Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Syarat dari Ridho


__ADS_3

Percaya atau nggak semalaman aku tuh nggak bisa tidur, karena si kutu kupret masih enak-enakan mimpi indah di kamarku. Sedangkan aku yang repot harus ngungsi di kamar yang di pakai Ravel.


Untungnya si Ridho tipe laki-laki yang menerapkan prinsip bangun 'tidur ku terus mandi' tidak lupa gelar sajadah, aiih bukan cuma gelar ya tapi emang dia lajuin kok kewajibannya sebagai muslim yang taat.


Sedangkan adekku si Ravel kebalikannya, dia mah harus diguyur air got dulu baru mau mandi dan siap-siap buat sholat. Dan ternyata kendablegan si Ravel hari ini menjadi keuntungan buat aku ngeluarin Ridho dari sini.


"Gimana tidur kamu nyenyak?"


"Nggak bisa tidur!" jawabku ketus.


"Kalau aku nyenyak banget, Va. Apalagi kamarnya bau parfum kamu, aku jadi tambah nyenyak..." kata Ridho yang nengok dan masih duduk bersila baru selese ngerjain 2 rakaatnya.


"Saking nyenyaknya tidur ditemenin mbak kunti aja nggak keganggu!" aku nyeletuk.


"Kunti? semalem ada---?" ucapan Ridho segera aku serobot.


"Ada!"


"Kenapa nggak bangunin aku? kamu pasti ketakutan ya liat penampakan lagi," kata Ridho yang segera bangkit dengan sajadah yang ada di tangan kanannya.


"Dia keburu ngilang,"


"Oh berarti kamu nakutin, Va. Kunti aja sampai kabur, bagus dong! berarti ada peningkatan,"


"Maksudnya?" aku natap Ridho dengan sinis.


"Ehm, Kamu udah sholat?" tanya Ridho ngalihin pembicaraan.


"Belum,"


"Udah setengah 5, sholat dulu sana!"


"Aku sholat kalau kamu udah out dari sini. Dah sana kamu pulang sebelum Ravel bangun!" lanjutku.


"Sabar ya ampun Reva, aku baru juga duduk..." kata Ridho yang duduk sambil ngelipetin sajadah.


Aku rebut aja tuh sajadah yang dia pegang, "Ya ampun Ridho, kamu tuh semaleman udh tidur nyenyak. Cepetan, keburu Ravel bangun terus mergokin kamu disini. Nanti yang ada dia mikir yang macem-macem!" kataku gregetan.


"Masih subuh dingin di luar, Va..." Ridho banyak alesan.


Ya ampun kepalaku langsung nyut-nyutan ngadepin Ridho yang naik turunin alisnya kayak jungkat jungkit anak TK.


"Aku mau pulang, tapi dengan satu syarat!" katanya.


"Udah deh, Dho. Ngga usah rese!" kesabaranku mulai menipis.


"Ya udah, aku nggak mau pulang. Lagian kalau Ravel kesini nuin aku juga nggak masalah. Mau dinikahin besok juga aku siap kok!" jawab Ridho enteng.


"Astagaaaa, bener-bener nguras bak mandi ini Ridho. Ngurasss emoosiii sayaaahhh!" aku ngedumel dalam hati.

__ADS_1


Tuh manusia malah mau rebahan lagi, "Eeh, ngapain tiduran lagi? cepetan pulang!" aku tarik tangannya.


"Ya itu ada syaratnya, kalau nggak mau menuhin ya udah, aku mau tiduran lagi. Lumayan masih ngantuk..." kata Ridho.


"Ya ya ya udah deh, syaratnya apaan. Asal kamu cepet pergi dari sini, aku nggak mau tau!"


"Oke, siap!"


"Ya udah cepet apaan," aku mendesak Ridho. Karena makin lama dia disini makin gaswat.


"Malam ini kita makan malam berdua, tapi kamu yang masak..." kata Ridho.


"Nggak usah ngadi-ngadi deh," aku protes dengan permintaan dia.


"Ya udah kalau kamu nggak mau---"


"Ya udah iya, nanti malam kita makan malam. Sekarang kamu cepetan keluar," aku tarik Ridho dengan sekuat tenaga. Tapi yang ada aku yang ketarik sama dia dan nyungsep dengan posisi cicak-cicak di kebon eh di dinding. Nyungsruk di dada hidangnya si manusia ngeselin ini.


"Pokoknya, apapun bakal aku lakuin buat dapetin hati kamu lagi..." ucap Ridho yang tatapan matanya seakan menghipnotis aing.


