
Yang aku tau pak Karan nyuruh para pengawalnya buat mencari sumber air. Tapi kok ya anehnya dsuruh malem-malem. Emang nih si bos suka ngadi-ngadi. Bisa dibayangkan gimana tertekannya batin mereka ngadepin bos model ginian. Dia malah enak-enakan duduk sambil mandangin Reva di langit, eh bintang di langit. Kalau mbak Luri masih betah ngeliatin api unggun sambil pegang minuman panas.
"Dingin, kamu nggak mau masuk?" tanya mas pacar yang perhatiannya mulai balik lagi. Sementara pak Karan cuma ngelirik aja.
"Nanti,"
"Masih marah?" tanya Ridho.
"Dikit,"
"Maaf ya, kamu hampir celaka lagi. Setan-setan kenapa bisa dendam kesumat sama kamu ya, Va?"
"Ya karena mbak Lurinya kebanyak bengong dan akhirnya kesambet!" aku ngomong lirih agak diteken dikit, antara gemes dan kesel sama Ridho.
"Sudah malam, masuk ke tenda!" kata pak Karan yang nyiapin dua tenda buat dia dan buat aku.
Aku sendirian gitu di dalem tenda segede itu? kalau sama mbak Luri gimana ya? takutnya dia kesambet lagi terus aku dicekek pas tidur berabe. Tapi nggak mungkin juga kan Ridho buat nemenin. Aing jadi gundah gulana.
Setelah memalui pertimbangan yang cukup panjang, karena tenda yang berdiri cuma 3, ya udah aku panggil mbak Luri buat tidur satu tenda sama aku, mas Rahman ada di tenda yang emang sengaja dia bangun sama Ridho. Sedangkan pak Karan sendirian di tenda yang udah pasti nyaman banget.
"Aku ada di luar," kata Ridho yang ternyata milih tidur di luar deket api unggun, nggak jauh dari tendaku.
Aku masuk ke dalem, dan mulai ngerebahin badan ke kasur angin yang udah disiapin adek sepupu.
Kasian juga itu di luar, Ridho pasti jadi target utama serangan nyamuk. Tapi ya udah, anggap aja itu pengorbanan seorang pacar ya kan buat ngejagain ceweknya.
Sayup-sayup aku denger suara pak Karan dari luar tenda, kayaknya dia lagi ngomong sama para pengawalnya.
"Ada sungai tidak jauh dari sini, Tuan!" kata seorang pria yang aku nggak kenal siapa namanya.
"Kalian boleh pergi!" suruh pak Karan. Aku tiduran menyamping tapi kupingku masih bisa mendengar dengan jelas suara apa saja yang ada di luar.
Sreekkk!
Aku denger kalau pak tenda yang ada di samping lagi ditutup, entah itu karena mau pak Karan masuk ke dalem tendanya atau dia nutup karena mau pergi.
"Ridho!" seru pak Karan.
Ada apa nih, adek sepupu manggil pacar aing? Jangan bilang mereka mau adu jotos demi memperebutkan seorang Reva Velya yang cantik tiadaaa taraaaaaah dan sempurna lahir batin ini. Aku bangun, dan liat mbak Luri udah tepar. Udah ke alam mimpi dia. Aku duduk dan coba dengerin apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ada apa?" tanya Ridho.
"Jauhi, Reva!" kata pak Karan.
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak bisa menjaganya, dia akan aman bersamaku!" kata mantan bos.
"Dalam mimpimu, Pak!" Ridho ngejawab sambil kayak orang nahan ketawanya.
__ADS_1
"Pak Karan, pak Karan. Anda bukan bos saya lagi yang bisa memerintah saya seenaknya!"
"Karena saya bukan bos kamu, jadi saya minta kamu jauhi Reva. Saya akan beri kamu satu aset saya,"
"Apakah anda sedang menyuap saya?" Ridho kayak udah nahan esmosinya.
"Saya hanya memberikan penawaran terbaik buat kamu. Apalagi sekarang kamu tidak memiliki pekerjaan,"
"Tidak memiliki pekerjaan saat ini bukan berarti saya akan jobless seumur hidup! anda pikir, pekerjaan hanya di perusahaan Bapak saja? anda terlalu percaya diri pak Karan! tidak semua hal bisa dibeli dengan uang!" kata Ridho penuh ketegasan.
