Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Terlalu Pede


__ADS_3

Ternyata sehari di rumah sakit itu berasa satu abad. Aku dilarang ke ruangan Mona, katanya biar Mona bisa istirahat dengan tenang, maap-maap aja nih ya, kita kan ngejagain. Bukannya mau bikin rusuh. Ya kali aja gitu pas Mona cerita ama emaknya di kampung, yang terucap dari mulut Mona tentang aku tuh yang baik-baik. Biar si emak kasih pintu restunya buat aing dan Ridho buat secepatnya kawin tahun ini, Aaamin.


Aku nggak bisa bayangin kalau aku dan Ridho jadi suami istri. Rumah tangga model apa yang bakal kita bangun nanti? kayaknya bakal seru banget itu, tiap hari ada aja yang diributin.


Ah, mikirin itu rasanya jadi malu sendiri.


"Oy, kenapa senyum-senyum sendiri?" ucap seseorang yang udah lama nggak aku temui.


"Mbak Sena?"


Aku benerin posisi dudukku di ranjang yang disanggah tumpukan bantal, "Apa kabar, Mbak?"


"Baik, Va. Maaf ya baru jengukin, itu juga aku baru tau dari Arjun pagi ini..." ucap mbak Sena sambil naro parcel buah yang dia taruh di atas meja sofa. Dia jalan mendekat dan duduk di samping ranjangku.


"Arjun?" aku menatap mbak Sena dengan tatapan menelisik bak detektif.


"Emh, iya..." ucap mbak Sena agak salting.


"Kayaknya ada yang lagi deket, nih..." godaku.


"Apaan sih, Va! udah ah, jangan bahas aku. Aku kesini kan niatnya jengukin kamu. Kamu abis kejebak di lift ya?" tanya mbak Sena.


"Iya, Mbak! untung aja masih bisa keluar dan bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya..." kataku hidung sambil kembang kempis.


"Mbak Sena udah sehat? maaf ya aku jarang nengokin,"


"Nggak apa-apa, Va. Santai aja..." ucap Mbak Sena.


"Selain pengen liat keadaan kamu, aku juga mau ngucapin terima kasih karena waktu itu kamu udah mau repot-repot nyariin aku di hutan, padahal orangtuaku aja katanya udah pasrah..." tutur mbak Sena.


"Kenapa kamu begitu yakin kalau aku masih hidup, Va?" mbak Sena natap aku dengan seribu tanya di jidatnya.


"Nggak tau, Mbak! aku feeling aja..." ucapku nggak mau bilang yang aneh-aneh.


"Aku seneng ternyata mbak Sena emang beneran bisa ditemukan dan sekarang bisa berkumpul dengan keluarga. Aku juga makasih banget sama sepupu kamu yang udah bayarin semua biaya rumah sakit, aku berhutang budi sama kalian berdua..." Mbak Sena tersenyum tulus.

__ADS_1


.


.


.


Nggak tau kenapa pas ngobrol sama Mbak Sena tiba-tiba aja aku ketiduran. Mungkin efek dari obat yang aku minum atau apa, bangun-bangun mbak Sena udah nggak ada. Pasien nggak ada akhlak emang, lagi dijengukin malah ditinggal tidur, kan kamfret.


"Hoaaaaamppph," aku ngucek baju eh mata. Aku nengok nyari jam dinding.


"Jam 1 siang?" gumamku.


"Kamu tidur sudah seperti orang pingsan saja! apa seampuh itu obat dari rumah sakit?bisa bikin kamu terbang ke alam mimpi selama berjam-jam?" sindir bos galak yang ternyata keluar dari toilet dan mergokin aku yang baru bangun tidur.


"Pak, nyindir boleh. Tapi resleting tolong dicek dulu!" kataku nunjuk celana jeans pak Karan.


Yang disindir balik auto berbalik, aku denger ada bunyi resleting yang ditutup.


"Ehm, saya sudah belikan kamu makanan yang enak. Karena makanan rumah sakit pasti tidak ada rasanya," ucap pak Karan yang memakai baju santai menunjuk beberapa makanan yang ada di meja.


