
Niatnya, masuk kamar itu mau tidur. Tapi ini susah banget, sumprit. Bukan karena gangguan setan, tapi pikiranku yang malah melayang-layang nggak jelas.
Rasa kesel dan marah dengan pak Karan yang menjelma jadi adek sepupu bisa aku tahan sejenak, tapi rasa rindu dan rasa pengen deket sama seseorang yang bikin aku uring-uringan.
"Ya ampun, aku kek ayam yang udah mau bertelor!" ucapku ngeliat jam udah diangka 3.
"Aaarrghhhh!" aku gulang-guling di atas ranjang empuk ini buat cari posisi yang pewe.
Tapi gimanapun posisinya, mata nggak mau ngeliyep. Mungkin karena aku udah sempet tidur di mobil, jadi udah ilang aja udah ngantukku.
Baru nyadar kalau aku belum ngecek hape. Aku ambil benda yang dua hari ini nggak aku sentuh dan tayang-tayang itu. Banyak banget telfon dan chat. Salah satunya dari adek bontotku yang sekarang udah kuliah.
"Kebiasaan ngechat cuma kalau butuh transferan, dasar bocahh centil. Tambah kesini tambah boros aja," gumamku, yang menilai Ravel udah terlalu banyak make duit.
Bukannya aku pelit atau perhitungan sama adek sendiri, cuma kan dia harus berlatih memanage keuangannya. Apalagi udah ngebet kewong sama orang.
Aku bales aja, "Emangnya duit yang mbak kasih minggu lalu kamu kemanain?" aku ngomong sambil ngetik chat di hape.
"Ngirit dikit napa, Vel!" ucapku sambil naruh hape. Ternyata nggak banyak yang bisa dilakukan dengan benda itu.
Aku tarik selimut dan nyoba lagi buat tidur, aku matiin lampu utama, dan cuma cahaya dari lampu tidur yang nerangin kamar ku ini.
.
.
.
Paginya aku bangun kesiangan, bagooooos. Anak perawan nggak pakai tua, jam 9 pagi baru liat matahari. Ya gimana aku baru tidur jam setengah 4 pagi.
"Hoaaaammmph,masih ngantuuuuk..." aku bergumam sendiri sambil meluk guling.
Tapi pas mata ngebuka dikit, kok ada manusia selain aku disini ya. Aku buka mata lebar-lebar. Dan ada satu manusia yang tertangkap bidikan mataku.
"Ridhoooooo?" aku terlonjak kaget saat ngeliat dia ada di atas kasurku.
"Ng-ngapain kamu di-disini, heh?" aku tarik selimut full ke atas.
"Aku? emang aku ngapain? aku nggak ngapa-ngapain..." ucap Ridho.
"Lah terus kenapa kamu ngejogrog disitu? di atas tempat tidurku?"
__ADS_1
"Penyakit ngelindur kamu nggak sembuh-sembuh kayaknya, Va! kan tadi kamu sendiri yang tereakan nyuruh aku kesini," ucap Ridho narik turunin alisnya.
"Nggak mungkin!" aku mengelak.
Lagian takut banget, orang kita nggak ngapa-ngapain. Liat dulu baju kamu utuh nggak," ucap Ridho.
Dan aku pun perlahan mengintip dari selimut, "Syukurlah masih lengkap," ucapku dalam hati.
"Yaaa, aku kan perawan ting-ting, jadi wajarlah shock liat kamu ada disini," aku bgwles sambil nurunin selimut.
"Makanya sebelum tidur baca doa, bukan malah mikirin aku. Jadi kan ketauan kalau kamu lagi mimpiin aku tadi," kata Ridho nyengir.
"Dih, GR! siapa juga yang mikirim situ! nggak ada ya, nggak usah ngarang!"
"Pagi-pagi nggak usah ngomel, ntar nambah segaris kerutan di muka. Kamu mandi, karena aku udah pesen makanan tadi," ucap Ridho.
"Tadinya mau masak, tapi di kulkas ibu CEO cuma ada buah-buahan sama air putih, jadi aku milih mesen pake dellivery order," lanjutnya.
