Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Keinginan Rania


__ADS_3

Barraq juga membalas senyuman Rania, dia kayak orang gugup. Dia agak keperihan gitu matanya, nggak tau kenapa. Aku liat sih, sekarang Barraq kayak orang yang lagi sakit mata.


"Ah, ya. Tapi sebenernya bukan dengan keadaan kayak gini yang aku harapkan, Ran..." ucap Barraq.


"Ternyata takdir begitu jahat mempermainkan manusia," ucap Rania, aku tau lah dia pasti nyesel kenapa ketemu dan ngertin kalau mereka ternyata mempunyai rasa yang sama setelah dia metong. Kayak nggak guna banget gitu loh.


"Kamu bener, kita kayak dimainin sama takdir. Tapi aku lega sekarang aku bisa tau keadaan kamu yang sebenarnya. Aku nggak nyangka orang yang aku cari selama ini ternyata fans ku sendiri," kata Barraq.


"Bener-bener konyol ya?" sahut Rania.


Rania menceritakan sedikit mengenai perustiwa yang dialaminya sebelum meninggalkan dunia. Barraq yang mebyimaknya tak kuasa menahan satu tetes dua tetes air matanya. Sedangkan Rania sepertinya sudah sangat lega, saat ini Barraq bisa mengetahui juga isi hatinya. Rania terang-terangan mengatakan kalau dia suka sama Barraq. Ya gimana ya, mqu ditutupi juga itu faktanya. Rania mungkin udah nggak peduli lagi tentang rasa malu, mengutarakan hal yang selama ini dia pendam.


"Aku senang, ternyata kita sama-sama nggak bertepul sebelah tangan, Ran..." ucap Barraq yang lagi-lagi ingin menyentuh Rania, tapi hanya angin kosong yang dia dapat.


"Lalu apa yang membuat kamu masih terjebak disini, Ran?" tanya Barraq.


"Mungkin ada hal yang aku inginkan, tapi belum juga kesampaian..." kata Rania.


Aku cuma kayak penonton, melongo ngeliatin mereka berdua ngomong.


"Apa itu, Ran?" tanya Barraq lagi.


"Hemmm," Rania tampak ragu.


"Ngomong aja, Ran. Mungkin aku bisa mengabulkan atau mewujudkan keinginan kamu itu..." ucap Barraq.


"Aku ingin tanda tangan dan foto bersama," ucap Rania.


GGGGGGUBBBRAAAAKKKKK!!!!


What the hell???!!


Sumpeh demi apa, dia gentayangan cuma gara-gara pengen tanda tangan sama foto bareng Barraq? dunia emang sudah edun ya gaeeesss.


Aku denger itu pebgen terjungkal deh beneran. Setan sekarang pada mind blowing banget, ya ampuun.

__ADS_1


Udara sore sekarang berganti menuju malam. Aku masih di rumah Barraq. Tiba-tiba angin berhembus menerbangkan Rania ke atas, lalu dia balik lagi dengan wajah dan tampilan yang kayak manusia normal.Aku akui wajahnya cantik, nggak heran kalau Barraq bisa suka sama ini bocah yang aku kira-kira masih umur 20-an.


Barraq yang melihat Rania berubah tampilan pun ikut terseponah.Astaganaga, Barraq nggak nyadar yang dia kagumi itu udah berubah wujud jadi hantu apa ya.


Barraq duduk di meja, kita lagi reka adegan meet and greet ya. Rania datang tepat di depan meja, lalu dia mendapatkan satu tanda tangan eksklusif dari idolanya. Bukan cuma itu, tapi dia juga dapet kesempatan buat foto bareng.


"1, 2, 3..." aku kasih aba-aba. Dan tau nggak, Rania sama sekali nggak tertangkap kamera. Barraq kayak lagi duduk sendirian aja.


Intinya keinginan Rania udah dikabulin dan sekarang waktunya dia buat pergi.


"Makasih, Barraq. Makasih juga Reva..." ucap Rania yang sekarang berdiri di depan aku dan Barraq.


"Buanglah benda itu ke laut lepas, dan kamu yang harus membuangnya, Reva..." ucap Rania.