Ternyata segitu ngebetnya pak Karan ingin mempersunting aing.
Aku yang dengerin pembicaraan mereka cukup deg-degan, takut Ridho kesel terus bogem mentahnya melayang di wajah pak Karan.
"Pikirkan saja, dulu! aku yakin setelah kamu melihat nominalnya kamu tidak akan bertingkah sombong seperti itu!" kata pak Karan yang kayaknya balik lagi masuk ke dalam tendanya.
Untungnya mendengar ucapan pak Karan yang tadi, Ridho nggak main tangan karena merasa tersinggung karena udah direndahkan sama mantan bos kita.
Aku tiduran lagi, dan berpikir keras. Kalau Ridho nolak apa yang ditawarkan pak Karan, berarti buat Ridho aku ini begitu berarti melebihi dunia dan seisinya.
Pipiku mendadak panas, "Apa bener dia segitu cintanya sama aku? ah, mamas! aku meleleh nih!" aku tutupin wajah, malu-malu meong.
"Aaawh!" jidatku yang luka kesenggol tangan.
Aku tari selimut dan nyoba buat merem dengan senyuman yang tersungging di bibir.
.
.
.
Sreeeek!
Sreeeek!
Ada langkah kaki yang seperti berkeliling di sekitar tenda.
"Siapa sih?" mataku sedikit terbuka.
Aku ngeliat bayangan dari dalam tenda. Karena ngantuk nggak karuan, aku milih buat merem lagi.
Tapi kok suaranya ganggu banget.
Ya ampun, apa jangan-jangan itu pengawalnya pak Karan yang ditugasin buat jaga malam di sekitar tenda? tapi kok jalannya ada yang diseret juga.
Kakinya susuban ranting apa gimana sih? kalau begini kan agak nakutin jatohnya. Tidur aing jadi terganggu, ih!
"Siapa itu?" seru Ridho.
__ADS_1
Aku yang kaget jadi kebangun, "Ridho?" gumamku.
Penasaran, jadi aku ambil jaket dan buka tenda, dan nggak lupa buat aku tutup lagi.Aku jalan ke arah api unggun.
Tapi nggak ada!
Ridho nggak ada disana, bahkan suasana begitu sepi. Hanya ada suara serangga malam dan pohon yang tertiup angin.
"Dhoooo..." aku manggil Ridho lirih.
Sreeeeeeeet!
Kayak ada yang lewat di belakangku. Aku sontak memutar badan.
"Dho ... Ridhooo?" aku panggil lagi.
"Apa dia udah masuk tenda? tapi tadi jelas banget aku denger ada suara dia di luar! mending aku masuk lagi aja!"
Dan...
Pas aku berbalik.
Brakkk!
Aku menabrak seseorang, aku merem takut ini setan atau sejenisnya.
"Kamu kenapa di luar, Va?" suara seseorang yang sangat familiar, seseorang yang udah bikin aing cenat-cenut kalau liat dia deket sama cewek lain.
"Vaaaa...!" dia manggil lagi.
Tapi setelah aku buka mata. Ridho ada di depan mata.
"Ridho..." aku bernafas lega.
"Aku kira siapa..." lanjutku.
Tapi Ridho cuma narik satu sudut bibirnya. Dia berbalik dan pergi gitu aja.
"Dhoooo? kamu mau kemana?" tanyaku.
Dia nengok sekilas dan ngeloyor pergi menjauh dari area yang dibangun tenda.
"Ridho mau kemana sih?" aku nyalain senter hape dan ngikutin kemana langkah mas pacar.
"Dhoooo? balik ke tenda, yuk?" aku setengah berteriak. Karena jalan yang dipilih Ridho ini kayak semakin masuk ke dalam hutan gitu.
"Aaawhhh!" aku nggak sengaja terkena tumbuhan liar yang mungkin berduri.
"Dhoooooooo! berhenti!" aku mencoba mengejar Ridho tapi kangmas kayak nggak peduli.
__ADS_1
"Ikut atau kembali?" ucap Ridho yang seketika menghentikan langkahnya.
...----------------...