Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Sedekat Ini


__ADS_3

"Bapak udah gila apa gimana? masa saya ganti baju di mobil ini? sshhhhh..." aku menyilangkan kedua tanganku menutupi baju dongker yang basah, yang aku pakai saat ini.


"Bibir kamu sudah pucat seperti itu, atau kamu mau ganti di semak-semak sana? kamu tidak lihat? di luar hujan lebat, lagipula kaca mobil ini gelap dan tidak tembus pandang tidak ada orang yang akan melihat. Cepatlah pindah ke belakang," pak Karan kini mengusap rambutnya yang basah.


"Ssshhh, diluar memang tidak ada orang, tapi di dalam ada Bapak!" ucapku yang semakin kedinginan dengan gigi yang saling beradu satu sama lain.


"Aiiishhh! kamu ini keras kepala juga ternyata,"


"Saya bukan keras kepala, tapi saya waspada. Karena bagaimanapun kita berbeda jenis Bapak Karan Perkasa yang terhormat," kata Reva.


"Astaga! kamu berganti di belakang kursiku ini, aku tidak akan mengintip. Lagi pula seleraku sangat tinggi, aku tidak tertarik denganmu!" kata pak Karan sangat makjeb to the bone ya.


Aku masih keukeuh nggak mau ganti, gila aja ya bun!


Akikah anak baik-baik, nggak akan ganti baju sembarangan. Kita nggak pernah tau karena setan bisa aja lewat dimanapun dan kapanpun


"Dibelakang ada jasku, kamu bisa pakai untuk menutupi badanmu saat berganti baju," ucap pak Karan yang memeluk dirinya sendiri.


Aku melongok ke belakang, ada jas warna cokelat tua yang ada di jok beserta sebuah dasi.


"O-okey, ssshhhh ... t-tapi, s-saya t-tutup mata Bapak se-selama s-saya ganti baju, sshhh," ucapku yang sudah sangat menggigil.


"Aiish, aneh-aneh saja permintaanmu, Reva! belum pernah ada orang yang berani menyuruh saya selain kamu!." kata pak Karan emosi.


"Ya s-sudah Pak. Kalau t-tidak mau,"


"Ya sudah ya sudah! lakukan saja apa maumu, daripada kamu demam dan itu akan lebih merepotkan, apalagi di situasi seperti sekarang ini! kata pak Karan yang kesabarannya sudah di ubun-ubun.


Aku pun mencoba membuka pintu mobil tapi tanganku ditahan pak bos.


"Jangan lewat pintu, lompat saja dari sini," ucap bos menunjuk sela antara kursi kemudi dan kursi yang aku duduki.


"Kalau badan saya nyangkut gimana, Pak?"


"Tidak akan. Cepat pindah ke belakang!" suruh pak bos nggak mau dibantah.


Akhirnya aku melompat ke belakang dimana tas jinjingku berada. Aku mengambil dasi polos berwarna hitam lalu menutup mata pak bos dengan dasi itu,


"Permisi ya, Pak!"

__ADS_1


"Ishhh, jangan terlalu kencang!" protes pak bos sat aku bggak sengaja terlalu kencang mengikat matanya.


"Eh ... Maaf, Pak..." aku sedikit melonggarkan ikatan itu.


Setelah mata pak bos tertutup dengan sempurnaaahhh, aku langsung membuka tas, dan memilih baju yang bisa aku pakai dengan cepat. Dan pilihanku tertuju ada dress berwarna plum. Karena aku pasti akan kesulitan kalau memakai jeans dengan posisi berjongkok di belakang kursi kemudi kayak gini.


Aku menutupi badanku dengan jasnya pak bos, dan aku segera membuka kancing baju ku. Dinginnya ac langsung menyentuh kulitku dan membuatku semakin menggigil.


"Sudah belum?" seru pak bos.


"Belum,"


"Lama sekali gerakanmu, Reva!" seru pak Karan.


kan kan merong-merong bae si bos kayak kucing mau kawin aja.


Setelah baju berhasil aku buka, aku pun mengganti yang basah dengan yang kering. Sekarang aku sudah memasukkan baju ku yang basah ke kantong plastik yang selalu aku sediakan di dalam tas jinjing. Kemudian aku merapikannya semua kembali.


Aku membuka ikatan mata pak bos dari belakang kursinya.


