
Pak Sarmin menghentikan bacaannya, lalu dia menyentuh cangkir dan menyuruh bu Ratmi meminumkannya pada pak Karan.
Aku liat pak Sarmin juga menulis sesuatu dengan telunjuknya di permukaan air yang ada pada baskom. Setelah menaruh alqur'an, Ridho mendekat ke arahku.
"Kamu duduk disini, kasian anak kita," ucap Ridho yang bantu aku buat berdiri.
"Kasian dia, Mas..." ucapku melihat ke arah pak Karan.
"Tenang, kita lagi berusaha menolongnya," kata kangmas, dia membelai kepalaku sekilas.
Bu Ratmi sedang menolong pak Karan untuk meminum teh yang sudah dibacakan doa oleh pak Sarmin, "Minumlah, Nak..."
Dengan susah payah, Pak Karan mencoba untuk meminumnya, walaupun dari raut wajahnya terlihat sedang menahan sakit.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada sepupu saya, Pak?" tanyaku pada pak Sarmin.
"Ada orang yang ingin mencelakai Nak Karan. Tapi kebetulan ada sosok lain penjaga yang diperintahkan oleh neneknya yang kemudian mencoba melawan kekuatan lain dari makhluk kiriman dari orang yang sudah menandai Nak Karan sebagai targetnya. Apa yang dialaminya sekarang karena kedua makhluk itu saling berebut untuk masuk ke dalam tubuh Nak Karan dan berusaha mengendalikannya,"
"Lalu? bagaimana cara untuk menolongnya, Pak Haji?" tanya Ridho.
"Dia harus memusnahkan satu benda yang diberikan oleh neneknya sebagai tanda hadiah," Jelas pak Sarmin.
"Nak Karan pasti tau benda apa itu," lanjut pak Sarmin.
Setelah meminum teh, kondisi pak Karan sedikit membaik. Paling nggak aku nggak ngeliat dia melotot. Cuma masih meringis-meringis wajar.
"Nanti saja kita tanyai, karena sepertinya dia masih sangat kesakitan," ucap pak Karan.
"Sekarang Bapak akan usapkan air ini di dada Nak Karan. Semoga ini bisa membantu," ucapnya.
Sebaiknya Ibu dan Nak Reva masuk ke dalam," lanjutnya.
Karena pak Sarmin dan Ridho akan menyeka badan pak Karan, aku dan bu Ratmi kembali masuk ke dalam. Rasanya sulit banget buat aku sekedar jalan dari ruang tamu ke ruang tengah. Rasanya ada yang ngeganjel banget terutama di bagian perut bawahku.
"Pelan-pelan saja, Nak. Iya ... begitu..." ucap bu Ratmi lembut.
"Duduk disini," ucap bu Ratmi, mendudukkan aku di kursi yang tadinya aku pakai buat sholat tadi.
"Bu, sebenarnya bukan hanya sepupu saya yang mengalami kejadian seperti itu. Tapi saya juga, dan para makhluk itu mengincar bayi yang ada dalam kandunganku ini. Mereka ingin mencelakainya, Bu..." ucapku menjelaskan keadaan.
"Jangan patahkan keyakinanmu, kekuasaan Allah melebihi apa yang diperkirakan manusia, Nak. Inshaa Allah, Allah akan melindungimu dan anak yang ada dalam kandunganmu ini. Kamu harus yakin itu," ucap bu Ratmi yang menggenggam tanganku.
Sedangkan di ruang tamu pak Karan terus saja memekik kesakitan.
"Aaaaaarrghhhhh, s-sakiiit. Tolong hentikan, tolong..." ucapnya.
"Istighfar pak Karaan, istighfaar," ucap Ridho.
Sedangkan suara auman di depan rumah tersengar lagi. Bahkan sekarang banyak suara-suara bermunculan. Ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang ngajak bermain petak umpet. Semuanya membuatku frustasi.
__ADS_1
"Aaaghh, hentikan?!! suruh mereka semua diaaaaammm?!!" ucapku menutup telingaku.
"Astaghfirullah, Nak Reva. Sadar, Nak..."
"Bu, tolong. Suruh mereka semua diam. Aarrrghhh," aku menutup telingaku. Tapi suara-suara itu, terus saja memenuhi gendang telingaku.
"Tidak ada suara apapun, Nak. Sadar, Nak Reva. Sadar, Naaaak...." ucap bu Ratmi.
Aku berdiri, "Usir merekaaa, usirr merekaaaaa?!!! aaarrrghhhh, aaaaaarrrghh," kali ini aku menjerit.
"Nak, Nak Ridhooooooo?!!" bu Ratmi teriak.
"Aaaaarrrghh, ssaaaakiiiit?!!!!!" pak Karan gantian yang teriak.
Aku ngeliat Ridho datang dari arah ruang tamu, wajahnya panik.
"Kamu kenapa? kamu kenapa Revaa?"
