Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ramuan


__ADS_3

"Semua atas izin Allah, Nak Reva. Semoga saja, luka Nak Reva cepat menutup dan tidak berbekas..." kata bu Wati.


Hampir aja jantungku lari marathon, karena takut bu Wati bilang kalau luka di wajahku ini nggak bisa sembuh. Amit-amit lah, ya!


"Jangan terlalu dipikirkan. Berdoa saja supaya penyembuhannya cepat dan wajah Nak Reva bisa kembali seperti semula..." ucap bu Wati.


Sekarang biyungnya Karla itu sedikit mengangkat lengan kaosku. Dia mengolesnya dengan semacam minyak yang dia basahi di jari tangannya.


"Nak Ridho, tolong ambilkan cangkir berisi ramuan yang ada di meja makan, dan juga satu pisin yang berisi tumbukan daun di dekat cangkir..." suruh bu Wati pada Ridho.


"Baik, Bu..." jawab Ridho yang sekarang berdiri dan berjalan ke arah dapur.


Dan nggak nunggu lama, Ridho nongol lagi dengan kedua tangannya penuh dengan barang yang diminta bu Wati tadi.


"Rasanya akan sangat sakit, tapi ditahan saja...." kata bu Wati.


"Ridho kamu duduk di samping Nak Reva, pegang tangannya supaya nanti dia tidak banyak bergerak saat ibu menempelkan ini..." tunjuk bu wati pada satu pisin yang berisi tumbukan daun berwarna gelap.


Maap ya maap, ini bu Wati nggak berniat bikin aing koit kan ya. Jangan-jangan dese lagi ngedukung anaknya buat ngedapetin Ridho dengan cara tidak halal lan thoyibah.


"Emh, s-saya rasa s-saya nanti periksa saja ke dokter khusus kecantikan Bu kalau sudah sampai di rumah..." ucapku sedikit terbata.


"Nanti malah semakin parah kalau ditunda, Nak Reva tahan sedikit rasa perihnya..." kata bu Wati.


"Bener, Va! daripada tambah parah kan mending diobatin dulu, nanti kalau mau permak lagi ya nggak apa-apa, yang penting luka kamu biar nutup dan kering dulu..." kata Ridho yang udah megangin tanganku.


"Permak permak, dikira muka ku ini jeans belel punya kamu! sembarangan!"


"Udah, nurut aja!" perintah Ridho, dia malah sekarang duduk di belakangku sambil tanganku dia pegang, aku sampai nggak bisa gerak.


"Udah saya pegang, Bu! langsung eksekusi aja!" seru Ridho.


"J-jangan, Bu...!" aku memekik, tapi badan udah nggak bisa gerak, ditaha. sama Ridho.


Dan dengan secepat kilat bu Wati sudah menempelkan tumbukan daun itu ke muka ku. Ridho sengaja banget bikin aku agak nyender sama dia biar bu Wati dengan gampang naro tuh ramuan dari jaman nenek buyutnya bisa menempel sempurna di pipiku.


"Aaaaaaaawwhhh! periiiiih, periiiiihhhhh!" aku mulai meronta.

__ADS_1


Rasanya mirip kayak luka ditaburin garem atau jeruk nipis.


"Perrriiiiiiihhh!" aku ngejerit.


"Udah tahan dulu napa, Va! jangan gaduh, nanti nenek Karla marah, kamu mau dikutuk jadi tutup panci?" Ridho sempet-sempetnya nakutin. Dasar calon pacar nggak ada akhlak.


"Sabar, Nak! memang sakit dan perih tapi paling hanya 10-15 menit," kata bu Wati.


Ini bu Wati pasti sekongkolan sama si Karla buat ngerjain aku nih. Dan aku yang jejeritan kayak orang kesurupan ini bikin pak bos keluar kandang dan begitu juga dengan Karla.


"Diem, Va! jangan gerak-gerak mulu," kata Ridho yang masih mengunci segala pergerakanku.


"Reva kenapa, Dho?" tanya pak Karan.


"Lagi diobatin, Pak!" jawab Ridho nggantung.


"Otaknya atau apanya?" tanya pak bos.


