
"Bar, pesen taksi buat bawa Mona ke rumah sakit!" perintah Ridho pada Bara.
Sedangkan aku berinisiatif buat masukin baju ke dalam tas jinjing. Kali aja Mona disuruh dirawat kan biar nggak usah bolak balik.
Ketika taksi yabg dipesen Bara lewat aplikasi ijo datang, Ridho cepat-cepat mengangkat tubuh adiknya dan memasukannya ke dalam mobil.
"Kamu jagain Mona bentar ya, Va..." ucap Ridho.
"Aku mau ngunci pintu sama nitip rumah ke tetangga sebelah," kata Ridho.
Sedangkan Bara langsung duduk di kursi depan disamping supir. Nggak lama, Ridho datang dan masuk ke dalam mobil.
"Jalan, Pak!" ucap Ridho pada si driver.
"Siap, Mas!"
Beberapa kali Ridho menghela nafas panjangnya, aku tau dia sekarang pasti cemas melihat adiknya tergolek lemah nggak berdaya.
Aku cuma bisa genggam tangannya sebagai bentuk dukungan aku buat kangmas. Aku takut, kalau hadirnya aku cuma jadi biang kesialan dan malapetaka di kehidupan Ridho.
"Pak, lebih cepat sedikit!" protes Ridho pada driver.
"Maaf, Mas. Tapi di depan lagi lampu merah, bisa-bisa saya ditilang kalau main nyerobot!" kata si driver.
"Jangan panik!" aku ingetin Ridho.
"Nggak usah ngebut-ngebut, Pak! yang penting selamat, daripada nyawa kita semua melayang!" kataku pada si supir.
Dan setelah 30 menit menempuh perjalanan, akhirnya kita sampai juga di rumah sakit terdekat. Ridho langsung mengangkat tubuh Mona sedangkan Bara lari ke IGD untuk minta pertolongan. Kalau aku? ngeluarin barang dan bayar ongkos mobilnya.
Kita semua ada di ruang tunggu rumah sakit, Mona sedang di observasi di IGD.
"Udah malem, kamu kalau capek pulang duluan aja nggak apa-apa," kata Ridho pada Bara.
"Besok aku nggak ada kelas jadi nyantai aja, Mas!" kata Bara.
"Kamu ini gimana sih, Dho! pacarnya kan lagi sakit dia pasti khawatir dan pengen jagain. Iya nggak, Bar?"
"Ehm kita nggak pacaran kok, Mbak!" Bara langsung panik.
"Berarti kamu php-in adik saya, dong?" ucap Ridho, bikin Bara jadi kelabakan.
"Bu-bukannya mau php-in, Mas. Bukan begitu! " kata Bara.
__ADS_1
"Sebenernya ini bukan waktu yang tepat buat bicarain hal-hal kayak gini. Tapi mumpung nggak ada Mona, jadi aku bebas ngomong sama kamu," Ridho menatap Bara serius.
Ridho ambil nafas sebelum ngomong,"Kalau kamu nggak serius menjalin hubungan sama Mona, aku ingetin jangan deketin adikku itu, Bar!"
"Maksudku bukan serius ngajakin nikah, bukan. Maksudnya kalau kamu nggak beneran suka sama Mona, mending kamu jauhin dia..." lanjut Ridho yang berperan sebagai kakak yang nggak mau adiknya terluka.
"Dho jangan gitu, dia udah pucet tuh!" aku nunjuk muka Bara.
"Aku sebenernya suka sama Mona, Mas! dan aku sama sekali nggak ada niat buat mempermainkan perasaannya, cuma aku belum nemu waktu yang pas buat ngomong serius sama Mona,"
"JADI KAMU BENERAN SUKA SAMA MONA?" suara Ridho naik dikit.
"Ridho! kamu ngagetin dia tau, nggak!" aku teplak lengan kangmas.
"Aaawkkk! sakit, Va!" Ridho protes.
"Ssssshhh, JANGAN BERISIK, INI RUMAH SAKIT!" ucap salah satu perawat wanita yang keluar buat negur congornya Ridho yang kebablasan.
"Maaf, Sus..." ucapku ngerasa nggak enak karena kita udah bikin gaduh.
Reaksi Ridho yang berlebihan membuat Bara jadi serba salah.
"Tenang aja, dia bakal restuin kalian. Aku jamin dia nggak bakal berulah!" ucapku meyakinkan Bara soal Ridho.
"Keluarga dari pasien Ramona...?!" ucap seorang perawat yang tadi negur kita.
