Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ketiduran


__ADS_3

Dan akhirnya kita sampai di depan rumah biyungnya Karla tepat pukul 2 dini hari. Setelah membayar ongkos ojek, kita berdua berjalan ke arah pintu utama rumah ini.


"Sepi, Dho..." aku memeluk diriku sendiri.


"Kalau rame malah aneh, emangnya biyungnya Karla ngadain midnight party?"


"Yeeeuhhh! kalau ngomong!" sebelum aku cubit pinggangnya, Ridho udah ngehindar duluan.


Kita berdua saling menatap. Ridho yang tadi mau ngetuk pintu mendadak mengurungkan niatnya.


"Kayaknya nggak sopan ya ngebangunin oeang tengah malam kayak gini," kata Ridho.


"Iya juga. Yang ada kita pasti ganggu banget..."


"Duduk dulu disitu, Va..." ucap Ridho menunjuk kursi yang ada di teras.


Aku dan Ridho naruh tas yang udah bikin punggung kita lumayan pegel. Suara jangkrik dan serangga malam lainnya saling sahut bersahutan. Beruntung nggak ada lolongan anjing, bisa tambah horor suasananya.


Walaupun aku udah pernah nginep disini, tapi tetep aja kalau disuruh ngejogrog tengah malam di ruang terbuka katak gini ya atut juga ya. Meskipun ada ayang Ridho.


"Kalau ada yang lewat cuekin aja..." ucap Ridho tiba-tiba.


"Nggak usah ngomong yang aneh-aneh deh!"


"Aku tuh ngomong gini biar kamu nggak kaget. Daripada ntar kamu treakan dan malah bikin geger orang sekampung kan mending aku kasih tau duluan," ucap kangmas tanpa dosa.


"Sampai kapan kita duduk disini?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan, biar yang dibahas jangan masalah demit mulu.


"Ya sampai pagi, minimal subuh lah..." ucap Ridho.


Kalau subuh berarti masih ada waktu 2 sampai 3 jam lagi kita harus stay disini. Mana hawanya dingin mencekam.


Sekelebat aku melihat sosok lain yang berada diantara pepohonan. Cuma aing nggak mau fokus kesana.


Mending aku peluk lengan Ridho terus nyender di bahunya. Bodo amat lah iru setan mau nongol disitu sampai kapan, yang jelas mata aing merem, nggak mau ngeliat.


"Ngeliat sesuatu?" tanya Ridho.


"Nggak usah dibahas deh, Dho! ntar dia ngerasa terus semakin deket," kataku.


Puk!

__ADS_1


Puk!


Ridho nepuk pelan kepalaku yang nemplok di bahu kekarnya.


"Kan mau nolongin orang. Jadi nggak boleh cemen kayak gitu," kata Ridho.


Tapi aku males nanggepin, aku ngantuk banget. Selama di dalam bus, aku kan belum meremin mata sama sekali. Lagian udah jam segini, waktunya orang tidur. Meskipun udaranya dingin ditambah nyamuk yang nggak tau diri ngegigitin aing daritadi. Tapi rasa kantuk ini susah sekali buat aku lawan.


Kriiiiiieeettttt!


Samar-samar aku ngedenger suara pintu dibuka.


"Hmmmmph," perlahan kesadaranku mulai terkumpul.


"Nak Ridho, Nak Revaa? kalian...?" suara bu Wati.


"Eh, Ibu..." aku agak kikuk. Aku tegakin badan dan mulai ngebangunin Ridho yang masih molor.


"Dhoooo! Ridhoooo, bangun!" aku goyangin badannya.


"Kenapa, Va?" suara Ridho yang serak-serak becek menyapa gendang telingaku di pagi ini.


"Astaghfirllah, maaf Bu kita malah ketiduran disini," ucap Ridho yang antara kaget, malu dan nggak enak karena tau-tau kepergok tidur sambil duduk di depan teras sang pemilik rumah.


"Ya ampun, kalian sengaja datang kemari? kenapa tidak mengabari? ayo-ayo masuk, kita bicara di dalam..." ucap bu Wati.


Aku dan Ridho pun menurut saja, kami ikur masyk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Matahari masih belum nongol, di luar masih gelap.


