
Dan tiba-tiba bumi diguyur air dari langit. Awalnya gerimis, lama-lama menjadi lebat disertai angin. Dan si hantu bocil masih ngumpet disana.
"Masuk, Va!" suruh Ridho.
Tanpa pikir panjang aku berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Ridho yang sekarang nutup dan ngunci pintu.
Aku yang hampir meraih handle pintu kamar Karla mendadak gagal, karena Ridho narik aku masuk ke kamar tamu yang dia tempati. Ridho langsung nutup pintu.
"Tadi kamu ngomong apa aja sama Biyung?" Ridho memelankan suaranya.
"Ck, bukan urusan kamu!"
"Sssst, ngomongnya nggak usah kenceng-kenceng bisa, nggak?"
"Apaan, sih! awas aku mau tidur," aku tepis tangan Ridho yang kini mepetin badanku di tembok. Mata kita saling menghujam satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat.
"Apa aja yang udah kamu ceritain?" Ridho nanya lagi.
"Nggak ada," jawabku ketus.
"Aku ajak kamu kesini supaya mencari jawaban dari semua teror makhluk halus yang udah kita alami, terutama kamu Va..." kata Ridho.
"Oh, ya?" aku naikin satu sudut bibirku yang seksoy ini.
"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Ridho.
"Nggak, karena mulai saat ini aku hanya percaya sama diriku sendiri, karena orang bisa aja berubah bahkan berkhianat..." kata ku menohok.
"Kamu kenapa jadi berubah kayak gini sih? apa karena kamu sekarang lagi pegang cincin batu merah itu?" Ridho memegang lenganku, semakin merapatkan badannya.
"Udah deh, nggak usah ngelantur! sekarang biarin aku pergi, karena aku udah ngantuk!" Aku mendorong Ridho, tapi dia masih mengunci pergerakanku.
"Udah, deh minggir!" aku ngeliat Ridho dengan tatapan nyalang. Dan akhirnya Ridho mau melepaskan aku, dan aku gunain kesempatan itu buat pergi dari kamar ini.
Namun sesaat ketika pintu akan aku buka Ridho ngomong gini, "Aku tuh peduli sama kamu, tapi kamu malah berubah dan nggak kayak biasanya,"
Aku cuma tertawa sinis, lalu membuka pintu dan menutupnya dari luar.
"Hhhuuuufhhh, kamu itu yang nggak kayak biasanya!" aku ngomong sambil nunjuk ke pintu kamar Ridho.
Besok paginya, kita lagi mainan di balongan ikan mas. Ridho lagi nyemplung sambil bawa serokan ikan, sedangkan si Karla lagi di pinggir balong, dia heboh sendiri liatin Ridho yang udah basah setengah badan.
"Yang bener dong nangkepnya, Dho!" teriak Karla. Aku sih diem bae, males juga sama dua orang ini.
"Ngomong mah gampang, La! kalau jago, coba sini turun!" kata Ridho nantangin si karet nasi. Dan sesuai apa yang ada dipikiran aku, si karet nasi warteg yang kalau ngasih blush on di pipi udah kayak orang kena adzab itu pun akhirnya menyusul sang kakanda nyebur di balongan.
Ini balongan punya biyungnya si Karla, dan kasih makannya pakai pakan ikan, jadi tolong pikiran-pikiran kotor itu kalian singkirkan, ya!
__ADS_1
Aku cuma duduk di atas batu, melihat kedua orang yang sepertinya sedang dimabuk cinta asmara dari kayangan itu sekarang lagi ciprat-cipratan air.
"Itu Karla otak taruh di dengkul apa gimana ya? beraninya dia pakai kaos pink nyebur ke balongan begitu! kacamata kuda dia ngejeplak kemana-mana, bikin gedeg aja!" suara hati aku jebol lagi gaes.
Akhirnya daripada ngeliatin dua pasangan edan itu, lebih baik aku pergi.
"Mau kemana, Va?" tanya Ridho.
"Kemana aja asal nggak ada kalian," ucapku lirih.
Jadi, jarak balongan ke rumah Karla itu lumayan deket. Aku seketika terpukau dengan aliran sungai kecil yang jernih banget airnya.
Aku berjalan mengikuti kemana air itu bersumber, karena aku yakin disana akan ada mata air yang pasti seger banget.
Dan ternyata aku berjalan lumayan jauh dan menanjak. Aku berhenti, karena aku ngerasa udah nggak kuat. Jadi nuatan mencari sumber mata air akhirnya gagal.
Aku berjongkok dan mencoba untuk duduk di bawah, lalu aku turunin kaki ke dalam sungai kecil itu, "Gilaaaakkk, dingiiin banget, kayak air es!"
