Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Cuekin Balik


__ADS_3

"Sorry ya, Va! kaki ku pegel kalau di belakang. Kamu nggak apa-apa, kan?" Karla nanya waktu aku baru masuk ke mobil.


"Vaaaa, kalau ditanya jawab kenapa, sih?" Ridho mbelain Karla.


"Iyaaa..." aku jawab males-malesan.


Dan mobil pun mulai bergerak meninggalkan pelataran kontrakan. Aku duduk mepet jendela, biar nggak engep aja. Pandangan luas seluas cakrawala gitu.


Hari ini aku baru tau kalau Ridho bisa nyetir mobil, dan sebenernya ini tuh mobil siapa aku pun belum sempat nanya. Ya gimana mau nanya? si karet sama si kamfret lagi haha hihi berdua di depan, sedangkan aku cuma jadi obat nyamuk di belakang.


"Pengen tak uwes-uwes iki si Karla. Harus banget gitu ngejogrog di depan? lagian, kenapa juga Ridho nggak bilang kalau dia juga ngajak Karla buat ikut kita hari ini? sebel banget nggak, sih?" suara hatiku udah jebol daritadi.


Daripada aku dengerin obrolan unfaedah mereka, aku lebih baik nyumpel kuping pakai headset, nonton tayangan ulang acara kompetisi model yang ada di entub.


"Sumveh, badannya bagus-bagus banget! aku harus rajin olahraga, sih! biar bisa punya badan bagus kayak mereka. Duh jadi pebgen ikutan make over rambut aku, deh! kasih poni lucu kali, ya?" aku lagi fokus nonton tiba-tiba ada telfon yang masuk.


"Halo, Maaa..." ternyata mama yang nelfon.


"Kamu udah bangun, Va? tumben..." tanya Mama.


"Iya, Mah! terpaksa..." aku jawab seadanya, aku denger si Ridho nyuruh Karla supaya ngecilin suaranya yang over power kayak speaker hajatan.


"Loh, kok terpaksa? Oh, ya mama nelfon cuma mau ngasih tau kalau pak Ilham ke sini, mau minta kamu jadi..."


"Istri kedua? nggak mau, Mah! udah tua bangka begitu umur juga udah 60 tahun, Reva nggak mau, Mah!" aku bisik-bisik.


"Ish, kamu tuh kalau mama ngomong jangan dipotong, dengerin dulu. Jadi, pak ilham tadi kesini nanya sama mama, kalau kamu udah punya pacar atau belum? soalnya dia mau minta kamu jadi mantunya,"


"Gimana-gimana? menantu?"


"Iya, buat jadi istrinya Malvin..."


"Malvin? yang badannya kotak-kotak itu?' suaraku aku kencengin, padahal mah aku ngerti juga nggak badannya si Malvin kayak apa.


"Kotak-kotak? balok kali kotak-kotak! emang kamu pernah liat mukanya?"


"Nggak!" aku jawab enteng, mama ketawa. Duh mood booster banget, tau.


"Malvin ... Malvin..." gumamku lirih.

__ADS_1


"Mama lihat sih ganteng, Va! tapi mama nggak akan maksa kalau kamu nggak suka. Oh, ya ... mama kasih nomor hape kamu tadi sama pak ilham, nanti kalian bisa kenalan dulu, kali aja cocok," kata mama.


"Aku sama pak ilham?"


"Bukan, Va! bukan sama pak Ilham tapi sama Malvin, hahahaha!" kata mama dengan nada gumush.


"Iya iya Malvin, hahaha..." aku ikutan ketawa.


Sedangkan yang di depan mendadak sunyi senyap. Mungkin si karet udah molor atau ngiler noh di kursinya soalnya aku liat kepalanya si karet udah megleng ke kiri.


Karena aku lumayan lama ngobrol ngalor ngidul sama mama. Aku juga nanya gimana kabarnya si Ravel, dia tambah badung atau nggak. Syukur kata mama si Ravel udah agak ngerem beli-beli barang online, itu juga karena abis ketipu kemarin katanya. Masih untung ketipu cuma 100 ribu. Hadeuh, nggak ngerti dah sama pikirannya mama, udah ditipu masih aja bilang untung. Untungnya dimana, coba?


