelah obrolan kami sudah selesai.

__ADS_1


"Huuufhhh, nyebelin emang kalau ngeles-ngeles begini!" gumamku lirih.


__ADS_2