
"Emhhhh, aku..."
"Aku nggak mungkin lah suka sama dia, orang hati aku udah kamu gondol semua, Dho!" aku ngomong tanpa ngeliat Ridho.
Bodo amat lah harga diri, yang penting dia nggak salah paham. Ya emang bener kan, aku sama pak Karan itu berawal bos dan bawahan. Walaupun nggk bisa dipungkiri ini bos gantengnya sangat menggiurkan, tapi takdir udah berkata lain. Mau muka seganteng apa juga, ini hati udah kecantol sama akang Ridho Menawan.
Lagian, aku dan pak Karan ternyata sepupuan. Jadi dari awal emang takdir udah nggak berpihak bikin akikah jadi horang kayah begitu kan ya. Tapi mlengos dari belimpahnya harta duniawi, si takdir ini malah lebih milih nganterin akikah ke orang yang bakal istiqomah menuju jannah dan nyelametin wanita secantik aku dari panasnya api neraka karena sering mangkir dari ibadah. Astagfirllah...
Ngomong-ngomong, daritadi akang Ridho diem bae, nggak ada reaksi apa-apa. Aku coba angkat dagu dikit-dikit, soalnya kan daritadi aku nunduk kayak orang yang lagi ngais uang koin.
Nah, ternyata si Ridho bukan diem, tapi dia cengar-cengir sendiri kek orang rada nggak waras gitu. Astaga, kesambet setan mana ini calon imam aing ya Allah.
"Dho? sehat?" aku tempelin punggung tangan ke jidatnya yang agak biru.
"Awwwhhh! sakit, jangan diteken!" Ridho protes.
"Maaf, maaf, sengaja lagi..."
"Lagian kenapa pake cengar-cengir nggak jelas kayak gitu, coba?" lanjutku.
"Aku kira kamu kesengsem sama pak Karan. Soalnya kalian kan sempet tuh peluk-pelukan,"
"Ralat, Dho! aku dipeluk bukan sengaja peluk-pelukan!"
"Ya intinya, aku denger apa yang dia omongin sama kamu. Dan sebagai sesama pria, aku tau sejak lama kalau dia sebenernya suka sama kamu, Va! dan aku nggak suka itu!" Ridho tegas.
"Ya kayak ku dulu sama Karla..."
"Karla lagi Karla lagi, dia udah lewat, Va! lagian, aku sama Karla nggak ada apa-apa," kata Ridho.
"Ya, aku juga sama pak Karan nggak ada yang spesial! kita saudara, Dho! Dan nggak ada yang bisa mengubah itu!"
"Jadi, daritadi kamu diem-diem bae itu karena lagi cembokur ceritanya?" lanjutku.
"Bukan cemburu, aku cuma nggak suka aja, Va!" Ridho ngeles, sebelum aku mangap dan nyerocos lagi. Dia buru-buru nyerobot.
__ADS_1
"Ehem, itu kopi buat aku kan?" Ridho sekarang malah ngalihin perhatian, dia nunjuk cappucino yang masih ngebul.
"Bukan, tapi buat setan dan kawan-kawan!"
"Awas, sembarangan ngomong, mereka bisa dateng loh, Va!" Ridho nakutin.
"Nggak usah mulai deh, Dho! nggak lucu tau!"
Ridho nggak bisa nahan buat nggak ketawa.
"Hahahahaha, ternyata sainganku bukan cuma manusia ya Va! tapi juga makhluk halus dan sejenisnya, mereka juga ikut rebutan buat dapetin kamu. Nggak nyangka pesona Reva Velya ternyata udah sampai menembus jagat demit dan sekitarnya..." kata Ridho, tapi liat mataku udah ngelirik sinis, dia pun berhenti buat nggak ngetawain.
"Oke, santai, Sayang! jangan marah-marah mulu, ntar cepet keriput!" ucap Ridho yang bikin aku tambah mendelik.
Ridho buru-buru angkat cangkir panasnya, dan nyeruput tuh cappucino sebelum tangan aing mengambil alih dan berakhir cangkir dan pisinnya terbang berbarengan.
"Canda kali, Va..." kata Ridho setelah naruh lagi cangkir yang isinya udah tinggal seperempat.
