Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Gunting dan Peniti


__ADS_3

Beneran deh suatu kecerobohan yang haqiqi, tadi siang mama sempet denger cuitannya bu Ranti di voice note. Soalnya apa? pakdhe ku langsung nelpon pas habis ashar tadi. Aku yang masih molor, dibangunin mama perkara pakdheku nelpon.


Tapi karena aku yang ngebo banget tidurnya, pakdhe ku cuma titip salam dan pesen. Kalau aku harus selalu bawa gunting yang dicangkolin pakai peniti di baju yang aku pakai. Katanya supaya janin yang ada di rahimku nggak diganggu makhluk-makhluk halus. Nggak tau deh itu bener apa nggaknya.


"Ya ampun, Maaah. Ini kalau mas Ridho tau, ngertinya aku musyrik ini," kataku.


"Mama waktu hamil juga pakai kayak gini, bukan niat musyrik. Kita tetep berdoa sama Allah, tapi nggak tau lah pakdhe kamu yang nyuruh..."


"Udah deh, Mah. Reva nggak mau pakai kayak gini, dosa tau nggak?" aku balikin lagi gunting besi dan peniti ke tangan mama.


"Ya sudahlah, kamu emang nggak bisa dibilangin. Apa lagi lagi ada teror kunti di kompleks ini, paling nggak mereka nggak akan mendekat kalau ada benda tajam di sekitar kamu,"


"Tapi ini malah bahaya, Mah. Ini kalau perutku ketusuk gimana?" aku nggak mau pakai.


"Ketusuk apaan? guntingnya juga ditekuk kayak gini, kok. Kamu tau nggak mama nyari gunting ini sampai harus ke pasar tadi. Udah capek-capek," kata mama yang nurut banget sama pakdhe.


"Ya kan Reva nggak minta, Mah..."


"Iya bukan kamu yang minta, ya sudahlah. Mama nggak mau ribut, nanti kamu stress terus jadinya malah efeknya sama kehamilan kamu lagi," mama naruh gunting dan peniti diatas nakas.


"Kamu mandi, biar suami kamu pulang liat istrinya udah seger," kata mama lagi.


"Mama keluar dulu," mama jalan ke arah pintu dan keluar dari kamar.


Udah sore, jadi aku pergi ke kamar mandi buat nyegerin badan. Tapi aku kayak denger ada yang lagi geratakan di kamar.


"Mas Ridho udah pulang?"


Aku mempercepat acara mandi, "Mas? Mas Ridhooo?" aku panggil dari dalem sambil cepet-cepet pakai handuk kimono.


Tapi pas aku keluar dari kamar mandi, aku nggak nemuin sosok suamiku yang ganteng itu.


"Lah? perasaan tadi kayak ada yang masuk," aku bergumam.


"Mas? Mas Ridhooo?" aku jalan ke ruang ganti yang isinya pakaian, bahasa kerennya mah walk in closet.


"Nggak ada juga," aku celingukan, "Apa tadi dia keluar lagi?"


Karena udah sampai di ruang ganti, ya udah sekalian aja aku ganti baju. Dan aku keluar lagi buat tancap lenongan dikit-dikit.


Pas aku udah selese nyisir rambut, baru dah tuh suami aing buka pintu dan ucluk-ucluk masuk, "Udah mandi? gimana, pusing nggak?" tanya kangmas.


"Udah mandi lah, nih udah cantik begini kok!" aku kibasin rambut sambil deketin kangmas yang masih lengkap pakai jas.

__ADS_1


"Tadi masuk nyari apaan?" aku nanya sambil ngebuka dasinya Ridho.


"Masuk? siapa?" tanya Ridho heran.


"Ya kamu lah, Mas! masa iya bu RT?" aku nyautin agak gemes nih.


"Nggak, Yank. Aku baru juga pulang dan baru masuk juga tadi,"


"Nggak usah bercanda deh," aku lepasin dasi dari lehernya kangmas.


"Nggak, suwer?! aku baru dateng waktu kamu lagi nyisir rambut," ucap Ridho yang ngebuka jasnya.


"Kamu denger ada yang masuk ke kamar?" tanya Ridho, aku ngangguk.


"Aku denger ada yang masuk, aku kira kamu. Dan kayak lagi geratakan nyari sesuatu,"


Aku mepet ke badan kangmas, "apa ada maling yang masuk ya, Mas?"