"Apa ada yang datang kemari?" tanya mantan bos.


"Mau apa dia kemari?"


"Mau jualan cilok, Pak! ya mau nengokin saya lah, Bapak ini kalau nanya suka aneh-aneh deh!" aku yang lagi pewe meluk guling jadi emosi denger pertanyaan bodoh dari pak Karan.


"Sepertinya kamu sudah sehat, buktinya dengan posisi tiduran seperti itu saja suara kamu sudah melengking sampai luar angkasa!" kata pak Karan yang mungkin niatnya becanda tapi please jadinya malah garing banget.


"Ya memang saya udah sehat!" aku yang tadinya rebahan sekarang duduk dan mandang si bos galak yang tumben-tumban bergaya kayak anak muda.


"Mau malam mingguan apa gimana tuh orang?" batinku bertanya-tanya.


Keinget malam minggu, jadi kurang asoy malam minggu tapi di rumah sakit kayak gini. Mana ayang masih belum nongol juga, tambah bete deh jadinya.


"Muka kamu tolong dikondisikan Reva!" protes pak Karan yang lagi pegang jeruk di tangannya.

__ADS_1


Ternyata horang kaya macam dia bisa juga ngupas jeruk. Dia duduk di kursi samping ranjangku.


"Nggak usah dikupasin, saya lagi nggak mau makan jeruk!" ucapku ketika dia lagi bersihin jeruk dari serabut-serabut berwarna putih.


Pak Karan cuma naikin dua sudut bibirnya ke atas, yang kalau dia senyum sebenernya ganteng banget. Tapi karena yang aku liat dia kebanyakan lempeng dan serius jadi ya begitu lah.


Dia tetep aja bersihin itu jeruk sampai bener-bener bersih.


"Saya nggak mau makan jeruk!" kataku lagi.


"Kata siapa ini buat kamu? orang saya yang lagi pengen makan jeruk, kok!" jawab pak Karan sambil memasukkan jeruk ke dalam mulutnya.


GUBRAAAAKKKK!!!


Seketika rasa percaya diriku runtuh tak bersisa. Aku udah segitu pedenya nolak, eh ternyata jawabannya pak Karan diluar ekpektasi aing.


Aku yang ngeliat mantan bos nikmatin banget makan buah berwarna orange tanpa biji itu pun rasanya pengen ngilang aja dari ruangan ini. Malunya bukan main.


"Kenapa kamu liat ke arah sana? ada penampakan atau bagaimana?" tanya pak Karan yang masih menyuapkan satu persatu jeruk ke dalam mulutnya.


"Amit-amit saya liat penampakan lagi! OGAAAAH!"


Dan ketika mulutku terbuka, dia segera menjejalkan satu buah jeruk yang rasanya manis dan seger banget.


"Teman kamu pintar memilih buah!" puji pak Karan.


Tumben nih dia muji orang. Bisa jadi nih dari jeruk turun ke hati, siapa tau dia berjodoh dengan mbak Sena. Eh, tapi mbak Sena udah deket sama Arjun. Ah, kasian amat nasibmu, Pak!


"Kamu sering sekali melamun," celetuk pak Karan yang mengelap tangannya dengan tisu.


"Ya karena itu passion saya. Ngelamun dan ngayal sampai lumutan!"


"Ada ya hobi tidak bermanfaat seperti itu..." pak Karan lagi-lagi tersenyum.


Astaga, pak Karan lagi kesambet setan mana sih. Kok ya dia dikit-dikit senyum. Biasanya kan dikit-dikit nyuruh, dikit-dikit marah. Please ini bukan pak Karan yang aing kenal selama ini.

__ADS_1


"Jangan melihatku seperti itu. Karena lima detik kemudian kamu akan terpesona dan tidak akan lepas dari bayang-bayangku!" kata pak Karan.


"Anda terlalu pede, Pak!" ucapku.


__ADS_2