Aih, jangan-jangan Ridho punya ilmu gendam nih. Kok bisa-bisanya aku diem aja tanpa adanya pemberontakan.


"Tunggu aja, kamu bakal tinggalin laki-lakinitu dan balik lagi ke aku. Aku jamin itu Reva!" ucapan Ridho seperti mantra yang bikin aku nggak berkutik.


Namun, sepersekian detik ketika pandangan kita terputus, aku segera sadar dan bangkit dari posisi yang absurd ini.


Ridho bangun dengan senyum menawannya, dia sangkutin jas yang kemarin ketinggalan di bahu kanannya.


Cup!


Tanpa permisi dia mencium jidat nong-nongku sebelum keluar dari kamar.


"Aiiihhh, menyebalkan!" aku menyentuh keningku dengan tangan. Melihatbpunggung ridho kian menjauh. Aku pun mengikutinya sampai akhirnya dia hilang di balik pintu utama yang tertutup.


"Akhirnyaaaa, pulang juga tuh orang!" aku merasa lega.


.


.


.


Pagi ini, Ravel bangun kesiangan. Sekarang kita sarapan di jam 9 pagi.


"Semalem kenapa mbak tidur di kamar yang aku tempatin?" tanya Ravel tiba-tiba


Wajahku yang ngabtuk, mendadak berubah jadi bingung.


"Eehm, nggak apa-apa. Pengen aja..." jawabku.

__ADS_1


"Paa mbak ngeliat setan? jangan-jangan yang kemaren benda jatuh itu perbuatan setan yang ada di kamar mbak?" Ravel mulai berasumsi yang nggak-nggak.


"Emang bener, tuh! ada setan yang bikin aku harus ngungsi dan berakhir nggak bisa tidur," ucapku dalam hati.


"Rencananya kamu kapan balik?" tanyaku sama Ravel.


"Dih, kok mbak ngusir aku sih?"


"Ya nggak ngusir, mbak cuma tanya. Soalnya mbak mau ada pertemuan hari ini," ucapku alesan.


"Rencananya sih jam 10 an, a Dilan mau jemput..." jawab Ravel.


"Berarti bentar lagi, dong?"


"Iya, kenapa mbak kayaknya seneng banget?" tanya Ravel menatapku curiga.


"Nggak, bukannya seneng. Maksudnya, berrti sebentar lagi kan Dilan-da musibah itu dateng, jadi kamu harus cepetan siap-siap, gitu!"


"Aa Dilan, Mbak. Nggak pakai musibah!" Ravel melotot.


"Iya iya, Dilan. Kamu tuh seleranya sama yang dewasa-dewasa ternyata ya, Dek?" ucapku.


"Ya gimana, nyantolnya sa dia. Dia yang bikin aku jadi semangat kuliah, nggak bolos-bolosan. Soalnya kan dia nyambi jadi dosen di kampusku!" kata Ravel keceplosan.


"Ooooooh, makanyaaaaa, jarang pulang dengan alasan banyak tugas kampus. Eeh ternyata kecantol ama pak dosen?" Aku tepok tangan.


"Ya nggak juga, Mbak! kegiatan kampus emang banyak. Lagian dia kan bukan dosen utama, selain dia kerja juga ngebangun bisnis kecil-kecilannya..." ucap Ravel.


"Ya baguslah kalau ada sisi positifnya, yang penting jangan kebablasan!" ucapku ngingetin Ravel.


Jam 10 pagi beneran si Dilan dateng buat jemput Ravel. Aku kasih duit lagi tuh bocah, biar nggak ngrepitin pacarnya kalau mau beli apa-apa pas dijalan.


"Aku pamit ya, Mbakk?" ucap Ravel yang meluk aku sekilas.


"Iya, kamu hati-hati..." ucapku.


"Jagain adekku ya, Lan!" ucapku pada cowok yang diakui Ravel sebagai pacarnya.


"Siap kakak ipar!" jawab Dilan.


"Aiih, kakak ipar!" gumamku


"Kami pamit," ucap Dilan yang diikuti Ravel yang dadah-dadah manja.


Aku tutup pintu setelah dua sejoli itu udah pergi. Aku lempar badanku di sofa ruang tivi.


"Hah, enaknya tiduran lagi, ngantuk banget!"


Aku pun mulai mejamin mata dan semoga nggak ada gangguan apapun di ruangan ini.

__ADS_1


__ADS_2