"Bentar ya, Va!" ucap Ridho yang berdiri dan mengikuti perawat tadi masuk ke dalam ruang IGD.
Sementara aku dan Bara nunggu di luar. Aku masih pakai pakaian yang sama, yang aku pakai pas medical check up.
Aku beberapa kali menghela napas, aku mikir apa aku menjauh aja dari Ridho. Kayaknya sebelum deket sama aku, hidupnya adem ayem aja. Dan sepertinya Bara bisa menangkap kekhawatiranku saat ini.
"Jangan dipikirin banget, Mbak! namanya juga musibah!" kata Bara.
"Iya, Bar! makasih..."
Nggak lama Ridho keluar, dia bilang Mona harus di opname. Ridho mau ngurus administrasi dulu supaya adiknya itu bisa segera beristirahat di ruangan.
Aku disuruh nemenin Mona di dal IGD, sedangkan Bara ngikut sama calon kakak iparnya.
"Kamu kenapa sih, Mon?" aku mengusap tangannya kirinya, karena tangan satunya sudah terpasang infus.
"Cepet sembuh ya, kita semua khawatir sa kamu..." lanjutku. Aku sejujurnya nggak tega ngeliat Mona yang biasanya ceria dan cerewet mendadak diem dngan wajah yang pucet kayak gini.
__ADS_1
"Permisi ya, Mbak? pasien akan dipindhakan ke ruangan..." ucap salah satu perawat wanita.
Ridho datang dengan Bara, kita semua mengikuti kemana Mona akan dipindahkan. Ternyata Ridho menempatkan Mona di ruangan VIP yang hanya ada satu pasien dalam satu ruangan.
"Saya tinggal dulu, jika perlu sesuatu tinggal pencet bell yang ini, Mbak!" ucap perawat itu sambil menunjukkan bell emergency yang terhubung di counter perawat.
"Baik. Terima kasih, Sus!" ucapku.
Perawat itu pergi meninggalkan kami di ruang perawatan Mona. Ridho dan Bara duduk di sofa sedangkan aku nyimpen tas di lemari.
"Mbak Reva dan Mas Ridho mau makan apa? biar aku beli di luar..." Bara menawari.
"Nggak usah, Bar!" ucapku.
"Bara, bener Va! kamu kan belum makan. Ini udah malam, nanti yang ada kamu masuk angin..." kata Ridho.
Ridho ngeluarin uang dari dalam dompetnya, "Beli aja ayam lamongan deket rumah sakit, Bar!"
"Nggak usah, Mas!" Bara menolak uang dari Ridho.
"Aku ada duit kok!" ucap Bara lagi.
"Jangan, kamu masih kuliah. Masih jadi beban keluarga," kata Ridho yang memaksa Bara untuk menerima uangnya.
"Nggak usah, Mas! kebetulan aku juga ada sambilan jadi asdos, kayak Mona. Jadi ini uangku sendiri, Mas biar aku yang beli," kata Bara yang kemudian pergi untuk membelikan kita makanan.
"Asdos? Mona? sejak kapan?" gumam Ridho.
"Kenapa kau nggak tau?" dia natap aku. Aku yang sebenernya tau pun hanya bisa tersenyum garing.
"Kamu juga tau, Va? kalau dia kerja sambilan?" Ridho langsung bisa menebak ekspresiku.
"Mona yang nyuruh jangan cerita, Dho..." ucapku.
"Padahal aku udah selalu bilang nggak usah cari tambahan, karena aku masih sanggup buat biayain kuliah dia bahkan sampai wisuda. Tapi bocah ini masih aja ngeyel!" ucap Ridho.
"Mungkin dia pengen belajar mandiri dan ngeringanin beban di pundak kamu, Dho..." aku bersandar di bahu bidangnya.
"Apa kata dokter? Mona kenapa?" tanyaku.
"Nggak kenapa-kenapa, katanya tekanan darahnya terlalu rendah dan kemungkinan dia pingsan karena serangan panik..." jelas Ridho.
"Lebih jelasnya nanti kita tanya kalauona udah siuman," lanjutnya.
__ADS_1
"Maaf ya, Dho. Mungkin dia begini karena kelelahan ngebersihin rumah atau juga karena stress dapet teror terus-terusan!" ucapku yang masih nyaman nyender di bahu kangmas.
"Jangan suka menyalahkan diri sendiri," kata Ridho yang kini membenamkan wajahku di pelukannya.