
Wanita tadi tersenyum sekilas kemudian menghadap kembali ke arah Ridho. Kenapa pagi-pagi si kembang desa udah nyamper ke rumah pak Sarmin?
Iya, mbak Luri yang dateng. Aing ngerasa nggak suka ya.
"Loh, Nak Reva kenapa di pintu?" ucap bu Ratmi dari belakangku.
Aku otomatis ngegeser badan, "Eh, iya Bu..."
Bu Ratmi keluar dan nemuin mbak Luri yang cantik dengan rambut yang digerai. Kalau orang nggak tau kisah hidupnya, pasti ngiranya mbak Luri ini masih single dan belum pernah double.
"Tolong sampaikan terima kasih untuk ibu ya, Nak Luri..." ucap bu Ratmi seraya memberikan rantang pada mbak Luri.
"Baik, Budhe..." ucap mbak Luri lembut.
Emang mbak Luri ini kalau ngomong nadanya begitu ya, kemayu. Aku melotot ke arah Ridho, tapi Ridho malah naikin satu alis dengan wajah yang penuh tanda tanya. Sedangkan muka aing papnvsti udah penuh dengan tanda seru.
"Mas Ridho, Budhe ... kalau begitu saya pulang dulu," ucap mbak Luri, sedangkan liat wajahku yang udah pasti angker ngalah-ngalahin kuburan, dia cuma nganggukin kepala dan senyum seadanya.
"Masuk, Nak!" ucap bu Ratmi yang menepuk pundakku sebelum dia kembali ke dalam rumah.
Mataku nggak lepas dari sosok wanita tinggi semampai dengan rambut panjangnya tapi lebih berkilau rambutku ya pastinya.
"Eh, maksudnya gimana nih? loh loh loh, dia kok jalan ke rumah samping? jadi? rumahnya bu Ratmi itu tetanggaan sama mbak Luri?" batinku meronta kesal.
Aku menarik napas, dan nggak akan pernah lupa menghembuskannya kembali. Kakiku maju beberapa langkah dan menarik kursi di depan Ridho.
"Ngomongin apa?!" aku ketuk-ketukin jari di meja, menginvestigasi mas pacar.
"Ngomongin apa? cuma sekedar basa-basi," kata ayang.
"Basi banget!"
"Tadi kan dia kesini bawa rantangan buat bu Ratmi, pas kebetulan aku lagi di teras cari udara segar,"
"Udara seger apa cari pemandangan yang seger?" tatapanku menyelidik.
"Udara, Va! udara, nih kayak gini..." dia praktekin ambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Udara pagi bagus buat paru-paru kita," lanjutnya.
"Dan cewek cantik bagus buat mata kita gitu ya?" aku nyerobot dan ngelanjutin omongannya mas pacar yang pagi-pagi bikin aing darting.
__ADS_1
"Dih, lucu kamu Va kalau lagi cemburu. Biasanya kamu super pede, kenapa tiba-tiba jadi insecure gini, sih? kayak bukan Reva yang aku kenal," Ridho ngeledek.
"Nggak ada! siapa bilang aku insecure? nggak ya!"
"Mulut bilang nggak tapi sikap bilang iya," Ridho mengulum senyum.
"Pagi-pagi jangan sewot ah, nggak bagus!" kata Ridho.
Dan lagi asik berdebat sama mas pacar, pak Sarmin datang.
"Nak, ayo masuk ke dalam, kita sarapan dulu sebelum berangkat," kata pak Sarmin.
"Ayo, Va!" Ridho segera berdiri dan main narik tangan aing.
Kita duduk berpat di meja makan. Dan bau harum masakan ini sama persis seperti yang terendus oleh hidungku tadi subuh.
Udah bisa ketebak, jadi yang masak tadi subuh itu rumah sebelah. Entah Luri atau ibunya, aing males juga buat nanya.
Tapi gimana, nggak ada makanan lain. Mau dimakan agak dongkol, nggak dimakan perut laper.
"Makan, Nak Reva..." ucap bu Ratmi.
Sedangkan Ridho aku liat dia lahap banget tuh kayaknya makan masakan kirimannya mbak Luri tadi. Ck, fix mbak Luri mau nantangin aing, dia secara nggak sengaja udah mengibarkan bendera perang secara terang-terangan.
"Vaaaaaa..." Ridho manggil seakan nyadarin aku dari lamunan yang udah kemana-mana.