Aku sampai bisa melihat kakiku sendiri yang kecemplung di dalam air, "Air sungai aja sejernih ini, ya?"
Setelah puas menikmati dinginnya air sungai, aku pun berniat pulang. Namun ternyata aku lupa jalan mana yang tadi aku lewati. Nah perasaan aku nggak nemu pohon-pohon gede kayak gini deh, apa jangan-jangan aku salah jalan?
"Nggak mungkin aku nyasar kan, Ya?" aku bingung kenapa aku malah berada di tempat yang sepi penduduk dan hanya ada pohon-pohon besar yang rindang.
Dan...
Plak
Plak
"Hihi, nyamuknya banyak banget lagi!"
Aku ngeluarin hape dalam saku jeans 3/4 ku, "Aiiih, Reva Reva ... bego dipelihara! kan aku tinggal telfon..."
Tapi ucapanku terhenti, aku lupa kalau aku harus mulai terbiasa nggak ngandelin si manusi kamfret lagi.
Lagian pas aku liat hape, sinyalnya tuh kayak hilang timbul gitu. Ya udin, terpaksa aku harus cari jalan pulang sendiri.
Dan kalau nggak salah aku mendengar suara mendesis dari arah belakang.
Ssssssshhhh....
Sssssssshhhhh...
Seketika aku menoleh, dan aku dikejutkan dengan munculnya ular yang nangkring di salah satu dahan pohon nggak jauh dari tempatku berdiri.
"Aaaaaaaaaaa!" aku menjerit histeris melihat binatang melata yang kini menjulurkan lidahnya padaku.
__ADS_1
Aku bergerak, berlari menjauh, "Ahhh ... hhh ... hhh..." nafasku sampe ngos-ngosan banget.
"Ulaaaarr, tolong jangan kejar akikah! darah akikah pait nggak bergizi, nggak enak! please jangan ngejarrrr akuuuuuuu!" aku jejeritan sambil ngibrit.
Setelah dirasa cukup aman, aku pun berhenti, membungkuk memegang kedua lututku, "Gilaaaa, bahayah bangeth inih tempath ... hhh ... ada ularh segalah!" aku mencoba mengatur nafasku, dan tegakin badan lagi.
"Nah itu ada rumah, syukurlah akhirnya ada rumah penduduk juga..." aku melihat ada 3 rumah berjejer, tapi hanya ada satu rumah yang sepertinya masih terawat.
"Coba aku nanya aja lah! kali aja dia bisa nunjukin jalan,"
Dan aku berjalan mendekat ke rumah itu dan coba ketuk pintu, "Assalamualaikum," nggak ada jawaban.
Sekali lagi...
"Assalamualaikum..." nggak ada jawaban juga.
Dan di depan rumah itu seperti ada sebuah tempat duduk panjang yang terbuat dari kayu. Aku main duduk aja, karena kaki udah terlalu pegel nggak sanggup buat berdiri.
"Aiih, aku jadi nyasar kayak begini! coba aja kalau dua orang itu bertingkah normal selayaknya manusia pada umumnya, nggak mungkin enek dan aku milih kelayaban sendiri," aku menyeka keringat yang ada pelipis. Masih untung cuacanya dingin, jadi rasa gerah ini bisa cepat teratasi.
Dan tiba-tiba saja.
Kriieeeeet...
Suara pintu dibuka.
"Hey! siapa, kamu?" suara nenek-nenek menyapa telingaku, aku yang tadi duduk pun sontak berdiri dan menoleh ke belakang.
"Maaf, saya tadi hanya numpang istirahat..." ucapku. Namun sesaat aku berteriak saat melihat penampilan nenek itu yang begitu menakutkan, "Aaaaaaaaaaaaaaa,"
Namun, sejurus kemudian dia memukulku dengan tongkat kayunya, "Dasar perempuan tidak beradab! beraninya kamu berteriak di depanku! membuat orangtua kaget saja! rasakan ini, hah!"
"Ampun, Nek! ampuuuuun!" aku mengaduh saat nenek tua itu memukulku tanpa ampun.
Bughh
Bughh
Bughh
"Dasar anak kurang ajar! tidak sopan berteriak di depan orang tua! dasar anak nakal!" nenek itu dengan rambut putih berantakan dan noda merah di bibirnya itu, terus saja memukulku dengan tongkat miliknya.
Dia seperti sedang mengulum sesuatu, karena aku melihat ada yang menjol seperti bola kecil di pipinya.
"Ampun, Neeeek! ampuuuun!" aku melindungi kepalaku dari pukulan si nenek tua.
...----------------...
__ADS_1