Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Dikejar Setan


__ADS_3

"Kamu tunggu disini, biar aku liat ke dalam," ucap Ridho.


"Nggak, nggak mau. Aku mau ikut," ucapku.


Karena apa? Tepat di taman depan rumah udah ada satu sosok tinggi besar yang udah stand by, sama satu anak kecil yang badannya putih dan cuma pakai kolor duduk dipojokan deket pot kembang kamboja jepang kesukaan Ridho. Aku yang mau ditinggal ya ogah banget, mending aku ikut aja sama kangmas. Ibarat pait-paitnya ada kejadian horor, ya kan sama suami ada yang ngelindungi.


"Ya udah, ayo..." kata Ridho, dia ngegandeng aku yang jalan nggak bisa cepet.


"Pelan-pelan," aku berusaha buat ngimbangin langkah mas bojo.


Dan ketika aku dan Ridho masuk, posisi pak Karan yang ternyata udah sampai di lantai bawah dia lagi rebahan gitu di lantai, lehernya di tahan oleh tangan makhluk wanita bergaun ungu. Dan pak Ridwan berusaha untuk menolong pak Karan namun dia juga nggak bisa nglepasin satu sosok yang ada ditangannya.


Nggak tau apa yang diucapkannya, tapi tangannya yang memegang leher hantu cing ciripit itu mengeluarkan asap berwarna putih.


"Aaarrrrrrghhhhhh," dia memekik kesakitan


Perlahan kulit hantu yang pucat berubah menghitam, semakin hitam dan kemudian dia hilang begitu saja.


"Kenapa kalian masuk lagi? bawa istrimu pergi dari sini!" seru pak Ridwan.


"Kunci mobil saya ada di kamar, Pak?!" jawab Ridho.


Pak Ridwan nggak sempet nanggepin karena dari atas ada segerombolan ocong yang turun ke bawah sama anak- anak kecil gundul yang cuma pake kolor putih. Bener-bener nih rumah isinya demit. Ridho yang mau naik ke kamar akhirnya nggak jadi.


San keadaan yang udah ruwet ini dimanfaatkan oleh sosok wanita bergaun ungu yang secepat kilat melepaskan pak Karan dan melayang mendekatiku dan Ridho.


"Aawasssss, Revaaaa?!!" teriak pak Ridwan


Pak Karan yang melihat itu, bangun dan menarik ujung gaun sosok wanita yang belum tau siapa nama aslinya. Sebut saja hantu jendes gitu ya, sesuai sama baju yang dia pakai.


"Aaaaakkkkhhh," si hantu yang tadinya melayang ngabruk ke lantai karena ditarik sama pak Karan.


"Cepat pergi, bawa mobilku?!" Pak Karan mengeluarkan kunci mobilnya, menaruh di lantai dan mendorong ke arah Ridho.


Ridho dengan sigap menangkap kunci itu, "Ayo kita pergi sekarang?!"


"Tapi pak Karan?" aku menggeleng. Ngeliat mukanya aja udah bleweran darah. Aku yakin dia habis disiksa sama si hantu nggak beradab itu.


"Pergi, aku akan menyusulmu?!" ucap pak Karan.

__ADS_1


"Ridho cepat bawa Reva pergi. Mereka mengincar bayi kalian, cepat?!!" teriak pak Karan.


"Ayo, Va?!!" Ridho yang ngeliat aku mematung, lantas menggendongku dan berlari keluar rumah.


Ridho dengan cepat membuka mobil dan mendudukkan aku di kursi depan samping kursi kemudi. Mobil kita pergi meninggalkan kompleks. Sampai di depan, pos satpam kosong nggak ada orang.


"Siapa sih yang jaga, jam segini pos ditinggal?" Ridho sempet-sempetnya ngomel.


Perutku rasanya sakit nggak karuan. Nggak tau kenapa.


"Huuuufffhhh, huuufhhh..." aku mencoba mengatur napas.


"Kamu kenapa? apanya yang sakit?" Ridho cemas.


Aku menggeleng, "Kamu fokus nyetir aja,"


"Kamu nggak lagi mau melahirkan kan?" lanjutnya.


"Nggak, nggak. Kandunganku baru masuk 8 bulan. Nggak mungkin secepat itu aku mau melahirkan," ucapku sambil terus mengelus perut. Berusaha menenangkan anakku yang mungkin merasakan sesuatu yang nggak nyaman, makanya daritadi dia gerak-gerak terus.