"Ya udah ya, Va. Mama mau masukin baju ke mesin cuci..."


"Ya udah, Mama jaga kesehatan, ya?"


Dan klik...


Aku mengakhiri obrolanku dengan mama. Waktu aku mau nonton entub lagi, si Ridho tau-tau ngajakin ngomong.


"Yang nelfon siapa, Va?" dia nanya, tapi nggak aku tanggepin. Aku pura-pura budek aja.


"Bukannya tadi dia asik ngobrol sama si karet, kenapa nggak ada angin nggak ada ujan apalagi bledeg dia ngajakin aku ngobrol? situ sehat?" aku cuma bisa ngomong dalam hati.


"Va, nggak usah pura-pura nggak denger, deh!" Ridho sudah mulai sewot.


Mau dia ngamuk juga nggak bakal aku tanggepin. Aku orangnya paling tahan kalau buat perang dingin.


Oh ya, aku sama Karla temenan itu baru 2 mingguan. Kita deket juga karena duduk bersebelahan di bus waktu acara gathering kantor.


Aku nyetel lagu di playlist, dan meremin mata. Nggak tidur, cuma biar nggak diajak ngobrol sama Ridho. Udah gedeg duluan soalnya.


Dan aku sebenernya ngerasa ada sesuatu yang dingin di bagian kaki ku. Dan aku pikir ini ini karena Ridho kegedean nyetel ac mobil, ternyata bukan.


Aku buka mata dan aku melihat ada jari jemari yang memegang punggung kaki ku yang memakai sepatu teplek.


"Astaga!" aku langsung mengangkat kaki ke atas jok.


"Kenapa, Va?" tanya Ridho yang mungkin kaget dengan pergerakanku.

__ADS_1


"Nggak!" aku berusaha tenang saat aku nggak ngeliat tuh jari-jari yang sempat muncul dari celah bawah kursi Karla.


"Huuufh, anggap aja salah liat!" aku mencoba menenangkan diri, karena aku nggak mungkin kabur dari mobil ini terlebih kita lagi ngelewatin hutan pinus yang sepi banget.


Aku mengecek cincin yang ada di dalam tas, "Hangat!" aku merasakan temperatur cincin ini bisa berubah-ubah. Faktor apa yang mempengaruhinya sampai saat ini aku belum tau pasti.


"Noda hitam itu masih ada," ucapku dalam hati sembari mencoba mengusapnya lagi, ya barangkali aja bisa ngilangin tuh bintik-bintik hitam, tapi ternyata nggak bisa gaes.


Lagi sibuk sama cincin, si bos nelpong.


"Halo?" aku langsung angkat aja.


"Reva kamu bisa keluar?" tanya pak bos.


"Maksudnya?"


"Saya ada di depan kontrakan kamu, saya sudah capek klaksonin daritadi. Tolong kamu cepat keluar," ucap pak Karan.


"Maaf, Pak. Ini hari libur, dan saya lagi di luar. Nggak di kontrakan. Lagian kalau mau bertamu itu ketuk pintu, Pak bukan pencet klakson mobil," aku ngomong sementara mata Ridho keliatan ngelirikin dari kaca spion depan.


"Kepo banget!" secara nggak sadar aku keceplosan.


"Kamu tadi bilang apa?" pak bos nyolot.


"Tidak, Pak. Saya tidak bilang apa-apa, mungkin Bapak salah denger kali,"


"Sekarang kamu dimana? kita belum selesai membaca kain itu!"


"Duh, pak bos nanyain. Aku harus jawab apa? sedangkan aku juga nggak jelas ada dimana. Daerahnya aja aku nggak tau. Ogah banget kalau nanya si kamfret yang lagi nyetir itu," aku cuma bisa ngomong sendiri dalam hati.


"Reva? kamu dengar saya tidak?" pak bos nanyain lagi.


"Iya, Pak. Saya denger, kok..."


"Kalau dengar ya sekarang kamu beritahu saya dimana kamu sekarang!" pak bos tambah nggak sabar.


"Saya lagi ada di ... di enghh ... di hutan, Pak!" aku jawab ragu-ragu. Abisnya aku nggak ngerti ini daerah apa.


"Ngapain kamu di hutan? lagi ketemu sama nenek moyang kamu?" celetuk pak bos bikin aku kesel.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2