Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jasa Curhat


__ADS_3

"Kenapa, Rev?" tanya Barraq yang mendekat.


"Duhhh, aku harus jawab apa hoooyyy?!!! mikir Reva, mikiiiiiiirrrrrr!" batinku.


Dan lagi ada pergolakan batin si Rania muncul persis di belakang Barraq dia bilang, "Lupa kode akses!"


"Revaaa?" Barraq melambaikan telapak tangannya di depan wajahku sementara tangan satunya masih memegang eskrim yang belum habis dimakan.


"Ahh, ya...?" aku natap Barraq kayak orang bego.


"Kamu pusing kenapa?" tanya Barraq yang mungkin tadi sempet denger aku menggerutu.


"Oh, ini. Ahm, aku kayaknya kode akses!" ucapku agak ragu.


"Lupa?" Barraq kayak setengah nggak percaya.


"Jadi, aku biasa menggantinya sebulan sekali, tapi aku kok lupa kodenya berapa..." ucapku sambil kayak lagi nahan pipis.


"Ehm, aku bisa numpang ke tpilet kamu nggak? aku udah nggak tahan..." ucaoku dengan alasan receh.


"Oh, ya tentu!"


Barraq lalu mengajak aku ke unitnya, lalu nunjukin toilet yang nggak jauh dari ruang tamu. Aakkh, bego ya. Mana mungkin dia mau ngasih aku toilet di kamarnya, secara kamar kan sesuatu hal yang privacy. Emang si Rania nih etan kamfret. Bikin aku susah dunia akhirat. Biasanya kan aku yang ngrepotin orang, lha kenapa sekarang aku malah yang direpotin? Karma is real, gaeeees.


Keluar dari toilet, aku bingung alasan apalagi supaya aku bisa disini barang sejam atau dua jam.


Mana si Rania ngoceh mulu daritadi,nikin aku gedeg banget.


"Cepetan ambil bungkusan kain putih itu!" suruh Rania.


"Iya, kamu bisa sabar nggak siiiihhh?" aku setengah gregetan.


"Revaaa? kamu ngomong sama siapa?" Barraq menatapku heran. Dia datang dengan dua gelas minuman dingin di tangannya.


"Ahhh ... nggak kok, nggak ngomong sama siapa-siapa. Aku cuma lagi olah rasa, iya..." ucapku ngasal.


"Olah rasa?" Barraq bingung, dia naruh gelas di atas meja dan duduk di sofa panjang di sampingku.


"Gini, aku kayaknya mau ikut casting film horor gitu. Nah, aku lagi nyoba dialog gitu.Biar nih mulut sama rahang nggak kaku..." ucapku berbohong.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu berminat casting film? oh, aku ada tuh temen yang punya banyak channel orang dalem. Namanya Cherryl, nanti deh aku kenalin..." kata Barraq antusias.


"Minum dulu, Va..." ucap Barraq nawarin minuman bersoda yang dikasih es batu.


"Cepetan kamu ke kamar Barraq dan ambil barang itu!" Rania nunjukin kamar Barraq.


"Iya, sabar hantu baweeeeell!" ucapku kelepasan.


Barraq yang lagi minum mendadak kesedak, "Uuhuuuuk, uhuuuuk!" Barraq terbatuk.


"Kamu nggak apa-apa, Barraq?" aku tepokin punggungnya, sedangkan aku melotot ke arah Rania yang nggak suka juga kalau aku bersentuhan dengan Barraq walaupun konteksnya aku lagi nolongin Barraq yang lagi kesedak air ya.


"Aku nggak apa-apa," ucap Barraq. Aku berhenti bepokon punggung nih cowok.


"Aku cuma kaget aja," lanjut Barraq


"Ehm, sorry ya...?! kamu pasti kaget karena tadi aku lagi ... lagi belajar dialog," ucapku ngawur.


"Iya lumayan," ucap Barraq.


"Kayaknya kamu punya bakat terpendam ya, Rev?" ucap Barraq.


"Rumah ku rapi juga ya," ucapku memuji.


"Ya, karen ada orang yang setiap hari datang kemari membersihkan semuanya," kata Barraq. Aku bangkit dan mendekati sebuah lukisan bunga mawar putih.


"Ini dari seorang fansku, yang dikirim ke kantor manajemen..."


"Wah banyak juga ya fans kamu?" ucapku yang memandang Barraq, sekaligus memandang Rania yang dengan senyum mengembang.