Tanpa babibu aku makan aja daripada diliatin mulu sama kangmas. Setelah beres sarapan, aku, Ridho dan pak Sarmin bersiap untuk jalan ke hutan. Pak Sarmin walaupun usianya sudah menginjak sekitar 60 tahun, tapi secara fisik dia itu termasuk proporsional. Bakan wajahnya ini terlalu muda untuk seusia pak Sarmin.
Kita jaga-jaga bawa tenda milik pak Sarmin, kalau-kalau ada keadaan darurat yang nggak memungkinkan kita buat pulang. Dan pak haji ini punya alat-alat lengkap ternyata, mungkin dulunya dia anak mapala.
Aku cuma bawa satu tas punggung milikku sendiri, sedangkan Ridho dan pak Sarmin bawa perlengkapan yang lain.
Kita keluar, dan ternyata sudah ada 3 orang yang semalem ikut waktu pengajian yabg baru aku tau namanya Mas Rahman, Danang sama Juned dan satu makhluk sejenis aing yang bikin aku bertanya-tanya 'kenapa ini orang pakai ikut segala?'
"Mbak Luri ikut juga?" tanya Ridho sama pak haji.
"Iya, Nak Ridho. Supaya bisa menemani Reva," kata pak Sarmin.
Ya ampun pak haji, aing kagak butuh temen ngapain ini mbak Luri ikutan ke hutan segala. Makhluk lemah lembut kayak gitu yang ada ntar nyusahin karena dikit-dikit pasti ngeluh capek.
Awalnya aku kira mencari mbak Sena nggak harus terjun langsung, aku udah keburu seneng. Eh ternyata, sama aja. Aing kudu nyari ke hutan, bedanya ini bareng-bareng sama orang banyak. Total kita bertujuh ya untuk mencari keberadaan mbak Sena.
__ADS_1
Kata pak haji semakin banyak yang nyari semakin bagus, karena bisa kita bisa dibagi dua kelompok biar mencar gitu nyarinya.
Kita kesana pakai mobil angkutan barang yang bagian belakangnya terbuka. Kebetulan mobilnya punya mas Rahman, pak haji duduk di kursi mobil depan samping mas Rahman yang disuruh nyetir.
"Kenapa sih, Va? cemberut mulu," tanya Ridho setengaj berbisik.
"Katanya nggak jauh kok. Cuma ini karena takut kamu kecapean jadi pakai mobil angkutan kayak gini," jelas Ridho.
Aku tuh bukannya bete perkara naik mobil angkutan barang. Tapi aku bete karena ada wanita lain yang ikut sama kita, dan itu bisa mengancam tahtaku sebagai satu-satunya calon istri mas Ridho. Dan itu nggak bisa dibiarkn, aku nggak boleh kecolongan. Aku kudu pantengin mereka terus, jangan sampai terlalu deket.
Coba aja, kalau aku yang di posisi dia. Disamping aku ada pak Karan, Ridho juga pasti uring-uringan nggak jelas. Jadi disini bukan aku aja ya yang ngebucin, catet!
Mobil bergerak dibawah langit yang belum begitu terang. Nggak lama, mobil berhenti di sebuah pos penjagaan.
Kayaknya ini hutan yang sama seperti waktu aku ilang sama pak Karan. Cuma perkara lewat jalan mana aku nggak begitu paham karena kan emang aku payah dalam mengingat rute.
Ridho turun dari mobil, dia angkat pinggangku dan nurunin aku ke tanah dengan selamat sentosa. Dan ternyata dia ulurin lagi tangannya, buat mbak Luri.
Plakkk!
Aku teplak tangannya Ridho.
"Mas Danang, tolongin mbak Luri, kayaknya susah buat turunnya" kataku sama mas Danang.
"Ehm, nggak usah, Mas! saya bisa sendiri..." tolak mbak Luri, dia pun akhirnya loncat sendiri dari atas mobil.
"Hati-hati, Mbak!" kata mas Danang.
"Tasnya biar saya aja yang bawa, mbak!" kata mas Juned.
"Saya bawa sendiri aja, Mas..." kata mbak Luri lembut.
"Nggak apa-apa, Mbak! biar kita aja yang bawa!" ucap mas Danang yang maksa buat bawain tasnya mbak Luri.
Aku sih bodo amat siapa yang bawain, yang penting bukan kangmas Ridho. Menyadari Ridho berdiri di samping mbak Luri, aku pun segera nyempil supaya ada spasi diantara mereka.
Ridho nyenggol lenganku, "Kamu kenapa sih, Va?"
"Kenapa? tanya aja sama rumput yang bergoyang!" aku jawab asal.
...----------------...
__ADS_1