Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Terjebak


__ADS_3

Aku beli nasi bungkus sama minuman dan beberapa cemilan buat aku bawa ke ruang perawatan Mona. Sebenernya tadi aroma baksonya udah menggoda iman, tapi aku nggak tega kalau harus ninggalin Mona lama-lama. Aku sempet ambil uang cash juga, rencananya buat aku kasih ke ayang buat nambah-nambahin biaya rumah sakit.


"Semoga aja, Ridho mau nerima bantuan aku dan nggak tersinggung perkara uang ini..." ucapku dalam hati.


Naik lift dan balik ke ruangan Mona, aku takut kalau nanti dokter visit terus aku nggak ada, kan kalau ayang nanya gimana perkembangan adiknya aku jadi nggak tau dan malah terkesan plonga-plongo.


Ceklek!


Aku buka pintu dan ngeliat tirai nengelilingi ranjang Mona.


"Kenapa ditutup?" gumamku dalam hati yang manaruh belanjaan di atas meja sofa.


"Aaaaaaaa!" teriak Mona.


Aku buka tirainya dan melihat selang infus sudah terlepas dari tangan Mona.


"Mona? kamu kenapa, Mon" aku mendekati Mona.


"Akhhh, hhh hh..." Mona terengah-engah.


"Tenang, Mon. Ada Mbak disini!" ucapku sambil memencet emegency call.


Tatapan Mona seperti orang yang ketakutan.


Sreeeet!


Aku melihat sekilas ada orang yang keluar dan menutup pintu ruangan ini.


"Apa ada orang datang kemari, Mon?" tanyaku tapi Mona masih belum bisa merespon. Dia masih shock.,


Satu orang perawat datang, "Ada apa, Nona?"


"Infusnya terlepas!" ucapku menunjuk tangan Mona.


"Baik, saya ambil peralatannya dulu!" ucap perawat tadi yang kembali ke counter perawat.


"Hhh ... hhh..." Mona masih terengah-engah, dia melirik ke sana kemari.


"Kamu kenapa sih, Mon?" aku memeluknya dan mengusap kepalanya pelan.


Aku masih bersyukur Mona sudah ada reaksi, selain hanya diam dengan pandangan yang kosong melompong. Tapi aku penasaran, apa yang terjadi sama Mona. Kenapa dia kayak orang yang shock berat. Pertanyaan itu semakin mengusik pikiranku, saat aku melihat satu bayangan manusia yang keluar pada saat aku mendekat ke tempat tidur Mona yang ditutupi tirai.


"Apa ada seseorang yang diam-diam menyelundup dan dia keluar dari arah yang berbeda saat aku masuk kemari?"


Pikiranku terbuyarkan dengan datangnya dokter dan perawat.


"Permisi..." ucap perawat itu yang menyuruh aku buat sedikit menjauh.


Dokter mulai memeriksa keadaan Mona.

__ADS_1


Tok!


Tok!


Ada yang ketuk pintu, aku pun bangkit dan berjalan buat ngeliat siapa yang dateng.


"Bara? masuk Bar!" aku ngasih akses Bara buat masuk ke dalem.


"Gimana keadaan Moba, Mbak?"


"Tuh dia lagi diperiksa..." aku nunjuk tempat tidur Mona dengan dagu.


"Mbak juga bingung, Bar kalau ditanya gimana kondisi Mona yang jelas Mona sempet histeris..." ucapku


Dokter dan perawat yang sudah selesai mengerjakan tugasnya pun mendekati kami berdua.


"Infusnya sudah di ganti dan saya harap anda menjaganya lebih baik lagi agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Dan juga bujuk supaya pasien mau mengisi perutnya dengan makanan..." kata dokter.


"Baik, Dok! terima kasih..." ucapku.


Dan mereka keluar meninggalkan aku dan Bara yang mendekat ke arah Mona.


"Mon ... Mona ... ada Bara, Mon..." aku panggil Mona pelan.


Perlahan Mona membuka matanya dan menatap pria yang sudah lama jadi incarannya. Tanpa aba-aba, Mona langsung memeluk Bara. Aku yang sadar kalau Mona lebih butuh Bara pun keluar dari ruangan itu dengan bawa bungkusan makanan.


