
"Melakukan apa? pleaseee, jangan aneh-aneh, deh..." ucapku.
Aku nggak mau ya, disuruh nikah sama Barraq buat mutusin pelletnya si Cherryl. Hidupku nanti tambah ruwet yang ada.
"Aku nggak mau nikah sama Barraq, aku udah punya orang yang aku suka!" lanjutku.
Biar nih Etan satu paham, kalau jangan minta hal yang nggak bisa aku penuhin. Lagian kenapa mesti aku, kenapa nggak orang lain aja?
Rania ngeliatin aku dengan tatapannya yan:g mengharap, "Kamu tidak perlu menikah dengan Barraq, karena kami sebagai fans juga tidak terima kalau Barraq dapat wanita aneh seperti kamu. Dia berhak dapat wanita yang sehat secara tingkah lakunya..." kata Rania, nylekit.
"Heh, kamu kok minta bantuan malah ngatain aku sih? ya udah sana minta bantuan orang lain, aku sih ogah!" kataku yang natap nih setan nggak suka.
"Kamu harus mau, karena aku akan gentayangin kamu setiap malam sampai kamu mau melakukan apa yang aku suruh!"
"Lagian melakukaaaan apaaaa? daritadi tuh aku nanya. Kamu jawabannya mutar-muter mulu, sebel tau nggak? terus, dimana-mana ya kalau minta tolong tuh orangnya dibaikin, disanjung-sanjung bukannya malah dikatain kayak gini..."
"Kamu harus ambil barang yang diletakkan Cherryl, dan membuangnya ke lautan..." ucap si Rania.
"Terus kau glatakan gitu di kamar Barraq? yang bener aja deh?!!! nggak, nggak, ntar dikira aku mau maling lagi!"
"Bagaimana pun kamu harus mengambil BARANG ITUUUUUU?!!!!!" Rania murka, dia condongin badannya ke aku dan liatin mukanya yang bikin aku mual.
"I-iya iya iya .... woleeeees woleees, dah sana. Jauhan!" aku kibas-kibasin tangan, minta Rania buat menjauh.
Dia bangkit, bergerak menjauh dari sofaku.
"Kamu harus melakukannya, kalau tidak aku akan terus menggentayangi kamu dan juga laki-laki yang kamu suka, Ridhooo..." kata Rania sebelum menghilang entah kemana.
"Astagaaa, nggak manusia nggak hantu hobinya pada mekso semua!" aku menggerutu.
Tapi baguslah, dia dateng dengan baik-baik. Nggak kayak kemarin.
.
.
Paginya, tau-tau ada yang glatakan di dapur. Bau-baunya sih enak. Aku yang indra penciumannya masih berfungsi dengan baik pun merasa terpanggil buat mencicipi.
"Hooooaaaaampppph!" aku regangin badanku yang pegel-pegel.
"Jam berapa, siiih?" aku usek rambut dengan mata yang masih menyipit.
Ternyata masih jam 6 pagi, pantesan masih ngantuk.
__ADS_1
"Udah bangun?" suara laku-laki yang tiba-tiba muncul.
"Ya ampuuuuun, Ridho! ngagetin tau, nggak? lagian, pagi-pagi nyelonong ke rumah orang. Nggak pakai ketok pintu. malah langsung glatakan di dapur!" aku nengok mencari satu sosok yang nggak tau dari jam berapa udah ngejogrog dimari.
"Siapa bilang aku nggak ketuk pintu? udah ketuk udah pencet bel. Tapi yang punya nih rumah nggak buka-bukain. Takyt kamu pingsan di dalem, ya udah aku buka pakai kode akses yang kemarin..." Ridho nggak mau disalahin.
"Oh ya, aku udah masak sop daging, kita sarapan bareng," lanjutnya.
"Heeeeeemmm, mandi dulu!" aku bangkit dan ngeloyor ke kamar.
Astaga, kalau iya kita jadi suami istri, ipa nggak kebalik, si Ridho yang bisa masak sedangkan aku goreng telor aja gagal. Aiihhh, lagian kalau dia emang mau serius sama aku, berrti dia udah tau konsekuensinya kalau aku itu nggak bisa masak, bisanya mesen makanan.
Aku pastiin kalau hari ini aku on point banget dari ujung kepala sampai ujung kaki. Selesai bersiap, aku keluar kamar dengan rambut yang bergelombang, seksoy.
"Duduk disini," Ridho geserin kursi.
"Thanks!" ucapku singkat.
