
Aku harus paham kalau Ridho itu bukan bos kayak pak Karan yang bisa seenak udelnya berangkat atau libur kerja. Apalagi saat ini status dia sebagai karyawan baru. Meskipun dia tidur cuma 1 sampai 2 jam, tapi yang namanya tanggung jawab mesti dilakuin. Dia disuruh dateng ke kantor buat lemburan setengah hari.
Ridho sempet nyamperin aku ke kamar sebelum dia pamit kerja, mau nggak mau ya aku harus ngijinin dan lagi-lagi nggak boleh egois karena minta ditungguin.
Kata Ridho, dia bakal usahain balik cepet, tapi ya aku anggap itu sekedar iming-iming supaya aku nggak ngambek aja.
Tapi dibalik semua itu, aku jadi tau sosok Ridho ini begitu tangguh. Dia begitu bertanggung jawab dengan adiknya, dan inshaa Allah dia bakal tanggung jawab juga sama aku dan calon anak-anak yang masih di awang-awang.
"Berhenti senyum-senyum sendiri! sekarang kamu isi perut kamu dengan makanan, dan minum obat..." kata pak Karan ngebuyarin semua lamunan indah aing bersama kangmas. Emang dasar nggak bisa banget liat orang seneng.
"Yaaaaa..." aku nyaut agak males.
Tapi karena tuntutan lambung yang emang udah waktunya diisi, aku pun makan dengan cukup lahap. Maklum semalem habis ngeluarin banyak tenaga buat nangkep kunti jadi-jadian, jadi lumayan terkuras juga tenaga aing. Badan juga jadinya pegel-pegel, terutama di bagian perut ya.
"Kenapa?" tanya pak Karan yang ngeliat aku pegangin perut.
"Tidak ada..." kataku.
Entah, kalau ngomong sama pak Karan bahasaku ikut-ikutan formal kayak tuh orang. Mungkin karena udah nganggep dia atasan jadi gimana pun dan dimanapun bahasaku akan selalu formal kalau berhadapan dengan manusia kutub itu.
"Jangan bohong, perut kamu sakit atau bagaimana? biar saya panggilkan suster," kata pak Karan.
Aku menggeleng, "Jangan, saya cuma sakit sedikit..." ucapku.
"Ya sudah, lanjutkan makan lalu minum obat!"
Mendengar kata 'obat' aku langsung bergidig. Gimana caranya aku bisa mangkir dari kegiatan menelan butiran-butiran obat yang pasti rasanya ajaib itu?
Sengaja aku makan dilambat-lambatin, nungguin pak Karan pergi. Jadi aku bisa buang tuh obat ke tempat sampah.
Tapi ternyata harapan nggak sesuai dengan kenyataan, adek sepupu nggak pergi-pergi juga. Dia malah sibuk terima telfon dari asistennya di kantor, alamat dia libur kerja hari ini.
"Urus saja semuanya, cancel semua jadwal hari ini!" ucapnya di telepon. Pak Karan sakuin lagi hapenya, dia berjalan ke arahku.
"Sudah makannya?" tanya pak Karan.
"Belum,"
"Belum?" pak Karan mengernyit.
"Tapi di piring kamu sudah tidak ada nasi ataupun lauk. Jangan-jangan kamu itu titisan kuda lumping? yang makan piring dan beling?" pak Karan nunjuk piring yang aku pegang.
Aku nggak bisa jawab, karena emang nasi dan lauk udah abis. Mungkin aku yang nggragas atau emang kelaparan ditambah makanannya juga enak? makanya tuh nasi habis nggak bersisa.
Pak Karan ngambil piring dari tanganku, "Saya khawatir, piring ini kamu makan dengan alasan masih lapar!"
__ADS_1
Astaga, pengen banget aku getok kepalanya. Tapi nggak berani juga sih, yang ada aing kena getok balik berkali-kali.
"Minum obatnya," dia sodorin satu gelas tinggi yang udah diisi air putih, dilanjut ngasih beberapa butir obat di telapak tanganku.
"Tunggu apa lagi?" tanya pak Karan.
"Saya udah sembuh, nggak perlu minum kayak beginian!" aku mau balikin gelas tapi dicegah.
"Sembuh darimana? ayo cepat minum!"
"Bisa lewat cara lain nggak? misalnya ditransfer pakai apa gitu..." ucapku yang malas ngeliat obat yang ada di tangan.
"Harusnya bisa lewat infus, tapi kan infus kamu sudah tercabut semua! ayo cepat Reva, jangan seperti anak kecil yang baru belajar minum obat!" ucap pak Karan.