Tebakanku ini hasil karya Rania sih, soalnya raut wajahnya berubah ketika Barraq menceritakan tentang lukisan ini.


"Kamu tau siapa pengirim lukisan ini?" tanyaku.


"Nggak sama sekali, mungkin ada suratnya tapi karena di kantor banyak sekali hadiah yang menumpuk mungkin kartu ucapannya terselip dan hilang. Tapi disini, ada inisialnya RN," Barraq menunjukkan satu inisial yang tertulis di lukisan mawar itu.


Rania sekilas terlihat sangat sedih, saat Barraq bilang kalau dia nggak tau siapa pengirim lukisan sebagus ini. Ya aku paham, gimana kita udah kasih sesuatu barang ke seseorang tapi orang itu malah nggak tau kalau barang itu dari kita. Wah, nyesek banget sih pasti.


"Aku tebak, yang bikin lukisan ini pasti cewek!" ucapku.

__ADS_1


"Ya iyalah, Reva! masa iya cowok bikin lukisan lalu kasih ke aku? yang ada aku malah ngeri, dong!" ucap Barraq.


"Hahahahah, iya iya juga. Tapi bisa aja kan, pengirimnya cowok..."


"Tapi kayaknya nggak sih, feelingku yang bikin ini cewek. Dan dia tau banget soal aku yang suka banget sama mawar putih," kata Barraq.


"Kok kamu yang kayak cewek sih? bisa suka sama mawar putih?"


Barraq berbalik dan duduk lagi di sofa. Aku yang melihatnya pun mengikuti jejak Barraq.


"Ya bunga itu sebenarnya kesukaan seseorang, tapi karena dia menyukainya aku pun jadi ikutan suka..." ucap Barraq dengan wajah melownya. Dia duduk dengan pandangannya mengawang-awang. Aku yang ikutan duduk pun diam dengerin ceritanya yang belum kelar.


"Siapa kalau boleh tau..."


Dan Barraq pun terdiam, sedangkan Rania udah bisa ditebak mukanya ditekuk gitu. Pokoknya bete abis. Dia kayak nggak rela kalau Barraq itu menyukai cewek lain. Lah padahal kan kemarin dia sendiri ya yang bilang kalau Barraq itu milik sejuta umat. Ya udah dooong, harusnya dia nggak boleh cembokur gitu yak.


"Cherryl?" aku asal nebak.


Barraq auto nengok dong, "Cherryl? hahahahaha, bukan bukan ... dia hanya sekedar teman," ucap Barraq.


Aku malah bingung dengan jawaban si Barraq. Kan katanya dia kena pelet harusnya kan yang diotak dia itu ya si Cherryl yang terduga pelaku pengguna pelet itu kan. Lah ini kok malah Barraq bisa-bisanya inget orang lain gitu. Sumpeeeh, disiniiii aing kagakkk pahaaaam ya Allaaaaah!


"Oh, temen ya ... aku juga asal nebak juga sih, kan kamu nyebutin nama dia beberapa saat yang laku aku kira--"


"Sebenernya aku juga nggak tau nama dia siapa, tapi yang jelas aku pernah ketemu cuma sekali. Dan itu pun nggak sengaja..." ucap Barraq.


Duh si Barraq ngomong muter-muter bikin kepala ku puyeng deh. Ini aku cuma mau ambil bungkusan kain putih, eh malah jadi buka jasa curhat gitu.


"Jadi kamu nggak tau namanya gitu?" aku udha mulai bingung apa yang harus aku lakukaaan. Sementara Rania terus aja nunjuk kamar Barraq. Kamfret emang.


"Tau, kebetulan juga ada orang yang manggil dia. Jadi aku bisa tau siapa namanya, tapi sayangnya pertemuan kami hanya terjadi sekali di toko bunga itu," ucap Barraq.


"Wah, dia beruntung dong disukai model terna ma kayak kamu..."


"Dia nggak tau aku, Rev! karena waktu itu aku pakai topi dan masker, lagi ngehindar dari paparazi, terus aku liat dia lagi nyium-nyium mawar putih di toko bunga," jelasnya.


"Okeeey, kalau boleh tau siapa nama gadis itu?" ucapku, sambil orak terus mikir gimana caranya nyelonong masuk kamar Barraq.


"Namanya ... Rania!" ucap Barraq

__ADS_1


__ADS_2