"Tapi kalau nyerinya nggak ilang-ilang, kamu bilang aku. Kita cari rumah sakit," ucap Ridho.


"Sekarang kita mau kemana?"


"Apaaa? nenek Darmi? kamu gila ya, Dho? terakhir kali kita minta bantuan kesana aja dia minta syarat supaya aku nglepasin kamu. Kamu kok bisa kepikiran nenek Darmi sih?" aku emosi.


"Kamu jangan marah-marah dulu. Oke kalau kamu nggak mau," ucap Ridho.


"Sebenernya tadi pagi tau-tau ibunya Karla nelfon aku. Katanya dia mimpi dan dimimpi itu dia ngeliat kamu dikejar anjing, dan beberapa hari sebelumnya juga dia mimpi buruk," jelas Ridho.


"Ibunya Karla?" alisku bertaut.


"Aku kira kalau itu bukan sesuatu yang sangat penting, dia nggak akan mungkin ngehubungin aku setelah dua tahun lebih kita nggak pernah berkomunikasi," ucap Ridho.


Tapi nggak mungkin aku ke rumah ibunya Karla. Nggak mungkin aku minta tolong kesana dengan perut yang kayak gini. Kalau nenek Darmi minta syarat kalau aku ninggalin Ridho gimana?


"Aku nggak mau ke rumah nenek Darmi. Kenapa kita nggak ke rumah pak Sarmin aja? kita minta tolong kesana,"


"Oh iya, yah? kok aku sampai lupa," ucap Ridho mendapat secercah harapan.

__ADS_1


"Ya udah kita kesana aja, tapi..." ucap Ridho menggantung.


"Tapi apa?"


"Tapi aku lupa bawa dompet, aku nggak bawa uang sama sekali,"


Edun nggak sih, dalam suasana gentong kayak gini kok ya tetep apes. Nggak bawa duit, lah kalau ini mobil kehabisan bensin gimana? Apa iya diisi air apa gimana? Nggak ada duit buat sekedar beli bensin.


Ridho menepi sebentar.


"Kenapa berhenti?" tanyaku.


Dia ngerogoh saku piyamanya, "Barangkali ada duit yang nyelip,"


"Konyol?! mana ada orang mau tidur ngesakuin duiiiiiit?" aku nunjuk baju tidur kangmas yang warnanya biru dongker.


"Aku ada kalung dan anting, besok bisa kita jual di pasar,"ucapku nunjukin kalung yang aku pakai.


"Jangan, itu kan perhiasan punya kamu," Ridho gelengin kepalanya.


"Udah lah, ini satu-satunya barang yang kita punya dan bisa dijadiin dui ," ucapku.


Bersyukurnya aku sempet ngantongin hape waktu ngumpet di lemari pakaian. Jadi minimal kita bisa berkomunikasi dengan pak Karan setelah sampai di rumah pak Sarmin.


Dan kebodohan kita adalah berhenti disini, di tempat yang sepi.


"Mas, cepetan jalan deh! cepetan?!" aku nunjuk ke depan.


Ada satu sosok lain yang nongol, ini definisi dikejar setan yang sesungguhnya. Perempuan dengan dandanan setan pada umumnya, baju putih lusuh dan rambut panjang tergerai dengan seringai wajah pucat.


"Shiit, kenapa.mereka pada muncul, sih?!" Ridho nginjek gas mobil dan melesat membawa mobil ini dengan kecepatan tinggi.


"Jangan ngebut-ngebut, perut akuuu kontraksiiii tauuuuuu?!!" aku ngerasain kontraksi palsu yang sebenernya wajar dialami bumil di trimester ketiga. Tapi lumayan worry kalau sikonnya kayal gini.


"Maaf, Sayang. Iya iya aku pelanin," Ridho mengurangi kecepatan mobil ini.


"Hhuuffh, huuufh," aku coba atur napas.


Ketika aku ngeliat kaca mobil depan, sosok perempuan tadi merangkak dari atas. Dan memperlihatkan wajahnya dengan posisi terbalik.

__ADS_1


"Aaaaaakkkhhh?!!" aku menjerit kaget.


"Sial...?!!" pekik Ridho yang ngerem mendadak. Dan sosok tadi pun terlempar, Ridho secepat mungkin menekan pedal gasnya. Kali ini aku nggak protes, aku cuma berdoa supaya kita berdua bisa selamat dari kejaran para makhluk yang mengincar bayi kami.


__ADS_2