"Astaga berganti baju saja kamu lama sekali!" pak bos nyap-nyap lagi


"Namanya juga perempuan, Pak. Ada aset yang perlu dilindungi,"


"Lah saya ngambilnya gimana, Pak?"


"Ya lompatlah! seperti yang kamu lakukan tadi," kata pak bos enteng.


"Tapi kan tadi saya pakai jeans, ini saya pakai dress, Pak!" jawabku gregetan.


"Terserah kamu mau pakai cara apa yang jelas ambilkan saya kemeja, saya tidak bisa fokus menyetir kalau kedinginan begini,"


Pak bos vibes-nya emang nyuruh-nyuruh bae suwer. Masih untung tadi kepikiran pakai short ketat, jadi nggak apa-apa lah melompat dari kursi belakang, walaupun kesannya kayak perempuan bar-bar banget.


Aku buka koper kecil berwarna hitam, dan mengambil satu kemeja casual berwarna gelap. Karena semua baju dia kayaknya warnanya kelam-kelam dan suram seperti kisah cinta Reva yang belum menemukan jodohnya. Lah kok sayah curcol, yak?


"Sudah ketemu atau belum? cepatlah! kita harus pergi dari tempat ini dan mencari penginapan,"


"Sabar atuh, Pak! ini saya mau meluncur lagi kesitu, Bapak madep ke depan aja udah," kataku yang mulai menjulurkan kaki ku terlebih dulu, melewati kursi penumpang sambil membawa jeans dan kemeja.

__ADS_1


Dengan hati-hati aku kembali ke tempatku semula, kuramsi di samping pak Karan.


"Ini, Pak!" aku memberikan satu stel baju.


Tanpa merasa malu dia membuka satu persatu kancingnya, dan membuka kemeja nya yang basah. Dan demi apa aja itu perut banyak banget kotak-kotaknya, dan aku itungin ada 6 kotak, uwow emejing ulala.


Dia mengambil kemeja yang ada di tanganku sedangkan aku melongo melihat pahatan yang begitu sempurna dan paripurna di badan pak bos.


"Astaga, mataku yang suci ini ternodaaaaa!" batinku merontah pemirrsaaah.


Aku mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain sementara pak bos tersenyum penuh arti. Dia pasti ge er banget ada ciwi yang ngiler liat badan dese yang kaya sawah siap dicangkul.


"Apalagi" tanya pak bos padaku.


"Ini,"


"Kamu berharap saya ganti celana disini?" tanya pak bos dan aku langsung madep dia sambil kedip-kedip 5 kali.


"B-bukan, aih b-bukan seperti itu,"


"Kamu yang ribut takut diintip malah kamu sendiri yang berniat mengintip!" tuduh pak bos.


"Dih, Bapak! dengerin saya dulu," kataku sambil membekap mulutnya yang daritadi menuduhku tanpa dosa.


Matanya dan mataku berkedip, tanpa aku sadari jarak kamu begitu dekat, "Matanya indah, tajam seperti Rid ... ih, kok aku malah inget si kamfret!" bayangan si kamfret Ridho merusak moment indahku bersama makhluk tuhan yang galaknya ngalahin aing maung itu.


Aku yang menyadari kalau tanganku yang suci dan lembut ini menutup mulut pedas pak bos pun segera menyingkir, tapi tangan si bos menahanku agar tetap di posisi yang saling menguntungkan.


Okey, dengan alis tebal hidung mancung dan rahang yang tegas, membuat pak Karan terlihat sangat menarik di usianya yang sudah menginjak kepala 3. Pandangan matanya dan mataku kini bertemu dalam satu garis lurus. Satu tangannya kini terselip diantara rambutku yang masih basah. Dia mendekatkan wajahnya.


Dan


Sesaat aku teringat wajah seseorang!


Sontak aku mendorong dada bidangnya, "Maaf, Pak..."


Dan dia melepaskan tangannya di punggungku secara tiba-tiba.


"Kita pergi sekarang, pakai sabuk pengamannya..." ucap pak Karan sebelum menurunkan rem tangan dan memacu kendaraan menembus hujan.

__ADS_1


"Aaaihh, kenapa wajah si kamfret itu selalu muncul dipikiranku!" aku mengumpat Ridho dalam hati.


...----------------...


__ADS_2