"Gimana, enak nggak, Va?" tanya Ridho yang minta dikomentarin hasil karyanya. Matanya natap aku penuh harap, kayak ibu-ibu PKK yang lagi ikut lomba masak 17-an di kantor kecamatan.
"Belum juga dicobain,"
Aku mulai nyendokin nasi beserta sop daging yang nih orang bikin. Dari baunya sih menggoda iman ya.
"Gimana?" Ridho masih nubgguin komentarku.
Setelah dirasa-rasa dengan penuh pertimbangan akhirnya aku bisa bilang kalau...
"Ya seperti biasa, kalau kamu yang masak pasti nggak akan salah!" kataku.
"Iya dong kan aku masaknya dengan sepenuh hati..." ucap Ridho.
Pwiiihhh, nih orang sempet-sempetnya ngegombel pagi-pagi.
"Semalem ada gangguan?" tanya Ridho disela sarapan kita.
"Nggak begitu..."
"Syukurlah kalau gitu..." ucap Ridho.
Dan Ridho ngajak berangkat bareng, tapi aku nolak. Karena ada aku mau mampir ke syatu tempat.
"Beneran? kamu nggak mau bareng?" tanya Ridho lagi yang berdiri di samping mobilku.
__ADS_1
"Nggak usah, aku mu ketemu orang hari ini jadi nggak langsung ke kantor,"
"Ya udah, hati-hati..." Ridho pun mundur beberapa langkah buat ngasih mobilku akses buat jalan.
Aku cuma ngeliatin Ridho dari kaca spion, sosoknya lama kelamaan menghilang dari pandangan.
Setelah sekian puluh menit berkutat dengan kemacetan kota, akhirnya nyampe juga kantor Perkasa Group.
Lumayan pada pangling penampilanku saat ini, ya kan sekarang lebih high class dan mentereng beda waktu jaman jadi staff biasa. Alhamdulillah, sampai naik lift aku nggak ketemu tuh sama si Karla. Lagian dia masih kerja disini atau nggak juga aku nggak tau. Karena kita berdua udah the end jadi temen.
"Maaf, Tuan. Ada Nona Reva ingin bertemu..." ucap sekretaris pak Karan.
Adek sepupu yang lagi fokus sama dokumennya, mendongak.
"Reva...?" dia bangkit.
"Kamu boleh pergi," ucap pak Karan sama sekretarisnya.
"Kamu nggak bilang kalau mau kesini, Va?" tanya pak Karan dia nyuruh aku buat duduk di sofa.
"Jadi kalau kesini harus lapor dulu ya, Pak?" ucapku yang kembali manggil pak Karan dengan sebutan 'Bapak'.
"Aku senang kamu sudah tidak marah,"
"Aku nggak mau basa-basi. Tapi aku mau balikin, perusahaan yang Bapak kasih waktu itu..." ucapku sambil menyerahkan satu dokumen.
"Kamu kenapa, Reva? perusahaan ini milik kamu, dan aku tidak akan menerima ini," ucap pak Karan.
"Sejak awal perusahaan ini milik Bapak, jadi akan tetap milik--"
"Kamu, Reva!" serobot adek sepupu.
"Aku nggak mau berhutang budi," ucapku mendorong kembali dokumen yang sempet pak Karan arahin ke aku.
"Tidak ada hutang budi. Ini milik kanu, dan selamanya akan seperti itu..." kata pak Karan yang pindah tempat duduk satu sofa sama aku. Dia pegang kedua bahuku.
"Dengar, Reva. Aku pantang menerima kembali apa yang sudah aku berikan, dan aku harap kamu mengerti itu," ucap pak Karan.
Udah wataknya keras kepala dan susah buat digeser barang sedikit aja egonya.
"Terlepas dari apa yang kira bicarakan pagi ini, aku seneng akhirnya kamu kesini. Aku yakin kamu udah bisa mengerti dan paham kenapa aku melakukan itu semua..." ucap pak Karan.
"Aku mencoba ngerti, walaupun sebenernya aku sangat kecewa..." kataku.
__ADS_1
Balik lagi, aku nggak bisa kembali ke masa lalu. Yang udah terjadi ya udah, nggak bisa diubah. Nyatanya sekarang aku bisa ketemu Ridho lagi, ketemu setan juga dan semua kembali ke keadaan semula. Walaupun ada perbedaan sedikit, karena aku dan Ridho secara finansial udah jauh lebih baik.
"Tapi bukan berarti aku menerima ini semua, lalu aku mau nikah sama kamu..." aku blak-blakan.