Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pindah Tempat


__ADS_3

Beneran Mona dateng dengan muka yang kusut. Lah kenapa nih bocah.


"Assalamaualaikum!" ucap Mona lemes.


"Waalaikumsalam. Kenapa, Mon? kucel banget tuh muka?" ucapku seraya nutup pintu.


"Nggak apa-apa," dia jatuhin diri di kursi ruang tamu.


Anak perawan yang satu ini kenapa lagi dah. Bilangnya nggak kenapa-napa, tapi bibir bisa dimonyong-monyongin begitu. Kaki juga digejak-gejugin di lantai. Adeknya Ridho kena sawan dimana ini?


"Hwwwwwaaaaaaaa!" Mona mulai atraksi. Dia usek-usekin rambutnya sendiri.


"Nyebut, Mon. Nyebuuutttttt!!!" ucapku sambil pegang jidatnya kayak orang lagi ngeruqyah.


"Saha ieu teh?" ucapku sambil teken jidat Mona.


"Aku nggak kesambet, Mbaaaak!" Mona ngelepasin tanganku dari jidatnya. Aku sebagai calon kakak ipar yang diidam-idamkan semua adik ipar di muka bumi ini pun duduk di samping Mona.


"Kalau nggak kesambet, terus kenapa? aneh banget kamu tuh dateng-dateng kayak orang yang lagi stresss berat!" kataku.


"Hwaaa, Mbaaaaakkk! gebetan akuuu, Mbaaakkk! gebetaaan akuuuu, Mbaaaaakkk!" dia goyang-goyangin kedua bahuku maju mundur.


"Mon, Mon, sabar Mon!"


"Gebetan kamu kenapa?" aku tangkep kedua tangannya supaya bisa diem.


"Hiks ... hiks ... hwaaaaaaaa!"


Lah si Mona malah nangis, ampun dah. Ini adeknya kangmas kenapa lagi coba.


"Tenang, Mon. Kamu yang tenang duku terus cerita yang bener kamu itu sebenernya kenapa. Ayo sekarang coba kamu taaarikk napaaaaasss, hembussskan..." aku nyontohin udah katak bu bidan lagi nolong orang yang mau lahiran.


"Heeeeemmph, hhuuuuffffhh..." Mona ngelakuin apa yang aku suruh.


"Sekarang udah lebih tenang?" tanyaku, dia ngangguk.


"Sekarang cerita, kamu itu kenapa?" aku mencoba menggali permasalahan apa yang dihadapi adik ipar.


"Gebetan akuuu disrobot oraaaang, Mbaaaaakkk? p-padahal kan ... emmph, padahal kan aku duluan yang kenal! tapi malah kena fiendzone!!!!!!!!!" Mona sambil terisak.


"Wah, nggak bener nih! siapa nama tuh cowok? bisa-bisanya dia php-in adik ipae akuuuu!" aku niruin adegan lingkis lengan baju, padahal aku sekarang kaos oblong.


Mona gelengin kepalanya. Dia nggak mau nyebutin nama gebetannya itu.


"Katakan Mon siapaaa cowok ituuuuuhhhh?" aku mulai lebay.


"B-Bara, Mbaaaak! hwaaaa, dia ... dia jadian sama yang laeeeeeeeennn!" Mona nangis lagi.


Maklumin aja, anak gadis seumuran Mona pasti bakal blingsatan perkara gebetan ditikung sama yang lain. Kayaknya dunia ini udah kayak mau runtuh aja gitu. Halah! Jangankan Mona, aing aja kalau liat tuh ada ciwi-ciwi yang mencoba buat pedekate sama kangmas, udah pasti naik darah.


"Baraaa?" aku mengernyit. Kayaknya nggak asing tuh nama.

__ADS_1


"Yang dulu pernah kesini, Mbaaaakkk! yang malem-malem ujan ituuuuuuu!"


"Ooohhh, yang itu? ooh, cowok itu yang bikin mata kamu jadi bengkak begini? sungguh terlaluuuhh!" ucapku.


"Cowok kayak gitu mah dipasar banyak! udah cup cup jangan nangis!" aku puk-pukin pipi Mona.


"Dia nggak pasaran, Mbaaaak! dia itu stock terbatas, Mbak!" protes Mona sambil nangis.


Elah, salah lagi aing ngomongnya. Aku mikir, gimana nih supaya Mona bisa diem. Aing puyeng juga dengerin ini bocah sesenggukan mulu.


"Dah, kamu diem. Siap-siap terus kita makan di luar. Mbak yang traktir!" ucapku.


"Makan sepuasnya ya, Mbaaak?" Mona mendadak semangat.


"I-iya iya makan sepuasnya!"


Astaga, alamat jebol dompet aing malam ini. Aku lupa kalau Mona makannya banyak. Badan doang kecil, makannya kayak kuli.