Mata Ridho menelisik ke segala penjuru kamar. Raut wajahnya berubah jadi serius. Dan dia mencoba ngecekin lemari dan kondisi kamar kita dari sudut ke sudut. Aku sih ngekorin aja, takut juga kalau iya ada maling masuk.


"Semua masih aman, nggak ada yang ilang," ucap Ridho setelah ngebuka brankas yang ada di lemari.


"Kondisi kamar kita juga baik-baik aja, kan?" Ridho nutup lagi brankasnya.


"Iya, nggak ada yang berubah, sih..." ucapku.


"Terkunci," ucapnya.


"Apa perlu besok aku pasang cctv di kamar kita ya, Va? biar semua terpantau dengan jelas?" usul Ridho.


"Dikamar? cctv?" aku nautin dua alis.


"Iya, jadi kan biar kalau ada maling atau apa, bisa keliatan gitu. Ketangkep sama cctv,"


"Nggak usah lah, ini kamar kita, maszeeh?! tempat kita---" aku nggak bisa lanjutin tuh kata-kata.


"Oh iya iyah? lupa aku, Sayang?! tempat kita latian taekwondo ya? iya iya maap, lupa..." Ridho akhirnya nyambung juga.


"Abisnya tadi kamu bilang kan ada yang masuk ke kamar, jadi aku pikir ya mending pasang cctv biar kalau ada kejanggalan kita bisa langsung tau gitu. Tapi apadaya, ruangan ini terlalu privacy," kata Ridho yang mulai deket-deket dengan raut wajah yang begitu.


"Mandi sana, aku mau ke bawah. Mau makan burjo lagi," kataku yang dorong Ridho pelan. Ngeliat aku yang kabur, Rido malah ketawa. Emang dasar suami lucknut.


Setelah nutup pintu aku turun tangga, menuju ruang makan yang gabung sama dapur. Aku denger suara-suara kayak orang lagi masak. Baunya juga enak banget.

__ADS_1


"Masak apa, Mah?" aku nanya mama yang lagi sibuk osang-oseng masakan.


"Ini tumis buncis sama daging," ucap mama.


"Enak, dong?!"


"Pasti. Kamu sekali-kali belajar masak, Reva. Kamu kan mau jadi ibu," mama mulai ceramah lagi.


"Ya, nanti juga belajar kok," aku ambil burjo di panci, aku tarik kursi dan duduk anteng.


Mama mulai menata makanan yang udah jadi di meja makan.


"Ridho udah pulang? kayaknya tadi mama denger ada yang naik ke atas,"


"Iya udah pulang, lagi mandi dia," kataku.


"Kamu mau minum teh? biar mama sekalian bikinin," kata mama.


Aku menggeleng, " Nggak usah, Mah. Biar aku bikin sendiri. Mau bikinin kopi juga buat Ridho," kataku yang secepat kilat ngabisin bubur kacang satu mangkok.


"Kalau gitu sekalian bikinin mama teh.Mama capek,"


Lah, ini malah mama yang gantian nyuruh. Tapi emang kalau aku ajdi mama juga capek lah, udah belanja terus masak pula. Sementara akunya malah enak-enakan molor di kamar.


Aku mulai ngrebus air biar mateng. Abis itu aku bikin satu cangkir kopi zuzu buat maszeeh, dan teh buat aku sama mama.


"Wah, bau kopi nih..." ucap Ridho yang tiba-tiba nongol.


"Pas kebetulan, aku nggak usah naik ke atas. Ini kopinya mau aku taruh di sini apa di ruang tivi?" aku nawarin.


"Sini aja lah, kamu jangan capek-capek. Duduk aja udah, aku bisa bikin kopi sendiri," ucap Ridho.


"Tah etaaaa, suamii mandiri ceunah?!" ucap mama, Ridho senyam-senyum aja. Kesenengen dia tuh dipujiiii mulu ama mertua.


"Ini mama yang masak?" tanya Ridho.


"Iya lah, aku mah ilmunya belum nyampe kesitu," aku ngejawabin kangmas.


"Mau makan sekarang?" aku nanyain.


"Iya sekarang aja, laper banget. Tadi nggak sempet makan siang juga," kata Ridho.


"Ya udah, kamu makan. Ini mama masak banyak..." ucap mama.

__ADS_1


Tanpa diminta aku pun mau ambilin piring buat Ridho tapi lagi-lagi nggak boleh.


"Aku ambil sendiri aja," ucap Ridho. Jadilah jam makan malam kita semua dimajukan tanpa direncanakan sebelumnya.


__ADS_2