Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jangan Masuk


__ADS_3

Sampai di kontrakan udah lebih dari jam 5 sore. Karena aku sempet mampir dulu beli yang seger-seger. Minuman dingin dan pempek palembang yang dari baunya aja udah bikin perut meronta-ronta.


Bukan apa-apa, aku yang emosi, jadi cepet lapernya. Sedangkan kalau nungguin Ridho ngajak nyari makan di luar yang ada aku keburu pingsan.


Di teras aku liat ada motornya Bara, "Si Mona kesempatan nih minta ditemenin ama si mas crush!"


Aku ngetok pintu sebelum ngucapin sal, biar setan-setan nggak pada ngikut aing masuk ke dalam rumah, "Assalamualaikum,"


"Mon, Mbak pulang!" ucapku agak kencengan.


"Waalaikumsalam," jawab Bara.


Tapi lagi-lagi bau yang nggak enak langsung menusuk hidung.


"Jangan masuk, Mbaaaak!" teriak Mona dari dalam.


"Astaga, ada apa lagi ini?" gumamku.


Baru juga mau ngecek ke dalem, Ridho datang dengan langkah yang terburu-buru.


"Kamu udah pulang, Va?" tanya Ridho.


Cup


Dia mengecup keningku sekilas, "Kamu tunggu di luar aja. Jangan masuk! aku temuin Mona dan Bara dulu," suruh Ridho.


Semakin dilarang semakin bikin aku penasaran, sebenernya apa yang sedang terjadi, kenapa Mona dan Ridho nggak ngebolehin aku masuk.


Tanpa sepengetahuan ayang aku taruh tas makanan yang aku beli di ruang tamu, lalu aku pun ikutan masuk ke dalam.


Dan emang beneran aku nggak kuat buat ngeliat semua itu. Ikan busuk dan cacing tanah berserakan di ruang tengah. Jendela semuanya di pecahin, keadaan rumah udah nggak karuan. Mona, dan Bara lagi mungutin ikan-ikan yang baunya bikin mual.


"Hoooweeek!" aku lari ke kamar mandi.


"Reva? kamu nggak apa-apa? aku kan udah bilang jangan masuk! kenapa masih ngeyel sih?" Ridho ngomel tapi tangannya sambil mijitin tengkukku .


Aku nggak bisa jawab, yang aku bisa cuma ngeluarin apa yang ada di dalam perut. Setelah mendingan aku dippah Ridho ke luar.


"Mon, Mas tinggal dulu, ya? mas mau anterin Reva ke rumah pak RT..." ucap Ridho.


"Ngapain kesana?"


"Kamu nggak bakalan kuat disini, baunya lebih menyengat dari yang sebelumnya. Mending kamu ngungsi dulu di rumah pak RT, disana ada bu RT yang pasti bisa jagain kamu buat sementara waktu," jelas Ridho.


"Tapi---"


"Please kali ini kamu bisa nggak nurut sama aku, Va? setelah kita bersihkan nanti aku jemput kamu lagi," kata Ridho yang nggak mau dibantah.

__ADS_1


Akhirnya aku dan Ridho ke rumah pak RT, sekalian kita melaporkan apa yang terjadi di rumah itu. Ridho menjelaskan secara detail, bagaimana teror itu dilakukan.


"Jadi begitu, Pak. Saya titip Reva dulu disini sembari saya mau beresin rumah. Saya juga sudah melapor ke pemilik rumah, besok jendela-jendela yang pecah akan saya ganti dengan yang baru..." kata Ridho.


"Ya sudah, nak Reva biar disini dulu..." ucap pak RT.


"Buuuu, kemari sebentar, Bu!" Seru pak RT.


"Sebentar, Pak!" sahut bu RT.


Wanita paruh baya itu mendekati suaminya, "Ada apa, Pak?


"Bu, tolong panggilkan Johan!" kata pak RT meminta istrinya untuk memanggil anaknya y ang bernama Johan.


"Bilang, kalau kita bakal ke rumah kontrakannya nak Ridho. Buat bantuin beres-beres disana," ucap pak RT.


"Sebentar, ibu panggilkan..." kata bu RT yang masuk ke dalam.


"Terima kasih, Pak untuk bantuannya!" ucap pak Ridho.


