Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Anak Istimewa


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu?" tanya pak Karan basa-basi. Matanya merah agak sembab.


"Baik," ucapku lirih.


"Apa aku boleh masuk?" tanya pak Karan lagi.


"Masuk aja," kataku.


Seolah dia menjadi orang yang berbeda. Biasanya kan dia orangnya seenaknya sendiri, mau masuk ya masuk aja, nggak pake nanya kayak tadi.


Awalnya dia berdiri, kemudian dia duduk di bawah. Ya, seorang pria sombong seperti pak Karan mau duduk di bawah kayak gini.


"Kau membuatku sangat takut," ucapnya.


"Maaf," aku tersenyum tipis.


"Kita menjadi target seseorang," lanjutku.


"Dera Prayoga?" pak Karan menyebutkan satu nama.


"Kamu udah tau?"


"Sudah. Dan itu alasannya aku mengejarmu sampai kemari. Dia menggunakan cara yang tidak manusiawi untuk memperkaya diri sendiei dan membalas dendam padaku," pak Karan memandangku.


"Sebenarnya aku sudah diperingatkan nenekku. Hubungan kami sudah lebih baik daripada sebelumnya," ucapnya.


"Maaf, karena aku kamu hampir meregang nyawa..." ucapku penuh penyesalan


"Anggap saja kita impas. Aku juga pernah menyeretmu dalam masalah, sampai-sampai kamu juga menjadi incaran salah satu makhluk yang mengerikan..." sahut pak Karan.


"Oh ya, dimana bayiku?" tanyaku yang belum melihat lagi putra yang baru saja aku lahirkan.


"Tadi aku lihat di ruang tengah, sedang di periksa lagi sama yang nolongin kamu," Aku mau bangun tapi dicegah adek sepupu.


"Ada Ridho. Tenang aja. Bayi kamu aman, dia nggak bkaal digondol setan. karena para makhluk itu sudah pergi, termasuk makhluk kirimannya Dera," jelas pak Karan.


Ya wakaupun aku udah dapat penjelasan dimana anakku, tapi naluriku sebagai ibu pengen tau gimana keadaannya. Apalagi aku melahirkan sevel kandunganku menyentuh usia 9 bulan. Aku sungguh khawatir dengan kedaaan bayiku.

__ADS_1


"Apa aku panggilkan?" pak Karan menawarkan bantuan.


"Sayang bayi kita ingin ketemu sama ibunya," ucap Ridho yang tiba-tiba datang meneggendong putra kecil kami.


"Baiklah, aku akan keluar," ucap pak Karan yang dengan susah payah berdiri.


Dia meninggalkan aku dan Ridho, tentunya dengan bayi kami juga. Dia, memberi ruang buat aku, Risho dan anak kami.


"Liat deh, ini bayi kita, Sayang..." ucap Ridhi ngasihat muka anak kita.


"Dia terlalu kecil untuk mengalami ini semua," ucapku.


"Dia akan jadi laki-laki yang kuat, yang bisa melindungi keluarganya. Aku yakin jika sekecil ini saja dia bisa melewati kesulitan sepelik ini, apalagi nanti saat tubuhnya sudah tinggi dan tenaganya besar? iya, kan? dia akan menjadi kebanggaan kita, Va..." kata Ridho.


Aku terharu dengan apa yang diucapkannya. Baru kali ini aku ngerasa kalau apa yang aku lakukan nggak ngerugiin orang lain. Beruntung aku cepat keluar dari rumah nenek Yuna. Coba kalau nggak? aku nggak bisa bayangin hal mengerikan apa yang akan menimpa aku dan putraku ini.


Mungkin karena kelelahan aku pun ketiduran dan bangun setelah jam menunjukkan pukul 6 pagi. Walaupun semalam beberapa kali aku mencoba memberikan asi pada putraku karena dia terus aja nangis kenceng, nggak mau berhenti. Dari bayi aja udah bakat bikin heboh, nggak jauh beda sama aing.


"Mas? Maaaas?" aku manggil Ridho yang datang dari arah luar kamar.


"Ada apa, Va?"


"Lagi mandi sama bu Ratmi. Kalau udah selesai, nanti dibawa lagi kesini..." ucap kangmas.


"Kalau pak Karan?" tanyaku.


"Dia lagi istirahat, keadaannya sudah lebih baik. Kamu nggak usah khawatir," kata Ridho.


"Bukan begitu, Mas..."


"Nggak apa-apa, aku tau kamu mengkhawatirkan dia. Kalian berdua menjadi target dari Dera Prayoga. Beruntung baik pak Karan dan anak kita semuanya selamat," kata Ridho.


Nggak lama, anakku datang dalam gendongan bu Ratmi.


"Nak Reva..." bu Ratmi memberikan bayiku yang udah rapi dibedong.


"Terimakasih ya, Bu..."

__ADS_1


"Sama-sama, Nak. Kalau butuh batuan bilang saja. Ibu masak dulu di dapur ya?" ucap bu Ratmi tulus.


Kali ini wajahnya jelas keliatan. Aku memperhatikan bentuk wajahnya yang mirip sama kangmas, bahkan aku nggak kebagian sedikitpun.


"Kenapa? mirip aku, ya?" ucap Ridho ke GR-an.


"Mau bilang nggak, takut dosa," aku njawab celetukan kangmas.


Pagi ini bu Bidan dayang lagi untuk memeriksa keadaanku. Dia datang dengan si mbok.


"Alhamdulillah semuanya normal," ucap bu Mila.


"Terima kasih Bu. Maaf, saya sempat bersikap tidak sopan," ucapku setengah menyesal.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti dengan apa yang ibu alami. Tidak perlu dipikirkan, yang terpenting ibu dan bayi ini bisa diselamatkan," kata bu Mila.


"Sudah selesai, dan ini obat yang harus diminum," kata bu Mila.


"Terima kasih,"


Bu Mila keluar, menemui bu Ratmi yang sudah menyiapkan suguhannya. Sedangkan si Mbok melihat bayiku sebentar dan dia berkata.


"Masih beruntung bayi ini bisa selamat. Padahal semalam adalam malam paling mencekam selama saya mendampingi bu Mila menolong persalinan.." ucap si Mbok.


"Anak ini lahir di hari paling tajam, dia akan menjadi anak yang sangat istimewa. Anak ini sangat istimewa seperti lakuning rembulan. Ibu harus banyak bersabar, karena sesuai hari lahirnya dia mungkin akan menjadi anak yang sulit sekali mengendalikan emosi," ucap si mbok.


.


.


.


Kami bertiga, menginap di rumah pak Sarmin selama beberapa hari. Dan sekarang waktunya kami untuk pamit. Segala gangguan yang kami alami sudah bisa diatasi oleh pak Sarmin. Aku merasa beruntung karena bisa mengenal mereka, orang yang benar-benar baik dan selalu mengandalkan kekuatan Allah dalam mengatasi segala permasalahan yang muncul, terutama dengan gangguan-gangguan dari makhluk ghoib.


Sebelum pulang pak Sarmin sempat berpesan.


"Nak Reva dan Ridho, anak kalian ini anak yang luar biasa. Jaga dengan sebaik-baiknya..."

__ADS_1


"Baik, Pak Haji ... terima kasih atas segala bantuannya," ucap Ridho.


Dan kami pun meninggalkan rumah pak Sarmin.


__ADS_2