"Jadi gimana? kamu masih nekat ke rumah neneknya Karla? setelah apa yang udah kamu lalui hari ini?" cecar Ridho.
Ridho ngingetin kayak gitu bikin aku jadi ragu.Tapi kalau mbak Sena emang masih hidup, kayaknya jahat banget aku kalau nggak nolong. Astaga, aku bingung banget saat ini.
"Aku nggak tau sedeket apa kamu sama mbak Sena itu, tapi kamu harus mempertimbangkan segala sesuatunya..." ucap Ridho.
"Huufh..." aku buang napas sebelum memutuskan apa yang harus aku lakukan buat mbak Sena.
"Bismillah, Dho. Aku tetep kesana, aku janji ini yang terakhir kali aku masuk ke alam mereka. Karena aku merasa mbak Sena masih hidup dan dia nungguin pertolongan kita, Dho..." kataku.
"Ya udah, kalau gitu. Nanti aku kabarin kapan kita akan berangkat..."
"Kalau bisa besok aja, Dho..." aku pandang wajah Ridho. Dia refleks ngelusin ubun-ubunku.
"Jangan melakukan sesuatu dengan terburu-buru. Karena buru-buru itu temannya setan..." ucap Ridho.
Ya udah aku nurut aja, aku ngangguk apapun yang calon imam bilangin. Tapi ngeliat mukaku, Ridho akhirnya bilang besok kita meluncur ke rumah Karla. Untuk urusan transportasi, ntar dia pikirin lagi katanya.
__ADS_1
Aku akhirnya lega, satu persatu masalah akhirnya nemu jalan keluarnya. Ridho pulang setelah Mona pulang ke kontrakan, kita sempet makan malem bertiga juga. Disela makan malam, Mona kayaknya nggak bisa kalau nggak nanya tentang keadaan muka abangnya. Ridho sih bilangnya, dia kena pukul temennya waktu latihan silat.
Adeknya nggak begitu percaya, soalnya kan Mona nggak tau kalau kangmasnya ini udah resmi jadi pengangguran. Kapan dia latihan silatnya, kan begitu ya sodara-sodara.
Emang Ridho kalau bikin alesan suka nggak masuk akal. Aku akhirnya bilang, kalau tadi pas pulang kerja ada temennya Ridho yang minta diajarin silat, soalnya lagi marak kejahatan dimana-mana. Tapi ya gitu, Mona ini tipe-tipe cewek yang nggak gampang dikibulin. Dia masih agak percaya nggak percaya dengan kronologis yang baru aja aku ceritain. Adek ipar keukeuh, masa iya sih latihan sampai bikin wajah bonyok begitu.
Untuk menghindari pertanyaan Mona yang semakin melebar kemana-mana, Ridho pun memutuskan buat pulang ke kosannya.
Dan giliran Ridho udah kembali ke habitatnya, aku mulai ngerasa nggak enak.
"Harusnya dia nggak usah bertindak bodoh. Pakai acara resign segala dari kantor..." aku dalam hati. Karena aku tau, dan pernah denger kalau Ridho itu sebenernya mau dipromosiin. Maksudnya sayang banget, dia keluar hanya gara-gara aku.
Tengah malem, lagi bergelut dengan pikiran sendiri. Tiba-tiba ada telfon dari adek sepupu.
"Mau apa jam segini nelfon? angkat nggak ya?" aku nimbang-nimbang dulu.
Sesaat panggilan itu berhenti dan layar hapeku padam. Tapi beberapa detik kemudian, dia nelfon lagi. Takut ngeganggu Mona yang lagi molor, jadi aku putuskan buat ngangkat telfon dari pak Karan.
"Halo?" ucapku setengah berbisik.
"Kamu dimana?" tanya pak Karan, tanpa basa-basi.
"Di kontrakan lah, Pak. Ini tengah malam, masa iya saya masih keliaran di luar jam segini? yang bener aja!"
"Kalau begitu cepat keluar!" suruh pak Karan.
"Buat apa?"
"Sudah jangan banyak tanya, keluar saja!" kata pak Karan.
Aku jauhkan hape dari telinga dan mikir, "Ini beneran pak Karan yang nelfon atau...?"
"Hei, kamu dengar tidak? cepat keluar sekarang! saya tunggu," pak Karan nggak sabaran.
...----------------...
__ADS_1