"Tolong usir merekaaaaa, Mas?! aku nggak mau, aku nggak mau anak ini diambil..." ucapku yang merasakan kepalaku berat dan pandanganku hilang.
.
.
.
"Aaarrrgh, ssshhh..." aku mencoba membuka mata.
Aku melihat Ridho yang duduk di lantai dengan kepala dia letakkan di pinggir kasur, sementara tangannya menggenggam tanganku. Aku berada di dalam sebuah kamar.
"Gimana keadaan pak Karan? Apa dia udah lebih baik? atau?" batinku, mendadak aku inget sa adek sepupu.
Aku mencoba untuk bangun dengan pelan-pelan. Supaya kangmas nggak kebangun. Kasian dia pasti kecapean ngejagain aku terus.
Nggak tau ini jam berapa, tapi keadaan kayaknya udah sepi. Cuma ada suara serangga-serangga dari luar.
Telapak kakiku merasakan dingin saat bersentuhan dengan lantai, "Huuuuwwh," aku menghembuskan nafas pelan.
Aku keluar dari kamar. Dan perlahan menuju ruang tamu, mau ngeliat keadaan pak Karan.
Sampainya disana, ngelongok dan melihat pak Sarmin yang tidur dengan posisi duduk. Lagi menunggui pak Karan yang sedang berbaring di panjang di ruang tamu. Aku sempet liat, waktu udah menunjukkan jam 12 malam, itu berarti aku udah terlalu lama terlelap.
Wajahnya pucat. Mungkin karena dia banyak mengeluarkan darah. Tapi dari sini aku ngeliat kalau pak Karan lagi tidur dengan nyenyak walaupun sesekali keningnya berkerut.
Melihat keadaannya sudah membaik, aku pun mencoba balik ke kamar. Tapi tiba-tiba saja pi tu depan terbuka denga sendirinya. Seperti di dobrak seseorang.
"Siapa itu?" seru pak Sarmin. Dia terperanjat kaget.
"Hey, siapa itu?!" seru pak Sarmin lagi.
__ADS_1
"Aarrghh," pekikan suara pak Karan.
Brakk!!!
Aku dengar pak Sarmin menutup pintu lagi.
"Sayang, Sayang...?" kini suara Ridho memanggilku dari dalam kamar. Kemudian Ridho keluar.
"Sayang kok kamu disini?" ucap Ridho.
"Aarrrrghh, Mas..." aku memegangi perutku yang sakit.
"Rev? Revaaa? kamu kenapa?"
"Peruutku, Mas. Saaaakiiiiiiittt, aaaaeerrghhh..." aku memegangi perutku yang sakitnya menjalar ke pinggang.
"Bu, Bu Ratmiiii?!!" Ridho memanggil bu Ratmi.
"Astaghfirullah, Nak Reva? Nak Reva kenapa?" bu Ratmi datang.
Ridho menggendongku, "Dia kesakitan, Bu. Dia bilang perutnya sakit," ucap Ridho.
"Aaaeerrgghhh, ssaaakitt. Perutkuuu, sakiiiit?!!" aku memekik, perutku menegang rasanya aku nggak kuat.
Pak Sarmin dan pak Karan yang mendengar kehebohan di ruang tengah pun menghampiri kami.
"Ada apa, Bu?" tanya pak Sarmin.
"Sepertinya, Reva akan melahirkan, Pak..." ucap bu Ratmi.
"Bapak akan panggil bu Bidan. Bawa Revaasuk ke kamar," suruh pak Sarmin yang nggak pergi ke pasar melainkan pergi ke rumah bu bidan.
"Reva?" pak Karan memanggilku. Dia yang lemah memaksakan diri buat berdiri bahkan menghampiriku.
Ridho dengan sigap membawa aku ke dalam kamar.
"Aku nggak siap," ucapku.
"Belum waktunya, belum waktunya, Masss. Aaeerhhh, huuwhh huwwh, dia masih terlaku kecil, Mas..." kataku lagi ketika Ridho merebahkan aku di ranjang.
"Semua yang menentukan Allah, Sayang. Allah yang lebih tau kapan waktu yang tepat. Kita cuma bisa mngikuti takdir yang sudah digariskan. Kita cuma bisa berdoa, agar anak kita bisa lahir dengan sehat dan selamat," ucap Ridho yang mengusap lembut kepalaku.
Sedangkan pak Karan, aku melihat dia diambang pintu. Sedangkan tak lama, bu Ratmi datang dengan beberapa kain dan juga gelas.
"Minumlah dulu, Nak. Supaya kamu ada tenaga," ucap bu Ratmi yang mebyuruhku meminum teh manis hangat.
"Nggak bu. Saya nggak haus, Aarrrghhhh..." aku menggeleng, menolak apa yang di tawarkan bu Ratmi.
"Kamu harus minum, paling tidak lakukan itu untuk anakmu!" ucap pak Karan yang kini melihatku dari dekat.
__ADS_1