Habis sholat maghrib, kita berdua naik motor. Mona keukeuh yang nyetir. Katanya takut kalau dimarahin Ridho. Soalnya Ridho titip pesen ke Mona kalau aku lagi sakit. Emang ngadi-ngadi si Ridho mah.


"Ini beneran nggak apa-apa mbak Reva keluar?" Mona agak kencengan dikit ngomongnya.


"Nggak apa-apa! Aku kan mau ngehibur kamu yang lagi patah hati! lagian di rumah nggak ada makanan apa-apa, kan? ini cacing udah pada demo di dalem perut!" kataku yang juga nggak kalah kenceng.


Kita muter-muter nggak jelas. Tapi pas di jalan Ridho telpon.


"Mon! Mon! minggir dulu, Mon! calon suami Mbak nelpon!" ucapku sambil tepok bahu Mona.


"Siapa?" Mona kepo.


"Kangmas, eh Ridho!"


"Idiihh, manggilnya kangmas!" Mona mencibir panggilan kesukaanku.


"Haloooo? iya kenapa? aku? aku lagi di jalan sama Mona! mau nyari makan, kita berdua kelaparan dan kehausan! ya udah aku share loc tempatnya! hem, waalaikumsalam!" ucapku di telepon.


"Mas Ridho mau nyusulin?" Mona sampai nengok ke belakang, muterin sedikit badannya.


"Iya, dia mau ngintilin kita berdua..." jawabku.


"Yang baru jadian bikin ngiri aja!" celetuk Mona.


"Ngobrolnya pas ditempat makan aja, sekarang lanjut dulu!"


Kita berdua ngelanjutin perjalanan yang sempat tertunda. Ada rumah makan yang laris banget, kayaknya menggoda buat kita mampir.


"Disini aja, Mbak?" tanya Mona.


"Rame banget! pasti enak makanannya ya, Mon?" aku asal nebak.


Hanya ada dua kemungkinan tpat makan itu kenapa bisa rame pengunjung. Yang pertama, makanannya terkenal enak, atau harganya yang murah meriah.

__ADS_1


Daripada penasaran, aku dan Mona mutusin buat masuk ke rumah makan itu.


"Bentar, aku share loc dulu, Mon!" ucapku.


"Udah, yuk!" lanjutku.


Beneran, pas kita masuk tuh pengunjungnya udah madetin tempat duduk. Dan cuma ada satu bangku yang masih tersisa, meja paling pojok.


"Silakan menunya, Mbak!" ucap salah seorang pelayan yang langsung nyodorin deretan menu beserta harganya.


Aku liat menu andalannya itu ayam bakar sama bebek goreng. Ya udah, aku pesenin aja sekalian buat Ridho. Dia pemakan segala, jadi nggak ada pantangan mau makan apa aja.


Setelah mesen menu liwetan beserta lauknya, aku sama Mona duduk anteng berdua, sambil nungguin kangmas.


"Kamu udah pernah makan disini, Mon?"


"Belum, cuma sering liat aja. Soalnya rame, jadi mikir dua kali buat mampir, takut lama dilayani makanannya!" sahut Mona.


"Udah, lupain si Bara. Masih banyak cowok keren yang bisa kamu dapetin, dia aja yang bego bisa ngelewatin cewek pinter, manis dan cantik kayak kamu!" aku ngeluarin jurus muji.


"Kalau aku cantik, nggak mungkin dia jadian sama yang lain!" jawab Mona.


"Nah itu, salahnya ada sama mata dia, Mon! kalau mas mu denger bisa di bejek-bejek itu si Bara!" kataku.


"Siapa yang bejek-bejek siapa?" tanya seseorang yang tau-tau udah mongol aja di belakang kita.


Mona menggeleng, dia nggak mau Ridho tau kalau dia lagi ada masalah.


"Siapa, Va?" tanya Ridho yang ngegeser satu kurai di sampjngku lalu didudukinya.


"Itu Dho, enaknya siang-siang bejek-bejek mangga muda, gitu Dho! aku mendadak pengen nantangin kamu ngulek sambel, Dho. Ya itung-itung latian kalau nanti aku ngidam!" ucapku nggak nyambung.


"Ngidam apaan? nikah aja belum!" Ridho nautin dua alisnya.


"Ya kan, namanya juga latian, Dho. Latian..." aku nggak mau kalah.


"Tapi kan..." ucapan Ridho terhenti seketika.


Raut wajahnya aneh, dia kayak begidig gitu.


"Kalau pengen pipis ke toilet sana!" aku ke arah toilet dengan daguku.


"Kayaknya kita pindah tempat aja deh, Va!" ucap Ridho.


"Pindah gimana? makanannya udah dipesen!"


"Iya, Mas! lagian kita udah laper juga!" sambung Mona.


Dan bertepatan dengan perdebatan kita bertiga, si pelayan wanita datang.


"Silakan pesanannya..."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2