Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kok Keluar Dari Situ?


__ADS_3

"Rok kamu nggak terlalu ketat itu?" tanya Ridho.


"Biasanya aku pakai kayak gini kamu juga nggak protes, Dho..."


"Jarang kan, kamu akhir-akhir ini kan sering pakai celana panjang!" kata ayang.


Aku ngibasin rambut dan noleh ke arah Ridho dengan manja, "Kasian kalau nggak dipake, mubadzir!"


Kangmas cuma gelengin kepala, biasanya juga dia nggak banyak komen tentang yang aku pakai. Kok ya sekarang pakai rok segini aja dia udah nyap-nyap.


Setelah nyari yang namanya Mita, aku pun digiring masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada banyak tempat duduknya. Sedangkan Ridho nggak boleh masuk, dia nungguin di luar


Wanita itu menyuruh aku duduk dan nggak lupa ngasih lembaran kertas, "Silakan diisi,"


"Baik. Terima kasih..."


Aku kira dia bakal nemenin aku disini, tapi ternyata nggak. Mbak Mita tadi keluar ruangan dan tinggal aku sendirian aja.


"Hah, udah lama nggak ngisi beginian!" ucapku sambil membaca pertanyaan yang ada di lembaran yang ada di tangan saat ini.


Pertanyaan yang diulang-ulang secara acak yang bikin aku ngantuk. Beberapa kali aku nguap, bosen ngerjain kayak ginian dengan pertanyaan yang segambreng nggak abis-abis. Cuma ya karena pengen banget diterima, aku ngisinya harus hati-hati. Gimanapun kesempatan ini nggak boleh terlewatkan begitu saja.


Masih untung kadar melihat hantuku udah berkurang, jadi sendirian di ruangan kayak gini pun kayaknya aman. Ditambah Ridho ada di depan, kalau ada apa-apa tinggal teriak aja.


Aku kayak orang yang udah ngantuk berat, "Hoooooaammmmph!"


"Jangan ngantuk, woy! bentar lagi kelar!" aku nyemangatin diri sendiri.


Aku fokus lagi, karena nggak mau salah baca apalagi salah ngisi. Akhirnya 1 jam yang melelahkan ini berakhir juga. Aku benerin rok dulu yang agak nyincing ke atas. Lalu tak tok tak tok keluar dari ruangan yang super dingin ini.


Tapi pas keluar, nggak ada Ridho di kursi tunggu.


"Kemana dia?" aku celingukan nyariin kangmas.


"Taruh ini dulu deh!"


Aku jalan ke tempat dimana aku ketemu mbak Mita tadi.


"Sudah selesai?" tanya mbak Mita.

__ADS_1


"Tunggu dulu ya," lanjut mbak Mita.


"Oh iya, Mbak..."


Mataku masih mencari-cari keberadaan Ridho, "Apa dia nyari kopi di kantin ya?" aku menebak apa yang mungkin dilakukan kangmas.


Aku nunggu lumayan lama, sampai aku nggak sabar dan milih buat telpon si kangmas. Kali aja dia amnesia terus main ninggalin aing gitu aja disini.


Baru aja hape mau ditempelin di kuping. Ridho keluar dari salah satu ruangan.


"Kok keluar dari situ?" aku mengernyit.


"Sorry, Va. Kamu udah selesai ya?" tanya Ridho.


"Udah daritadi. Kamu kemana aja sih? aku kira kamu ilang tau, nggak? oh, ya kok kamu keluar dari sana?" aku menunjuk sebuah ruangan di pojok.


"Oh, itu ... itu aku---"


Namun sayang percakapan kami dipotong dengan kedatangan mbak Mita, "Pak Ridho, saya diperintahkan pak Ibnu untuk menyampaikan kalau mulai besok saja anda sudah bisa masuk di perusahaan ini..."


"Oh begitu, ya sudah..." ucap Ridho antara enak dan nggak enak tuh muka.


"Oh ya, untuk Mbak Reva. Ternyata di bagian keuangan sudah tidak membutuhkan staff tambahan, tapi jika mau mbak Reva bisa mengisi di bagian marketing. Jabatan tidak sesuai dengan lamaran, bagaimana?" tanya mbak Mita.


