
"Tangan clamitan amat sih ya ampun!" aku gaplok tangan si Karla, dongkol hati aing.
"Reva, nanti tumpah nih minuman! kasar banget, sih? tangan main ngegaplok aja!" Karla balik ngomel dan masang muka teraniya.
"Kalau kamu mau kamu bisa ambil sendiri, jangan malah nyerobot punya aku!" aku ngurat bin ngotot.
"Orang Ridho nyodorinnya kesini, ya aku ambilah!" Karla ngebela diri, astaga nggak tau malu banget sumpeh nih perempuan.
"Astaga, kalian ini bisa tidak jangan ribut? ini mobil bukan pasar! sekali lagi saya dengar kalian berdua bertengkar, saya tidak segan-segan untuk menurunkan kalian di jalan!" ancam pak bos.
"Dasar clamitan!" lirihku sambil melayangkan tatapan mengintimidasi.
"Udah-udah, nih aku bukain lagi..." ucap Ridho. Cuma aku udah keburu kesel ama kelakuan si Karla ini.
"Dia yang mulai tau," aku ngomong pelan, Ridho cuma ngangguk aja.
"Minum-minum..." Ridho ngarahin mulut botol itu ke bibirku. Dan aku air pun segera meluncur membasahi kerongkonganku yang sakit habis nyemprot si Karla.
Lagian, awal-awalnya si Ridho perhatian pake banget sih sama nih manusia jelmaan lelembut. Jadi kan nih orang kepedean dan ngira kalau Ridho tuh suka sama dia, terus disini posisi aku malah seakan-akan jadi perusak hubungan orang. Padahal mah kan nggak, aku sama Ridho udah deket dari dulu. Dan kalau udah kayak gini gimana coba?
"Jangan ngelamun," ucap Ridho sambil ngambil minuman yang ada di tanganku dan meminumnya.
"Aku nggak ngelamun..." kataku.
Tapi lagi-lagi nih bungkusan nasi padang mendadak nyamber.
"Kamu mau cobain punya aku, Dho?" tanya Karla sambil nyodorin minuman dengan rasa jeruk.
"Jangan! itu kan bekas kokopannya dia, takut ada bakterinya! kalau mulut aku kan steril, jelas beda..." aku nyingkirin tuh botol dari depan Ridho.
"Tuh, kan Reva yang rese duluan, Dho!" Karla mulai ngadu.
"Aku mau tidur, pusing!" Ridho milih duduk leyehan.
"Kasian deh nggak dinotice!" aku ledekin Karla. Aku pun ikutan leyehan dan nyender di bahunya Ridho sedangkan Karla udah pasti mencak-mencak nggak karuan, bodo amat!
Karena nyamannya bobok disamping kangmas, aku pun jadi ngantuk dan ikutan molor.
Dan tau nggak sekarang aku lagi tiduran mendadak bangun karena mendengar suara orang memanggil namaku. Pas aku perhatikan sekeliling ternyata aku ada di sebuah kamar, entah milik siapa. Tapi aku kayak familiar dengan situasi kamar ini.
"Kenapa kamu ninggalin aku disana, Va!" ucap seorang wanita yang udah pasti aku kenal ini suaranya siapa.
"Mbak Sena? Mbaaaak?" aku panggil sambil mataku menelisik ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Kenapa kamu ninggalin aku, sementara kamu tau aku ada disana? kenapa kamu nggak bawa aku pulang, Va? kenapa?" ucap mbak Sena dengan suara yang begitu memilukan.
"Kamu dimana, Mbak?" aku panggil-panggil tapi mbak Sena nggak juga muncul.
"Mbaaaak? mbakkk Senaaaa!" aku teriak, dan seketika aku bangun dari tidurku dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Hhhh ... hhh...!"
"Revaaa! kamu kenapa, Va?" Ridho mengusap wajahku, dia panik.
"Dasar tukang ngelindur!" Karla nyeletuk.
Sedangkan aku masih loading, ya sekarang aku lagi di dalam mobil pak bos.
"Astaga, jadi yang tadi cuma mimpi?" gumamku, sambil ngeliat wajah Ridho.
"Makanya kalau mau tidur baca doa dulu..." ucap kangmas.
"Untung aja nggak aku sumpel mulut dia pakai botol!" celetuk Karla.