"Mumpung ada Bara, aku mau ngisi perut dulu lah..."


Sampai di kantin selain makan nasi bungkus yang aku bawa dari ruangan, aku juga makan bakso yang jujur rasanya enak banget.


Dan pas lagi nyuapin bakso terakhir aku denger ada perempuan yang lagi ngobrol leat telepon, "Jangan biarkan dia hidup tenang! kalau perlu bikin supaya dia hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran,"


Aku yang mendengar itu mengernyit, "Jahat banget tuh perempuan!" aku komen dalam hati.


Dan lagi nguping orang lagi nelpon eh hapeku bunyi. Kau yang kaget main swipe aja tanpa ngeliat nama yang tertera di layar.


"Halo?"


"Halo, Reva. Kamu dimana? rumah kamu sepi..." ucap seorang pria yang lagi pengen aku hindari.


"Revaaa?" dia manggil lagi.


"Tolong Bapak nggak usah pura-pura nggak ngerti, deh! itu juga kan karena ulah Bapak!" aku malah ngegas.


"Ya emmang saya nggak ngerti! sekarang beritahu saya kamu lagi dimana, kita bicara..." kata pak Karan.


Tuuut...!


Tuuuut..!

__ADS_1


Aku matiin aja itu panggilan telepon dari pak Karan.


"Ck, untung aku udah selesai makan. Moodku seketika anjlok denger suaranya,"


Selesai makan, aku bayar dan balik lagi ke ruangan Mona. Udah jam 10 juga, udah lumayan lama aku ninggalin Bara sama Mona berduaan.


Aku masuk ke lift sendirian, rasanya tuh ada dingin-dinginnya gitu.


"Huuuuffhh," aku gosokin kedua telapak tangan, ngusir rasa dingin yang tiba-tiba aja aku rasain.


Satu dua menit di dalam kotak besi ini aja berasanya kayak dua taun. Nggak tau aku pengen cepet-cepet keluar aja rasanya.


Dan di lantai yang mau aku tuju, si lift ini nggak mau ngebuka, malah aku semakin di bawah ke atas. Lampu di dalem sini tiba-tiba kedap-kedip, kayak mau koit


Aku yang panik, mencet tombol emergency berkali-kali.


Gruuduuuug!


Lift turun ke bawah secara tiba-tiba, "Aaaakkkkhhh!" aku terhuyung dan terjatuh.


"Tolooooong!" aku pencetin terus tombol emergency.


Braaakkk!


Lift berhenti secara mendadak.


"Tolooong bukaaiiiiiinnnn!!!!" teriakku.


Tapi percuma, nggak akan ada yang denger. Seketika aku nyoba buat neghubungin seseorang.


"Ridhooo!" yang aku inget cuma Ridho. Karena aku biasa bergantung dan ngerepotin tuh orang.


"Angkaaat, Dhoo! angkaaaaaat!" aku npelin hape ke kuping. Sementara aku duduk di pojokan dengan perasaan yang campur aduk.


"Astaga, angkat dong Ridhooooo!" aku goyang-goyangin hape, berharap sinyal bisa stabil.


"Ya ammmmpun kenapa bisa sial terus sih hidup aku!" aku mulai kesel.


Nggak hilang akal, aku chat ayang supaya dia bisa dateng kesini buat nyelametin aku.


📱Dho, aku kejebak di lift rumah sakit. Kamu kesini cepetan!


Ddrrreeet!


"Akkkhhh!" aku tambah mojok smabil pegangin hape.


Dan lampu lift ini kayak lampu DJ yang biasa buat ajep-ajep, tapi sayangnya nggak ada musik. Aku benci disituasi kayak gini, sendirian dalam keadaan yang nggak bisa dikendalikan.


"Aku nggak mau wasaalam sendirian disini, hikkks!" aku ngelap air mata yang merembes.

__ADS_1


Ternyata nggak disangka ada telepon masuk. Aku nggak buang kesempatan emas ini buat minta tolong entah pada siapapun yang ngehubungin aku saat ini, "Tolong aku! aku terjebak di dalam lift rumah sakit!" ucapku disela disertai isakan tangis.


...----------------...


__ADS_2