"Bagaimana anda menerima tawaran kami?" tanya mbak Mita.


"Ah, gimana? ah ya, ehm ... apa aja mbak, boleh..." ucapku agak nyambung nggak nyambung.


"Baiklah kalau begitu silakan ikut saya untuk lanjut ke tahap berikutnya," kata Mbak Mita.


Aku yang otak masih kemana-mana cuma ngikutin perempuan yang super rapi ini.


Ternyata aku masuk di ruangan yang sama dengan yang tadi dimasuki Ridho. Aku ketemu dengan manager, buat interview.


Biasanya ada perusahaan yang psikotest dulu, setelah hasilnya keluar baru deh dipanggil buat interview. Tapi perusahaan ini beda, kek terkesan kilat gitu.


Sekarang aja aku lagi di interview, walaupun nanti aku bakal ditempatin di divisi lain nggak apa-apa lah. Yang terpenting sekarang aku ada pemasukan dulu. Masalah kerjaan aku yakin cepet belajar.


"Baik, jika anda setuju. Anda besok harus medical check up dan bawa hasilnya kemari," perintah pak Ibnu yang matanya kemana-mana.

__ADS_1


Aku iya iya-in aja udah. Tapi kok Ridho udah mulai kerja aja ya. Disitu aku penasaran. Perasaan dia nggak pernah cerita apa-apa.


"Sudah selesai, pintu keluarnya ada di sebelah sana..." ucap pak Ibnu yang rada-rada genit.


Aku merinding di kedipin begitu. Salah banget emang pakai rok kayak gini.


"Permisi, Pak!" ucapku yang buru-buru keluar.


"Astaga, ganjen amat itu orang!" aku geleng-geleng sambil jalan ke arah Ridho.


"Udah?" tanya Ridho.


"Hemmm," aku cuma dehem aja.


Ridho pegang tanganku, "Kita bicara dulu di kantin,"


Kangmas narik aku menuju lift buat nyatronin kantin. Kayaknya dia nyari tau dimana tuh kantin ngejogrog, makanya kesannya dia udah hafal dan nggak tanya sana sini.


Setelah sampai di tempat yang kita tuju, kangmas pesen minuman dingin buat kita berdua.


"Silakan, Mas..." ucap wanita yang nganterin pesenan kita.


"Minum dulu, Va. Biar nggak kering tuh bibir," kata Ridho yang nyodorin jus mangga yang seger banget.


Aku nurut, minum dulu. Lagian haus juga nih kerongkongan.


Mataku ngeliatin kangmas, minta penjelasan.


"Sabar, Va. Aku pasti jelasin semuanya sama kamu. Jadi gini, aku emang sempet naro lamaran di perusahaan itu. Itu juga udah lama banget, ya awal-awal aku resign itu. Tapi baru dapet panggilan beberapa hari yang lalu, pas aku nyupirin penganten,"


"Kamu nggak bilang sama aku,"


"Aku nggak mau terlalu cepet ngabarin. Takutnya kan nggak diterima malah php ke kamunya. Sebenernya aku yang kaget kenapa kamu ada panggilan juga di perusahaan ini. Tapi ya udah, mungkin emang takdir nggak bolehin aku jauh-jauh dari calon istri..." Ridho genggam tanganku.


"Bukannya aku nggak mau cerita, tapi aku mau pastiin kalau emang bener dan udah jelas aku diterima. Ini juga kan semua demi hubungan kita berdua, Va..." Ridho ngelus pipiku dengan satu tangannya.


Aku menghela nafas, "Tapi aku nggak suka sembunyi-sembunyi kayak gini lagi, apapun itu, Dho!"


"Iya iya aku salah, aku minta maaf ya. Lagian bukannya enak kalau kita kerja satu kantor lagi?" ucap Ridho.

__ADS_1


"Iya juga sih. Lumayan kalau berangkat sama pulang nggak usah ngojek atau naik motor sendiri. Selain irit bensin juga irit tenaga!" ucapku.


...----------------...


__ADS_2