
"Sebentar, sepertinya aku sangat familiar dengan wajahmu, seperti mengingatkan aku pada seseorang..." ucap mama spontan.
"Ah, maaf mungkin saya pernah melihat anda di tivi atau di surat kabar, pengusaha besar seperti anda pasti sering muncul di media, benar kan?" ralat mama.
"Mungkin lebih tepatnya mengingatkan anda pada Ilena Jesalyn Altair, adik dari suami anda Dave Dimitri Altair, sebelum ia menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Dave Alfarizi..." jelas pak Karan yang membuat kami semua melongo.
"Jadi, kamu maksudku anda adalah keponakan suami saya?" tanya mama nggak percaya, jangankan mama ini Ridho sama Karla aja nggak kedip untung mereka masih inget buat nafas.
Ridho sontak nengok ke arahku meminta penjelasan, tapi aku cuma bisa memberi pengertian lewat mata batin kami yang sepertinya sudah terhubung satu sama lain kalau aku nanti bakal ngejelasin semuanya, tapi nggak sekarang.
"Astaga, kamu ternyata...?" mama memeluk pak Karan dia nggak bisa melanjutkan kata-katanya, mungkin mama kaget dan nggak nyangka bakalan ketemu sama keponakannya, dia mengusap punggung pria itu
"Iya, Tante ... saya keponakan Tante Ivanna..." ucap pak Karan.
"Bagaimana keadaan ibumu? sudah lama aku tidak mendapat kabar apapun darinya, terakhir kita bertemu saat pemakaman suamiku, Dave..." ucap Mama.
"Mah, sebaiknya kita bicara di dalam..." aku menginterupsi, kayaknya kurang bagus aja gitu ngobrol depan pintu kayak gini.
"Ah, ya. Mama sampai lupa, ayo kita semua masuk..." ucap mama.
Kita duduk di ruang tamu, mama menyuruh pak Karan buat duduk di sampingnya. Ini mama kayaknya lupa kalau anaknya nih aku sama Ravel, ini kenapa yang diperhatiin malah pak Karan. Aku dan Ravel langsung tersingkirkan begitu saja.
"Bagaimana keadaan ibumu, ah aku memanggilmu apa? karena dulu jujur aku hanya sekali dua kali bertemu dengamu, itu pun waktu kamu masih sangat kecil..."
"Panggil Karan saja, tidak apa-apa..." jawab pak Karan.
Kita semua ada yang duduk di bawah dan ada yang duduk di kursi karena jujur ini ruang tamu nggak segede ruang tamu di rumah pak Karan yang bisa muat orang satu RT. Aku milih duduk di pangkuan Ridho, enggaklah. Aku duduk di tangan kursi, udah kayak lagi naik ojek tapi pakai rok span, miring gitu. Tapi ya tetep di samping mamas gantengku, Ridho.
__ADS_1
Kita semua lagi nunggu detik-detik dimana pak Karan akan menjawab pertanyaan mama.
"Ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," ucap pak Karan, dan raut wajah kaget tak bisa disembunyikan dari wajah mama.
"Sudah meninggal?"
"Iya, ibu sudah menghadap yang maha kuasa..." ucap pak Karan.
"Maaf, Tante ... tidak bermaksud untuk..."
"Tidak apa-apa, Tante. Mama hanya sedikit bercerita tentang Om Dave dan tante Ivanna, hanya sebatas itu. Dan kita tidak bisa memberi tahu tentang kematian ibu karena aku sendiri tidak mengetahui dimana kalian tinggal, dan ternyata dunia ini begitu sempit sehingga saya bisa bertemu dengan Reva..." ucap pak Karan, kayak ada raut sendu di wajah bos yang biasa garang itu.
Sedangkan si Karla cuma bisa mingkem, mungkin dia lagi ketar-ketir ya, secara dia udah nyenggol aing yang notabene masih sodaraan sama pak Karan. Biar nyaho sekalian si karet ini. Sementara Ridho masih nyimak dengan muka gantengnya.
Aku sampai disini, masih menyimpan sejuta tanya buat mama. Banyak hal yang ingin aku tanyakan termasuk, tante Ilena. Jadi selama ini yang aku anggap wanita lain itu ternyata tanteku sendiri. Tapi kenapa selama ini mama nggak pernah cerita, dan ngebiarin aku hidup dengan rasa benci yang nggak ada ujungnya?
Aku sebenernya udah pengen nanya sama mama tapi aku nggak mau sekarang, disini banyak orang dan itu masalah privacy keluarga kita.
Dan sekarang kita duduk berjejer di ruang tengah, sofa udah Ridho pepetin ke samping. Karena nggak mungkin juga kita makan di meja makan dengan peserta makan siang yang membludak seperti ini.
Aku duduk di samping pak Karan dan juga Ridho, disamping pak Karan ada Devan terus Karla baru deh ada Ravel, Mona dan juga mama.
"Ayo silakan, silakan ... maaf, menunya seadanya..." ucap mama menyuruhbkami semua buat makan.
Mona sibuk bolak balik dibantu adikku Ravel, mereka bawa bergelas-gelas minuman dingin yang manis, ya lumayan buat dinginin perasaan yang lagi nggak karuan ya.
"Aku ambilin, ya?" ucap Ridho.
__ADS_1
"Aku aja yang ambilin, kamu mau makan apa?" aku mengambil piring yang ada di tangan Ridho dan mulai nyendokin nasi.
"Apa aja, ayam boleh, daging boleh kamu juga boleh..." lirih Ridho.
"Beuuuh adek meleleh, Bang!" aku berusaha senormal mungkin, biar jangan keliatan girang banget, astaga harusnya kan aku lagi sedih ini kenapa suasana hati berubahnya cepet amat hanya dengan bermodalkan gombalan receh dari akang Ridho.
"Dho, tolong ambilin sayurnya, aku nggak nyampe..." Karla mulai nyari perkara.
"Bentar, aku minta tolong Reva. Soalnya Reva yang paling deket sama centong sayurnya..." kata Ridho, aku jelas denger lah, orang kangmas ada di sebelahku.
Setelah aku ambilin makanan buat si calon imam, mau nggak mau aku ambilin tuh si Karla sop daging.
"Nih..." aku operin tuh piring ke Ridho, dan diestafetin gitu sampai ke Karla.
"Bapak mau makan apa? biar saya ambilin..." aku nawarin bantuan, soalnya dia diem-diem bae. Piringnya baru keisi nasi, apa mungkin dia lagi puasa mutih?
"Saya bisa ambil sendiri," jawab pak Karan ketus.
Ya ampun ini makhluk kapan nggak juteknya coba. Ya sudahlah, aing yang sudah kelaparan ngambil makanan sendiri. Dan, ya dia ngambil sendiri dengan mandirinya, syukur deh kalau gitu kan nggak ngerepotin.
Dan kita semua menikmati makan siang ini dengan tenang tanpa adanya sesuatu yang rese dari mulut Karla.
"Mau minum?" aku tawarin Ridho, si ganteng langsung ngangguk.
Pas aku mau ambil tiba-tiba ada tangan lain yang juga mau ambil gelas yang sama dengan aku. Aku nengok dan ngeliat itu ternyata tangan pak bos.
Aku kira dia bakal bilang 'buat kamu aja...', ternyata nggak dia malah dengan santainya ngambil tuh gelas dan minum gitu aja. Aku nggak paham sih sama kelakuan nih pak bos yang lagi absurd pake banget. Nggak mau pusing, aku ambil gelas lain yang juga masih belum tersentuh tangan-tangan laknat, buat aku kasihin ke Ridho.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba aja...
...----------------...