Aku cuma ngwliatin tuh manusia tegap jalan ke arah pintu. Kemudian dia berbalik.
"Mandinya jangan lama-lama..." ucap Ridho sambil kedipin satu matanya genit sambil nutup pintu.
Aku yang dapet kedipan manja pun jatuhin badan ke ranjang, "Bisa edun aku lama-lama. Aku harus konsisten ngasih dia pelajaran! jangan terpengaruh sama senyumannya, Revaaaaaaa!" ucapku tepok-tepok pipi biar sadar.
"Kamu duduk," Ridho kasih satu kursi buat aku.
Ini yang tuan rumah siapa, yang nyiapin makanan siapa.
"Ada bubur kacang ijo, ada ketan itemnya juga nih. Atau mau bubur sum-sum? atau mau---"
"Aku bisa ambil sendiri," aku motong ucapan Ridho.
Aku ambil bubur kacang ijo, tambahin ketan item dan diguyur kuah santen yang guyih. Hemm, bener kan rasanya bikin aku kangen sama bubur kacang buatan mama. Mama juga kalau hari minggu suka bikin kayak ginian, dan aku sama Ravel pasti riweuh pengen nyisain dan dibungkusin pakai plastik terus taruh di freezer biar jadi es. Kalau udah beku, kita tuauk pakai tuaukan sate dan celupin ke coklat balok yang dilelehin. Beuuh berasa makan es goyang.
"Kenapa, senyum-senyum? seenak itu, ya?" ucap Ridho, dia nyomot burjoku pakai sendok lain.
"Emang enak sih, apalagi kalau barengannya sama kamu," lanjut Ridho.
"Nih makan sendiri!" ucapku smabil nyodorin mangkok burjoku.
"Dih kok dikaaih ke aku? kita barengan aja," kata Risho maksa.
__ADS_1
"Aku mau makan yang lain," kataku.
Ku ambil mangkok yang lain buat ngambil bubur sumsum, kalau di daerah mungkin namanya bubur 'bloho' aku pernah denger istilah itu buat namain si bubur yang terbuat dari tepung beras ini.
Nggak kerasa aku makan lumayan banyak, dan aku lupa kalau aku lagi ngejaga berat badan.
"Nggak apa-apa deh, itung-itung cheat day!" ucapku dalam hati.
Habis makan nih manusia nggak balik-balik juga ke alamnya. Jangan-jangan dia udah terlanjur nyaman di sini?
"Nggak ada niatan buat balik ke rumah siti?" aku ngomong tanpa basa-basi.
"Di rumah sendirian, enakan juga disini. Sama kamu..." kata Ridho entang, dia malah rebahan di sofa sambil mainan hape.
"Kamu kan asisten, harusnya kerjaannya banyak dong. Bukannya leha-leha di rumah orang...?!" kataku.
"Kan asistennya bukan cuma aku, ada satu lagi namanya Rimar. Pak Bos lebih betah sama Rimar, soalnya kan dia bisa apa aja. Bisa jadi baby sitternya all the tim. Nah, kalau aku cuma kebagian ngurusin yang penting-penting aja..." ucap Ridho, dia nengok ke aku yang lagi natap dia swngan tatapan sinis.
"Suwer, nggak bohong! Rimar itu---"
"B-o-d-o a-m-a-t!" ucapku.
"Tenang aja, Va. Walaupun Rimar bodynya kayak gitar espanyola, aku nggak tertarik! kayal kamu, walaupun kamu udah punya calon suami, tapi aku yakin kalau hati kamu cuma buat aku," ucap Ridho dengan pedenya.
"Kamu terlalu percaya diri!" kataku.
Hap!
Ridho langsung bangun dari posisinya, dan mendekat ke arahku yang duduk bersebrangan dengan manusia kutu kupret ini.
"Bibir kamu boleh menyangkal tapi nggak dengan hati kamu, Va..." ucap Ridho yang makin berani mepet ke aku.
Ting!
Tong!
Ada suara bel dari luar, membuat aku ngedorong badan Ridho dan lari ke arah pintu.
Ting!
Tong!
__ADS_1
"Ya ya bentaaaaaarrr!" ucapku yang hampir meraih handle pintu.