
Malunya naudzubillah, walaupun emang aku nggak bisa masak tapi kan bisa lah bantu-bantu dikit. Ngupasin apa kek gitu, bukannya malah mertua yang repot masakin dan aku yang enak-enakan makan semuanya udah disediain.
"Kok diam saja, Reva? apa kurang suka dengan makanannya?" tanya ibu yang ngeliat aku diem-diem bae.
"Eh, ng-nggak kok, Bu. Ini enak banget malah..."
"Reva ngerasa nggak enak, Bu. Soalnya dia bangunnya kemaleman, nggak bisa bantuin ibu masak di dapur," Ridho nyerocos aja nggak ada saringannya.
"Oalaah, karena itu? Ibu malah seneng masakin kalian, lagian hanya masak masakan kampung kayak gini, sambil merem aja jadi. Ndak perlu merasa nggak enak segala. Lagian ibu ya tau, kalian capek habis perjalanan jauh..." kata ibu.
Sumpeh, ibunya Ridho top markotop banget. Seketika aku merasa beruntung gaes, untung mertua aing orangnya baik dan nggak beringas. Coba kalau modelan nenek Darmi atau si Karla, beuh yang ada tensi naik, kepala cekot-cekot, badan meriyang dan segala macem yang dirasa. Udah kayak list belanja tau nggak lu.
Selesai makan, ibu ngasih tau aku kalau besok malam mau ada acara. Tapi Ridho ngelarang ibunya buat masak, katanya suruh pesen catering aja semuanya. Lagian mbok Surti lagi nggak ada juga, jadi Ridho nggak mau tuh ibunya kecapean gara-gara nyiapin semuanya sendirian.
"Ridho kesini nggak mau ngrepotin ibu, nggak pengen ibu capek. Jadi sekarang pesen catering aja," ucap Ridho yang nggak mau dibantah.
"Benar kata mas Ridho, Bu. Lebih baik semuanya pesan saja, dan nanti kita suruh orang untuk nyiapin tempat dan lainnya, biar ibu nggak kecapean..." kataku.
"Ya sudah, ya sudah, baiknya gimana ibu manut kalian saja..." ucap Ibu.
Kalau malem nggak usah diceritain ya, kan udah bisa ditebak Ridho pasti ngajakin pencak silat, taekwondo, karate, pokoknya segala macam jurus dari berbagai perguruan kita praktekin. Aku sampai angkat bendera, tanda menyerah.
Tengah malam aku kebangun nggak tau perasaan kayak nggak enak aja. Mungkin karena ini tempat baru juga. Tapi kan disini aku ditemenin Ridho tapi nggak tau kenapa perasaan kayak ada yang ngeganjel dan itu nggak enak banget.
Aku liat jam di hape nunjukin jam 2 malem, aku coba scroll chat atau apapun lah yang bisa mengalihkan perhatian supaya nih perasaan yang nggak enak bisa ilang gitu.
Dan pas aku scroll niatnya sih mau hapus-hapusin chat yang ada di aplikasi ijo, dan pas nemu kontaknya pak Karan ternyata dia lagi online.
"Belum tidur nih orang," gumamku dalam hati. Kalau dibaca satu-satu chatnya tuh mantan bos, kebanyakan isinya merintah, merintah, dan merintah mulu.
TING?!!!
Ada satu chat yang masuk, dari Dedek Karan.
📱Belum tidur?
Aku bingung kira-kira aku harus bales apa nggak. Kalau chat-chatan tengah malem kayak gini aku tuh berasa lagi selekong gitu. Tapi kan ini yang chat saudara sendiri ya, jadi nggak apa-apa lah dibales. Toh hati dan ragaku sekarang juga udah milik Ridho sepenuhnya.
__ADS_1
📱Udah tidur cuma kebangun. Ngapain jam segini online?
Dan dia pun bales lagi.
📱Kerja.
Astaga balesnya seuprit banget. Terakhir aku bales sebelum aku mau tidur lagi.
📱Jangan mikirin kerjaan mulu. Pikirin juga tuh pasangan hidup.
Dan ya, dia nggak bales lagi. Malah udah nggak online tapi chatku itu sempet dibaca, soalnya centangnya dua biru.
