
Ternyata udah menjadi kebiasaan di rumah ini untuk bangun pagi-pagi, eits bukan pagi tapi subuh lebih tepatnya gaes. Aku yang masih kiyip-kiyip lagi nunggu antrian mandi udah kayak wajib militer aja.
"Masuk sana!" kata Karla nunjuk kamar mandi yang udah kosong. Aku emang sengaja nunggu giliran terakhir, karena apa? Karena aku masih bisa nyolong-nyolong buat merem bentar di meja makan sambil nunggu giliran.
Aku lagi-lagi nggak ngeliat pak bos, aku nggak ngerti dah apa dia udah mandi tengah malem atau malahan dia masih molor di kamar.
Baru juga nyentuh handle pintu kamar mandi ada yang main nyerobot masuk.
"Saya duluan, kamu nanti aja!" kata orang yang baru aja kita ghibahin, siapa lagi kalau bukan pak Karan.
Aku yang udaj keduluan, cuma bisa balik kanan grak sambil nglosorin kepala di meja makan. Kata orang molor lah sebelum molor itu dilarang.
Tidur dimana aja itu nikmat asalkan lagi ngantuk parah, tapi kalau waktu di hutan mah nggak lagi-lagi tidur nggak ada bantal itu kesiksa banget suwer. Leher jadi sakit, badan jadi sakit karena tidur yang nggak berkualitas. Kayak semalem, beberapa kali aku kejengkang gara-gara ketendang si Karla.
Yang penasaran sama luka di wajah paripurna aing, aing kasih tau kalau obat itu manjur banget. Aku nggak ngerasain sakit yang berlebihan. Luka udah kering tinggal bekasnya aja, kalau itu mah aku bakal minta pertanggung jawaban pak Karan. Tapi nggak sekarang, karena aing masih takut. Takut dijedotin ke tembok kalau banyak minta ini minta itu.
Dan lagi enak-enaknya ngeliyep, pintu kamar mandi kebuka. Pak bos udah keluar tanpa sepatah kata pun.
Biarin aja, aku juga lagi nggak mood ngomong sama dia, masih canggung.
"Cepetan mandi, Va! aku tungguin di mushola," kata Ridho yang udah cakep pakai koko dan peci, dan pas liat ke bawah dia udah pakai sarung juga.
"Iya bentar imamkuh!"
Aku pun langsung ngibrit masuk ke dalam kamar mandi.
Udahlah, mandi nggak usah lama-lama daripada aku kena semprot sejuta umat yang udah nunggu buat melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Dan benar saja, pas aku dateng dengan Ridho langsung main berdiri aja mau mulai ngimamin shalat. Aku buru-buru pakai mukena, tapi kayaknya ada orang yang baru dateng dan sekarang berdiri di belakang aing.
__ADS_1
Aku nengok, "Pak Karan?" ucapku sambil ngerutin kening.
Ridho yang mendengar pun ikutan nengok beserta yang lainnya juga.
"Pak Karan, silakan Pak..." ucap Ridho yang mempersilakan pak bos buat shalat di depan.
Ridho inisiatif ngambilin sajadah satu lagi dan ia gelar di belakang sajadahnya.
Pak Karan jalan ke depan, sementara aku masih agak bingung.
"Kapan pak bos belajar pakai sarung?" ucapku dalam hati.
"Silakan, Pak. Bapak mau ngimamin kita shalat?" Ridho menawarkan sajadah yang paling depan.
"Sudah, kamu lanjutkan saja..." kata pak Karan.
"Ya sudah kalau begitu..." Ridho pun kembali ke posisinya.
Setelah mengucap salam, Ridho pun membaca doa, wirid atau apapun itu yang jelas aku cuma ngikutin aja sambil tangan aku tadahin ke atas. Kan aku udah bilang, aku bakal mencoba berubah sedikit demi sedikit.
Dan setelah selesai, aku masih nggak percaya dengan apa yang aku lihat di pagi buta ini. Aku sampai ngucek mata berkali-kali, aku takut aku masih ketiduran terus ngimpi lagi shalat.
"Kalau masih ngantuk tidur lagi aja, Va..." ucap Ridho yang sudah melepas peci di kepalanya.
"Aku juga masih ngantuk..." lanjutnya seraya ngeloyor ke kamar buat molor lagi kayaknya. Bu wati dan Karla juga sudah meninggalkan mushola.
Sedangkan aku yang masih ngelipet mukena nggak sadar kalau masih ada pak Karan di sini.
"Soal semalam..." suara pak bos membuat aku menoleh.
__ADS_1
"Jangan ikut campur dan jangan mencoba ingin tau apa yang seharusnya tidak kamu ketahui!" kata pak bos dingin, aku mengangguk kecil.
Aku yang takut melihat mata pak bos milih segera menaruh mukena dan segera pergi dari situ. Ketika aku mau buka pintu kamar Karla, tanganku ditarik menuju ruang tamu yang gelap mungkin sengaja dimatikan buat ngirit listrik.
"S-saya minta maaf, Pak..." aku ngomong terbata-bata.
Pak bos tiba-tiba aja meluk aku, aku pun jadi bingung.
"Lepasin saya, Pak. Saya nggak akan nguping-nguping lagi, kalau saya lagi nggak hilaf.." aku mencoba melepaskan pelukan pak Karan, tapi percuma aja karena tenagaku nggak cukup kuat buat ngedorong badan pak bos yang lebih gede dari aku.
"Pak, jangan seperti ini!" aku takut ada yang liat, nanti kita dikira ngelakuin hal yang nggak-nggak. Tapi kayaknya pak bos nggak peduli, dia malah tambah kenceng meluk aku.
Aku nggak tau dan emang bingung dengan pak Karan yang sebentar-sebentar berubah jadi dingin, galak dan sekarang tiba-tiba kayak gini melow nggak jelas. Dia ngusap punggung aku dengan tangannya, sebelum dia menjarak tubuh kami lagi karena merasa ada seseorang yang berjalan mendekat. Satu jarinya ia taruh di bibirku, yang artinya aku nggak boleh bersuara, dia mepetin badan aku ke tembok
Aku cuma nurut aja, selama dia nggak berbuat yang aneh bin ajaib.
"Aku lupa ini masih subuh, mana ada waring yang sudah buka," ternyata itu suara bu Wati yang sepertinya sekarang udah balik lagi masuk ke dalam.
Aku dan pak Karan bernafas lega saat mengetahui bu Wati sudah pergi. Dan tanpa aba-aba pak bos mendekatkan wajahnya, karena aku refleks mendorong badannya. Tapi dia malah narik kepala aku dan mendaratkan bibirnya tepat di jidat nong-nongku.
"Jangan membuat aku marah lagi!" kata pak bos sebelum ninggalin aku sendirian di ruang tamu yang gelap gulita kayak gini.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala heran, nggak ngerti sama jalan pikiran pak bos yang nggak bisa aku tebak.
Aku yang semula berdiri mepet tembok sekarang mencoba menggapai kursi dan duduk.
"Aneh banget itu orang! dia punya kepribadian ganda apa ya?" gumamku dalam hati.
Akhirnya aku lebih milih ngejogrog disini daripada harus balik lagi ke kamar Karla. Aku coba lurusin badan di kursi panjang, lumayan juga ada bantalnya. Tau gitu aku semalem tidur disini aja daripada harus kejungkal-jungkal udah kayak pemain akrobat. Karena suasana yang masih pagi aku pun kembali terlelap sampai akhirnya aku merasakan sebuah tepukan di pipiku.
__ADS_1
"Vaaaaa, bangun, Vaaaa!" ucap seorang pria.
...----------------...