"Loh kok aku sih?"


"Karena jika Barraq memegang benda itu, Barraq akan terpengaruh dalam guna-guna yabg dikirim Cherryl..." ucap Rania.


"Baiklah, aku akan membuangnya besok..." ucapku.


"Sekali lagi makasih, Reva..." ucap Rania kayak ngicapin salam perpisahan.


Aku yang melihat itu pun akhirnya bisa bernafas lega, urusan Ramia di dunia udah beres semua. Dia sekarang udah tenang di alamnya sana.


"Barraq, aku pamit pulang..." ucapku sambil membawa bungkusan kain berisi keris.


"Bukannya kamu nggak bisa buka pintu karena lupa kode aksesnya?"


"Aku udah inget, dan sekarang waktunya aku balik. Untuk keris ini, biar aku yang ngebuangnya..." ucapku yang bego-begonya mau aja nurutin keinginannya Rania. Tapi yowes lah, biar urusan dan masalah ini cepat kelar dan aing bisa hidup dengan tentram, aku jalani aja udah.


"Nggak usah dianter, aku bisa keluar sendiri..." ucapku yang ngibrit keluar ruangan.


Buru-buru aku keluar dari unit Barraq. Dan pas banget aku mau masukin kode akses, eh Ridho nongol.


"Baru pulang?" tanya Ridho.

__ADS_1


"Astaghfirllah! bikin kaget, aku kira setan tau nggak?" aku ngelus dada.


Aku liat Ridho bawa jinjingan, aku nebak itu makanan. Soalnya baunya udah bikin perut keroncongan.


Pintunkebuka, Ridho main nyelomong aja. Astaga, sabar banget ngadepin ini orang. Moodnya lagi nggak bagus deh kayaknya.


"Mau minum apa?" aku nawarin.


"Nanti aku ambil sendiri, kamu mandi dulu aja. Aku siapin makanan di meja makan," ucap Ridho datar.


Ya udah, aku yang emang udah gerah pun langsung pergi ke kamar. Sebelumnya aku keluarin tuh keris yang ada di kantong blazerku. Aku taruh di meja rias.


Badan kayaknya enteng banget diguyur pake air anget. Apalagi masalah hari ini kelar, dan aku nggak bakal diganggu-ganggu lagi sama yang namanya Rania. Saking menikmatinya acara mandi, aku sampe lupa kalau ada Ridho yang udah nungguin.


"Astaga, dia bisa merong-merong ini nungguin aku mandi hampir sejam..." buru-buru aku ganti baju dan keringin rambut.


Rasanya hatiku udah plong banget, mungkin karena beban yang ada di pundaki sedikit demi sedikit mulai terangkat.


Aku temui Ridho di meja makan. Dia udah lepas jas item nya dan cuma pakai kemeja biru langit slim fit yang digulung lengannya sampai siku, duduk dengan wajah yang ditekuk kayak kertas contekan.


"Kenapa tuh muka?" ucapku tapi nggak digubris sama Ridho.


"Aku beli kwetiaw ini yang pedes dan ini yang nggak," Ridho nunjukin dua piring yang berbeda.


Ada air dingin juga yang udah di tuang ke gelas tinggi.


"Aku yang pedes aja," aku mau narik piring tapi dicegah sama Ridho.


"Jatah kamu yang nggak pedes!" ucap Ridho.


"Oh ya, ini tas kamu! katanya ketinggalan di unit sebelah," ucap Ridho sembari ngangkat tasku yang ternyata ada di kursi samping kanannya.


"Hah?"aku cuma bisa ngah ngoh sambil yanganku ngambil tas dari tangan Ridho.


"Jangan-janagn Barraq tadi kesini? hadeeyh, pake acara ketinggalan tas di rumah Barraq segala, dasar begooooo!!!" batinku.

__ADS_1


"Sebenernya---" ucapanku terpotong.


"Makan dulu aja, Va. Keburu dingin nggak enak..." ucap Ridho sambil mengaduk kwetiaw yang ada dipiringnya pakai sumpit.


__ADS_2