"Ini mukanya, Pak! kalau otaknya mah, udah somplak dari lahir, Pak! nggak akan bisa dibenerin. Makanya Bapak jangan deket-deket sama Reva, nanti ketularan somplaknya..." sahut Ridho ngasal bin ngawur bikin aing emosi jiwa dan raga.


"Yeeee, itu mah maunya kamu, Va! udah deh diem jangan gerak-gerak mulu, perih dikit juga!" kata Ridho.


Sedangkan Karla liat aku dengan tatapan sinis, apalagi posisiku dan Ridho mirip jake sama rose yang di film kapal nyungsep.


"Ngapain sih Biyung ngobatin orang yang nggak mau diobatin?" tanya Karla sama biyungnya.


"Hush, jangan ngomong seperti itu, bagaimanapun Reva kan teman kamu..." kata bu Wati yang kini menempelkan tumbukan daun dilenganku dan mengikatnya dengan kain kasa.


"Astaghfirllaaaaaaahhh!" aku ngejerit saat rasa perih datang dibagian lain di tubuhku. Pak bos yang ngeliat aku disiksa kayak gini cuma berdiri sambil ngelipet tangan di dada. Sesekali ngelirik tapi sikapnya itu loh kayak orang yang sabodo amat gitu.


"Jangan teriak malem-malem, nanti tetangga pada dateng!" Karla memperingati aku sebelum dia kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Astaga punya mantan temen kok nyebelin banget!" gumamku dalam hati.


"Maafkan Karla ya Nak Reva, biasanya anak itu tidak seperti itu perangainya. Mungkin dia sedang lelah..." kata bu Wati, aku cuma ngangguk kecil.


Gila, rasanya nggak karuan banget astaga. Siapapun tolong aing dari penyiksaan ini.

__ADS_1


"Paling rasa sakitnya hanya tinggal beberapa menit lagi. Nak Ridho setelah sakitnya reda, tolong bantu Nak Reva minum ramuan ini. Ibu akan melihat nenek Karla di kamarnya," kata bu Wati.


"Baik, Bu..." sahut Ridho.


Bersamaan dengan perginya bu Wati, pak bos pun ikutan meninggalkan aku yang masih jadi tahanan Ridho. Bener-bener pak bos udah jadi manusia kutub lagi.


Dan beneran aja, rasa perih dan sakitnya kini sudah berangsur-angsur hilang. Aku yang semula berontak terus, sekarang udah mulai tenang.


"Udah mendingan?" tanya Ridho, dia mengelap keringat yang ada di jidatku.


Aku ngangguk aja, karena aku lumayan lemes. Ridho mulai bergeser, dia meminta aku buat duduk sendiri.


"Minum, Va..." Ridho nyodorin aku ramuan yang berwarna cokelat.


"Apaan itu?" tanyaku lemas.


"Ramuan dari bu Wati, biar kamu cepet sembuh..." jawab Ridho.


"Cepet sembuh atau cepet mati?" tanyaku asal.


"Hush, ngawur! jangan ngomong sembarangan, diaminin malaikat bisa berabe!" kata Ridho.


"Aku nggak mau, ah. Kamu aja yang minum!" aku menggelang dan menutup mulutku dengan telapak tangan.


"Kamu yang sakit masa aku yang minum? jangan aneh-aneh, deh..." Ridho tetep nyodorin cangkir itu ke mulutku.


"Nggak mau, Dho. Rasanya pasti nggak enak!" aku bersikeras nggak mau minum tuh ramuan.


Lah iya kalau aing sembuh lah kalau aing kejang-kejang gimana? Kan baru juga selamat dari marabahaya dan malapetaka, masa iya endingnya karena minum ramuan yang aku nggak tau kalau utu emang obat atau racun. Bukannya suudzon, cuma aku waspada aja. Beneran, aing belum tobatan nasuha belum siap menghadap ilahi.


"Gini aja deh, aku dulu minum setengah, baru kamu minum sisanya. Kalau ramuan ini ada apa-apanya, pasti aku duluan yang kena..." kata Ridho, aku nggak percaya Ridho bakal ngelakuin itu cuma buat ngeyakinin aku kalau ramuan itu nggak berbahaya.


"Nih, sekarang aku minum!" Ridho mulai meneguk minuman itu.


Dan beberapa saat kemudian...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2