Ridho, pak RT beserta anaknya pergi ke rumah kontrakan yang belum ada satu bulan kami sewa. Aku ditinggal disini, beruntung bu RT baik banget. Dia bikinin aku teh panas, mungkin karena ngeliat muka aing udah pucet kayak begini.


Dan buatku hal yang paling membosankan adalah menunggu. Walaupun aku ditemenin sama bu RT, nyatanya pikiranku nggak terlepas dari keadaan rumah yang bener-bener amburadul.


"Kalian harus lebih waspada," ucap bu RT yang menangkap segelintir kegelisahan di raut wajahku.


"Setahu saya ini yang pertama kalinya. Karena memang rumah itu kan bangunan baru, Nak. Sebenarnya rumah itu ditinggali anak perempuannya pak Syarif pemilik rumah yang kalian sewa. Anak perempuannya kalau nggak salah namanya Gadis. Dia meninggal beberapa bulan yang lalu..." ucap bu RT.


"Tapi mungkin daripada jadi rumah kosong, akhirnya pak Syarif memutuskan untuk menyewakannya. Dan sewaktu nak Ridho kemari untuk yang pertama kalinya, dia bertanya apakah ada rumah kontrakan di sekitar sini, suami saya langsung menunjukkan rumah itu..." jelas bu RT.


"Jadi hantu itu anak dari pemilik rumah," lirihku.


"Kenapa nak Revaa?" tanya bu RT yang sepertinya samar-samar mendengar gumamanku yang nggak jelas.


"Ah, nggak apa-apa, Bu..." aku tersenyum simpul.


"Nak Reva, ibu tinggal sebentar ke warung ya. Mau beli telur..." kata bu RT.


"Oh, iya, Bu..."


"Nak Reva duduk saja sambil diminum tehnya, mumpung masih panas..." kata bu RT.


Selepas bu RTbyang pergi ke warung kelontong langganannya, aku duduk dengan seribu tanya di benakku.


"Kenapa pak Karan dengan tega melakukan ini? dia sengaja memberi fasilitas, tapi dia juga yang bikin aku takut dan nggak betah tinggal di rumah itu. Pantas saja, Gadis sepertinya kurang nyaman dengan kehadiran pak Karan malam itu..." aku menganalisa lagi.


Otakku bener-bener puyeng dengan kejadian kayak gini bikin hidup aku sama sekali nggak tenang.

__ADS_1


Setelah adzan maghrib, barulah Ridho datang buat menjemput aku.


"Gimana? masih mual nggak?" tanya Ridho.


Aku menggeleng, "Nggak..."


"Bu RT, Pak RT ... terima kasih sudah mengijinkan Reva untuk menunggu disini..." kata Ridho sopan.


"Tidak masalah, Nak. Itu sudah tugas saya sebagai RT untuk membantu warga..." ucap pak RT.


"Kalian berhati-hatilah..." lanjut pak RT.


"Kami permisi..."


Dan aku berjalan meninggalkan rumah pak RT dengan Ridho.


"Harusnya aku bisa bantu..."


"Kalau kamu disitu yang ada kamu yang pingsan karena bolak-balik mual-mual terus," ucap kangmas.


"Yang ada ngrepotin ya?" tanyaku sadar diri.


"Nah itu tau!" ucap Ridho yang berjalan beriringan sama wanita cantik titisan dari langit.


"Kok pulangnya sore banget?" tanya Ridho.


Aku bingung harus jawab apa, "Emh, sebenernya ada yang mau aku ceritain, Dho..."


"Cerita wayang apa cerita hantu?"


Aku geplak lengan calon suami, " Cerita beneran!"


Kita udah sampai teras kosan


"Ya cerita apaan?"


"Sebenernya--" ucapanku terpotong dengan suara Bara.


"Maaaaasss! Mas Ridhoooo! Mona pingsan!" ucap Bara panik.


"Mona? pingsan? yang bener kamu?" Ridho pun nggak kalah panik.


"Ngapain juga aku bohong?" ucap Bara.


Ridho masuk ke dalam rumah mencari dimana keberadaan adiknya.


"Mon, Monaaaa!" seru Ridho.

__ADS_1


"Dia ada di kamarnya!" ucap Bara sambil menunjukkan Mona yang tergeletak di atas ranjang.


__ADS_2