"Maaf, Bu. Kita mau numpang sholat dulu, sudah jam 5 pagi takut nggak keburu subuhannya!" ucap Ridho.


"Oh iya, silakan silakan..." kata bu Wari yang berjalan mendahului kita berdua.


Ngemeng-ngemeng kata sholat, kan aing nggak bawa peralatannya. Nggak kepikiran juga harus bawa begituan.


"Kalian sholat dulu saja, Ibu ke dapur dulu..."


"Ehm, bu Wati tunggu!" aku mencekal tangan biyungnya si karet nasi.


"Iya ada apa Nak, Reva?"


"Saya pinjam mukenanya, Bu. Kebetulan saya lupa bawa..." kataku.

__ADS_1


"Di dalam mushola ada mukena warna hijau, pakai saja. Itu kebetulan baru saja ibu cuci kemarin..." kata bu Wati.


"Emmh, terima kasih, Bu..."


Singkat cerita, berjamaahlah aku dengan calon suami di mushola kecil yang ada di rumah bu Wati. Denger Ridho baca alfatihah aja bisa adem gini apalagi baca ijab qobul, eh.


Ini salah satu yang bikin akikah mentok hatinya ke Ridho. Selain agamanya yang lebih bagus dari aku, Ridho bukan tipe laki-laki yang suka curi-curi kesempatan dalam kesempitan. Dua rakaat sudah selesai dilakukan, kita berdua kembali ke ruang tamu.


Selang beberapa menit, datanglah Bu Wati dengan nampan yang berisi dua cangkir teh panas dengan mendoan ada juga getuk goreng.


"Silakan Nak Ridho, Nak Revaaa..." bu Wati menaruh satu persatu cangkir di hadapan kami. Dan seketika aroma teh melati langsung tercium.


"Jadi ngerepotin, Bu..." ucap Ridho.


"Ngerepotin apa Nak Ridho ini! ayo ayo diminum, biar perut kalian hangat. Pasri dingin sekali tidur di luar..." kata bu Wati.


Kami menyesap teh panas itu sedikit demi sedikit. Rasanya lambung langsung anget banget. Ridho tanpa rasa malu langsung nylmot mendoan yang masih panas juga. Bu Wati hanya memandangi kami dengan senyuman khas nya.


Setelah perut sudah terisi, barulah Ridho mulai berbicara tentang tujuan kami datang kemari. Ridho nyuruh aku cerita tentang mbak Sena. Dan ya, aku mulai menceritakan srmua hal yang aku ketahui tentang mbak Sena, mulai dari ketemu saat aku ketemu dia di hutan terlarang dan melihatnya berenang di sekitar air terjun. Aku juga cerita disaat aku dan yang lain akan meninggalkan alam gaib, Mbak Sena sempet ngejar aku pengen ikut.


Bu wati mendengarkan dengan seksama, ketika asafi persatu kejadian aneh yang aku alami setelah aku oulang dari hutan terlarang, sampai akhirnya aku tau kalau mbak Sena itu hilang di hutan sudah lebih dari 2 bulan.


"Kira-kira begitu ceritanya, Bu..." ucapku.


"Huufh," bu Wati menghela nafasnya, agak berat buat ngomong.


"Begini, Nak Reva. Untuk masalah itu, ibu tidak bisa membantu banyak..." kata bu Wati.


Aku pun tertunduk lesu. Aku ngerasa bersalah, karena kemungkinan besar aku nggak bisa bantu buat ngembaliin mbak Sena yang lagi diumpetin makhluk goib.


Ridho ngusap punggungku, dan kini dia menggenggam tanganku seolah memberikan semangat.


"Pasti ada jalan," lirih Ridho, aku tersenyum walaupun agak maksa.


"Ibu memang tidak mempunyai kekuatan untuk mengantar kamu ke alam lain, tapi ibu akan coba bantu dengan meminta nenek Karla untuk melakukan itu. Semoga nenek mau membantu kamu," kata bu Wati.


"Terima kasih, Bu..." ucapku.


"Baiklah, sekarang kalian istirahat saja dulu, nanti kira bersama-sama ke rumahnya neneknya Karla..." ucap bu Wati.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2