"Apa perlu saya transfer dari mulut saya?" ancam pak Karan.
"Nggak, nggak perlu!" aku menggeleng, tapi lain cerita kalau ayang Ridho yang nawarin. Aku pasti auto ngangguk.
Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya satu persatu obat itu meluncur ke kerongkonganku, walaupun harus ngabisin air satu galon.
Pak Karan naikin kedua sudut bibirnya, "Nah itu bisa kan? "
"Ya ya ya! sampai kembung perut saya!"
"Sekarang kamu istirahat, jangan keluyuran kemana-mana!" ucap pak Karan.
"Halo? ya, Tante?" ucap Pak Karan sopan.
"Reva? memangnya kenapa, Tan? tidak aktif? oh, ya nanti coba saya cari tahu. Mungkin dia lupa mencharge hapenya. Tidak apa-apa, tidak perlu merasa sungkan..." ucap pak Karan yang sangay berbeda.
Panggilan berakhir dan dia mengantongi hapenya kembali.
"Siapa?" tanyaku.
"Apa perlu aku memberitahumu?" pak Karan perlahan mendekat.
"Lupakan saja kalau begitu," ucapku. Aku yang meletakkan kepala di atas bantal pun hanya bisa kedip-kedip berusaha mengalihkan pandangan.
Setelah jarak wajah yang begitu dekat, tiba-tiba pak Karan menarik kepalanya ke belakang menjauh dariku.
"Itu tante Ivanna. Dia menanyaimu. Kenapa hapemu itu mati semalaman..." ucapnya yang kemudian duduk dengan benar di kursi.
Aku pun bernapas lega, akhirnya tidak terjadi tabrakan antara dua congor yang tidak diinginkan.
Aku baru inget, kalau aku ngantongin hape di saku celana.
__ADS_1
"Pantesan, aku belum ngaktifin!" gumamku.
Dan baru juga nyala, itu chat dari Ravel dan Mama langsung bikin hapeku langsung ngadat karena saking banyaknya.
"Aku mau turun ke bawah sebentar. Kamu jangan kemana-mana!" kata pak Karan.
dan aku yang lagi fokus sama hape hanya ngangguk aja.
Cup!
Aku merasakan satu benda kenyal mendarat di keningku. Ya, dia menciumku sebelum hilang ditelan bumi. Manusia kutub itu mencuri kesempatan ketika aku sedang lengah.
"Astagaaaaaa, jatah ayang disrobot!" ucapku sambil pegang kening.
Anggap aja itu kecupan antar sodara aja udah, nggak usah dipikir apalagi diceritain ke ayang. Ntar jadi panjang urusannya.
Aku gelengin kepala berkali-kali, berusaha buat ngelupain apa yang pak Karan lakukan tadi.
Nggak lama mama telpon.
"Halo, Vaaaaa. Assalamualaikuuuuuum ya ahli waris!" ucap mama setengah kesal.
"Waalaikumsalam. Ya ampun mama, pakai ahli waris segala!"
"Ya habisnya anak sulungku dari semalem nggak bisa di hubungi, dan sekarang udah jarang banget nanyain kabar mamanya. Mentang-mentang di kota besar, sibuk kerja terus lupa sama orangtua!" mama ngomelin.
"Maaf, Mah..."
"Kamu itu bener-bener kalau nggak mama yang telpon pasti nggak mau nelpon duluan! gimana kabar kamu, Sayang? kamu sehat dan baik-baik aja, kan?" tanya mama.
Mungkin feeling seorang ibu emang peka kali ya, disaat kayak gini mama telpon. Kayak nyetrum gitu, ngerasa kalau anaknya lagi kenapa-napa.
"Revaaa?" mama manggil lagi.
"Eh iya, Mah. Aku baik dan sehat walafiat kok!" ucapku berbohong.
"Syukurlah, soalnya mama semalem mimpi nggak enak, Va. Terus mama langsung keinget sama kamu. Mama tambah khawatir pas nelpon tapi nomer kamu nggak aktif," jelas Mama.
"Lupa ngecharge hape, Mah. Maklum suka di pakai sampai lowbat!"
"Oh gitu. Ya udah, mama mau belanja dulu. Itu kang sayur udah treak-treak di luar! Assalamualaikum," ucap mama.
"Waalaikumsalam..."
Aku menghela napas panjang setelah dapet telepon dari kanjeng mami tercinta.
__ADS_1
"Maaf, Reva udah bohong, Mah..." gumamku seraya memandangi nomor telepon yang baru saja menghubungiku.