"Reva kenapa, Dho?" tanya pak bos.
"Ngelindur, Pak!" jawab Ridho.
"Oh, saya kira dia kesurupan! sebentar lagi kita sampai..." kata pak bos.
"Aku tanya pak Karan dulu," ucap Ridho.
"Pak, maaf ini bapak ngantar kami dulu atau bagaimana?" tanya Ridho pada pak bos.
"Ke kontrakan kalian!" jawab pak Karan.
Jujur aja aku udah nggak sabar pengen cepetan sampai dan ketemu sama mama. Setelah semua yang udah aku lalui dan sekarang aku bisa balik lagi ke kota ini bikin aku bener-bener dikasih kesempatan kedua buat hidup dengan lebih baik.
Ketika mobil udah sampai di pelataran kontrakan, hati aku makin deg-degan. Seaeorang sepertinya menyadari kedatangan kami, dan pintu perlahan terbuka.
Ridho keluar membuka pintu mobil, dia ulurin tangannya buat bantu aku buat turun. Mataku berkaca-kaca saat aku melihat mama dan Ravel keluar dari kontrakan diikuti Mona.
Kita semua udah keluar dari mobil, begitu juga Karla dan pak Karan. Ridho pegang tanganku dan ngajak aku buat jalan ngikutin dia.
Dan sekarang aku berdiri tepat di depan mamaku yang banjir air mata.
"Maaaaaahhh!" aku lepasin tangan Ridho dan menggapai tubuh mamaku.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kamu kembali, Sayang! kamu nggak tau seberapa takut mama kehilangan kamu, Sayang! ya Allah, anakku..." mama nangis sambil melukin aku.
"Hiks, maafin Reva, Mah! maafin Reva udah bikin mama khawatir!" aku ikutan nangis.
Dan sekarang aku menjarak tubuh aku dengan mama.
"Mbak?" Ravel ikutan mewek, dia peluk aku.
"Aku kira mbak bakalan nggak balik dan aku jadi anak mama satu-satunya, huaaaaa!" Ravel nangis tapi kok kata-katanya nalah bikin aku emosi, ya.
"Heh, kamu nyumpahin mbak koit apa gimana, dek?" aku malah sewot dan ketawa liat muka Ravel yang polos banget.
"Mbak Reva! akhirnya mbak kembali juga..." sekarang Mona yang peluk aku sekilas.
"Mah, kenalin ini Ridho, ini Karla dan yang disana bos aku namanya pak Karan..." aku otomatis ngenalin orang yang ada disekitar aku.
"Kalau Ridho mama sudah kenal, kan mama tau kamu ilang juga dari Ridho, pacar kamu..." jawab mama.
"Hah? pacar?" aku natap mama bingung, sekarang aku liat Ridho dia malah cengar-cengir nggak jelas.
"Iya pacar. Oh ya Nak Karla terima kasih ya sudah membantu menemukan anak saya, Reva. Anak ini memang suka sekali merepotkan orang..." ucap mama.
"Iya Tante sama-sama..." jawab Karla dengan senyum terpaksa.
"Sudah, sudah sekarang kita semua masuk. Mama sudah masak untuk kita semua..." kata mama ngajak aku buat masuk.
"Bentar, Mah..." aku berhenti dan ngelepasin tangan mama.
Aku jalan mendekati pak bos yang berdiri di depan mobil.
"Pak, emh ... sebaiknya kita masuk dulu, Pak. Bapak pasti capek setelah sekian jam perjalanan. Kita makan siang dulu..." kataku.
"Pamali nolak rejeki loh, Pak..." ucapku lagi.
"Baiklah!" ucap pak bos.
"Devan! ikutlah makan dengan kami, kamu pasti sudah lapar..." ucap pak bos pada orang kepercayaannya.
"Baik, Tuan!" jawab Devan yang mengunci mobilnya.
Aku dan pak Karan jalan mendekat pada orang-orang yang lagi ngegerombol di depan pintu.
"Mah, kenalin ini pak Karan Perkasa. Ehm, beliau pemilik perusahaan tempat Reva bekerja..." kataku memperkenalkan pak Karan.
__ADS_1
"Perkenalkan saya..." ucap pak Karan terhenti sesaat.
...----------------...