Mungkin perasaan nggak enak ini karena biasanya kan adek sepupu suka banget gangguin. Ntar disuruh ini lah itulah, sekarang dia kayak ilang lenyap gitu aja setelah aku nikah.
Memang pada dasarnya manusia itu nggak ada rasa puasnya ya, kemarin Ridho yang ngilang duniaku rasanya runtuh. Sekarang aku udah menikah dan bareng sama Ridho, rapi disisi lain aku kehilangan orang yang galaknya sekarang aku kangenin.
Wait, kangen? Nggak, nggak boleh. Mungkin lebih tepatnya perasaan ini merupakan efek dari masa peralihan. Aku orangnya nggak suka banget ditinggalin. Jadi hilangnya atau berubahnya situasi, bikin nih hati nggak nyaman gitu.
"Sayang?" Ridho manggil dengan suara serak-serak bangun tidur.
Aku yang lagi pegangan hape langsung ngumpet di balik selimut pura-pura tidur.
"Kok minggir kesitu sih?" Ridho narik aku, dan dikekepin kayak guling.
Paginya biasa nggak ada kata nanti buat subuhan berjamaah bareng suami Itu kayaknya udah jadi aturan baku dari Ridho, kecuali kalau bendera merah lagi berkibar.
Dan abis sholat subuh, pasti mata kayaknya berat banget buat melek gitu. Tapi berhubung lagi di rumah mertua, aku nggak mungkin tidur lagi. Minimal nongol lah, barangkali ibu butuh bantuan. Tumben kita otaknya rada bener ya, astaga.
"Aku ke dapur ya, mau bikin kopi..." kataku pada Ridho.
"Wah, rajinnya istriku. Pagi-pagi mau buatin suaminya kopi..."
"Bukan buat kamu tapi buat aku. Nih, nggak liat aku kurang tidur kayak gini? kalau nggak diganjel kopi, yang ada aku merem lagi..." kataku meruntuhkan senyuman Ridho.
"Ntar aku sekalian bikinin, tenang aja..." kataku lagi.
"Sama Roti bakar ya kalau ada mah,"
__ADS_1
"Kalau inget dan niat ya," ucapku sembari ngeloyor pergi.
Nasibmu, Dho milih aku jadi istri. Aku kan emang nggak bisa masak. Kalau sekedar roti bakar mah bisa kali, nggak gosong.
Tebakanku bener, ibunya Ridho udah uplek aja di dapur.
"Sudah bangun?" ibu nengok setelah menyadari keberadaanku.
"Sudah, Bu. Tadi habis sholat jamaah sama mas Ridho," ucapku membangun kembali citra baik di depan mertua.
"Oalah, bagus itu. Ibu senang dengernya," puji ibu mertua.
Ibu nggak tau aja, aku bisa sholat juga setelah kenal sama Ridho. Emang sedikit banyak Ridho mengubah kehidupanku yang tadinya blangsak nggak jelas, nggak ngerti agama, sekarang balik ke jalan yang benar.
Aku nyalain kompor, dan ningkringin teko berisi air.
"Mau bikin apa?"
"Kopi, Bu. Buat mas Ridho..." kataku sok manis sok iye.
"Ibu mau masak apa?" aku balik nanya.
"Nasi goreng buat sarapan," ucap ibu yang lagi ngulek bumbu.
"Saya bantuin, Bu..." ucapku
"Nggak usah, ini tinggal osang-oseng bentar juga jadi. Itu kamu buatin Ridho kopi aja, nih dia sukanya kopi yang ini..." ibu ngasih kopisusu instant.
Air udah mendidih, aku seduh dua cangkir kopi.
"Ibu mau teh? biar sekalian Reva buatin..." ucapku yang lagi berusaha jadi mantu yang rajin.
"Boleh, tapi ibu sukanya teh tanpa gula. Pakai setengah bungkus teh aja, ini pocinya..." ucap ibu yang ngasih poci yang terbuat dari tembikar.
"Hati-hati air panas," lanjut ibu saat aku mau nuangin air panas ke poci.
"Iya, Bu..."
__ADS_1
Aku bawa dua cangkir, dan satu poci teh beserta gelas yang juga terbuat dari tembikar ke meja makan, "Reva panggil mas Ridho dulu ya, Bu..." kataku.
"Sekalian kita nanti sarapan bareng," kata ibu yang lagi sibuk bikin nasi goreng.